Torehan Puisi Grafis Hauritsa

Des/M-4
05/1/2019 23:40
Torehan Puisi Grafis Hauritsa
(MI/DESPIAN NURHIDAYAT)

JIKA sebuah pameran biasanya diperlihatkan lukisan maupun instalasi yang memiliki bentuk, entah abstrak maupun realistis, Hauritsa malah membuat sebuah pameran tunggal yang berisikan tumpukkan kata dengan makna mendalam. Tentu saja tampilan puisi ini dikemas dalam sebuah bentuk seni grafis yang menyempurnakan kata tersebut sehingga ia berani ­menyebut ini sebagai puisi tapi grafis.

Pameran yang berlangsung dari 22 Desember 2018 hingga 15 Januari 2019 di Gudskul, Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini diberi judul Pameran Tunggal Hauritsa, perupa kelahir­an Jakarta pada 1977. Karya dari ­Hauritsa ini berjumlah delapan buah instalasi puisi tapi grafis. Di­sajikan dalam sebuah kontainer, pameran ini tentunya mempunyai daya tarik tersendiri bagi para penikmat ­pameran yang ingin berkunjung.

Pada saat pertama melangkahkan kaki ke Gudskul, mungkin hal pertama yang akan terpikirkan ialah tempat nongkrong mirip gudang, tak seperti tempat pameran biasanya yang menggunakan gedung mewah maupun gedung kesenian, Hauritsa malah memilih kontainer sebagai media untuk menampung hasil karyanya.

Pada bagian luar, ada sebuah botol yang memiliki sebuah kalimat “lampu sudah padam tapi..” dan di belakang botol tersebut sampai ke dinding kontainer, terdapat cat merah seperti bayangan botol ini yang menempel pada dinding kontainer dan tentunya berisikan kata “bayangannya masih ada”.

Pertama melihat instalasi ini, tentunya rasa kagumlah yang ada dalam benak. Betapa menariknya sebuah intalasi rupa ini dan bisa berbentuk seperti ini. Beralih ke bagian dalam kontainer, pengunjung nantinya mendapati sebuah mug yang biasa digunakan untuk menegak bir yang berisikan teh yang telah berbuih layaknya bir.

Di sekeliling mug ini terdapat sebuah kata-kata “Segelas bir belum tentu memabukkanku, tapi segelas teh yang kamu seduh... Pasti me­mabukkanku,”. Instalasi ini diberi judul segelas teh yang kau seduh disertai tahun pembuatan yang ia sematkan, yaitu 2018.

Pada instalasi bagian dalam, Hauritsa rupanya lebih memilih metode romansa agar para pengunjungnya merasakan tergoda dengan kata-kata gombal pada intalasi buatannya. Seperti pada instalasi yang berjudul Selesaikan Sendiri. Hauritsa membuat sebuah balon dialog yang berisikan kata-kata “Mungkin sebaiknya aku sisakan sedikit akhir cerita ini buat sendiri. Selebihnya, akan aku bagi. Atau, kamu saja yang menyelesaikan sendiri.”

Hal menarik dari instalasi ini ialah di bawah balon dialog tersebut, Hauritsa menumpukkan tumpukkan huruf sehingga terbentuk sebuah pengertian bahwa selesaikan sendiri yang dimaksud olehnya mengarah pada tumpukan huruf di bawah kalimat yang berada dalam balon dialog tersebut.

Rasa penasaran mungkin akan tersemat di kepala para pengunjung jika mendatangi pameran ini. Pasalnya, pameran ini tak dijaga siapa pun dan akan sulit untuk bertanya mengenai proses kreatif di balik pembuatan instalasi ini. Namun, tak perlu khawatir karena Hauritsa menempelkan sebuah pengantar dari kuratornya, yaitu Leonhard Bartolomeus, di bagian pintu masuk kontainer ini.

Dalam pengantar ini, Leonhard menuliskan mengenai keinginan Hauritsa untuk membuat sebuah pameran tunggal yang selalu ia lontarkan kepada Leonhard. Dalam perjalanan Hauritsa, selama 13 tahun ia menjelajahi sebuah bentuk medium rupa, Leonhard menyadari bahwa aspek yang paling menonjol dalam diri Hauritsa adanya penggunaan teks dan simbol sebagai elemen dari karya grafisnya.

“Kedekatan Hauritsa dengan teks ternyata bukan hal yang muncul tiba-tiba. Dalam ingatannya yang samar-samar, perkenalan dengan teks terutama bentuk puisi terjadi ketika ia masih di bangku sekolah dasar. Proses membaca dan memahami makna huruf, kata, dan kalimat menjadi sebuah hal yang menyenangkan.

Secara personal, Hauritsa juga merasa bahwa berkomunikasi dengan teks adalah cara yang nyaman untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Teks baginya pada saat itu, adalah sesuatu yang sangat intim,” ungkap Leonhard melalui tulisan pengantarnya.

Leonhard juga menuliskan bahwasanya bentuk seperti ini bukanlah hal yang baru dalam dunia seni rupa. Ia menyebutkan contoh karya-karya dari John Baldessari dan Lawrence Weiner yang secara total hanya menggunakan teks sebagai elemen utama karyanya. Leonhard juga mengatakan bahwa sudut pandang Kota Jakarta merupakan hal yang tersirat dari teks-teks dalam karya Hauritsa.

“Melihat-membaca gambar dan teks dalam pameran ini adalah ajakan untuk mengalami ingatan-ingatan dan gairah Hauritsa atas lika-liku hidupnya di Jakarta sebagai bayangan yang akan terus muncul. Meskipun lampu kota telah padam, meskipun kita hanya mengetuk layar ponsel dua kali, hingga tanda love muncul,” tutup Leonhard dalam tulisannya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya