Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 13 anak kecil menyuarakan oaeo lalala Oaeo lalala Oaeo lalala Oooo yang kemudian menggema di seluruh ruangan. Mereka sambil menarikan tarian-tarian tradisonal bercampur modern di atas panggung pada sebuah pertunjukan teater visual berjudul Help! di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (30/12/2018).
Pertunjukan ini merupakan hasil kerja sama yang dilakukan Balai Pustaka yang kebetulan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-100 dengan Teater Tanah Air yang dipimpin Jose Rizal Manua. Meskipun disutradarai Jose Rizal, nyatanya naskah dari pementasan ini ditulis sang legenda Putu Wijaya.
Anak-anak itu mengenakan kostum warna-warni, seperti merah, kuning, putih, biru, dan lainnya. Mereka menari dengan riang seturut dengan lagu yang mendengungkan perdamaian, mengenai menghentikan perang bersama, sama-sama memikul luka, dan banyak makna dari lagu awalan ini.
Lainnya yang tersaji pada awal pentas ialah bulan purnama superbesar yang ditembakkan dari layar proyektor ke arah backdrop. Penggunaan multimedia macam ini bisa dikatakan tengah populer dalam pementasan drama saat ini. Backdrop atau kain putih tersebut juga bergoyang-goyang seakan ada angin kencang yang sedang meniup kain tersebut, tapi bukanlah angin yang menggerakkan kain itu, melainkan orang-orang yang berada di belakang kain tersebutlah yang membuatnya bergerak bergelombang seakan tertiup angin.
Permasalahan pun dimulai dengan adanya dua robot yang memegang pistol dan menembak bulan tersebut sehingga bulan menghilang. Anak-anak tersebut sontak lari kalang kabut, sedangkan dua robot tersebut tertawa. Setelah itu, pertikaian antara anak-anak kecil dan robot pun dimulai. Pola tingkah lucu anak-anak ini membuat para penonton tertawa karena kepolosan mereka dalam bermain teater.
Setelah lama saling menyerang satu sama lain, dua robot tersebut pun akhirnya mengatur siasat dan menyekap anak-anak itu dalam plastik putih. Melihat hal ini, anak-anak lain yang tidak terperangkap meminta bantuan para penonton untuk membantu membebaskan teman-teman mereka. Para pemain pun turun dari atas panggung dan menghampiri para penonton untuk meminta mereka ikut ke atas panggung dan menolong teman-temannya. Berkat kerja sama dan gotong royong, akhirnya anak-anak yang terkurung bisa membebaskan diri.
Setelah bebas, anak-anak ini melumpuhkan dua orang robot tersebut dan melepas semua atribut robot mereka. Rupanya dua robot ini merupakan dua pelarian narapidana yang kabur dari penjara. Setelah tertangkap, dua orang narapidana ini pun masih saja berusaha kabur dengan berlari menuju kursi penonton. Namun, akhirnya para pemain tetap bisa menangkap mereka berdua. Setelah itu, lagu awal pun diulang dan pementasan ditutup dengan sangat manis pada hari itu.
Kolaborasi antara visual, tarian, dan musikal. Mungkin ini ialah inti keseluruhan dari pementasan Help!. Visualisasi yang mengandalkan lampu sorot berwarna merah, hijau, dan biru dipadukan dengan sangat ciamik dan menampilkan kesan layaknya menyaksikan sebuah aurora di atas langit. Selain itu, tarian-tarian yang tersaji dalam pementasan ini pun banyak unsur tradisional di dalamnya, seperti tarian Minang, tarian Betawi, Tortor, dan masih banyak lainnya, jika penonton jeli melihat koreografi para pemain saat menari.
Tak lengkap rasanya jika musik tak diapresiasi dalam pementasan ini. Musik yang hadir dalam pentas ini membuat kesan opera anak yang menarik. Selain lagu yang sederhana dan ear warming, musik yang tersaji pun sangat pas dimainkan, tidak kurang dan tidak berlebihan. Musik dibawakan dengan porsi yang cukup untuk mengisi keseimbangan pentas ini.
Prestasi
Help! sebetulnya bukan pertama kali dimainkan pada malam itu. Sebelumnya, pementasan Help! telah lebih dulu memenangi the best performance dalam ajang 15th World Festival of Children’s Theatre yang diadakan di Linger, Jerman, pada 22 hingga 29 Juni 2018. Jose Rizal selaku sutradara pun membagikan cerita mengenai pementasan yang telah berlangsung hari itu. “Sebetulnya ini kan kita siapkan untuk ajang lomba World Festival of Children’s Theatre di Jerman dan alhamdulillah bisa mendapatkan the best performance. Kita mengikuti festival dunia itu sebetulnya untuk membuat sejarah dan bukan untuk membuat pertunjukan bagus. Nah, bagaimana cara kita untuk menciptakannya sedemikian rupa agar ini betul-betul baru di dunia gitu.
Bentuk seperti ini, hampir tidak ada di teater dunia, biasanya kan teater dunia berupa musikal drama atau sandiwara. Nah, ini keluar dari pakem ini, bentuk visual ini merupakan bentuk yang segar di kalangan teater dunia,” ungkap Jose yang ditemui seusai pementasan.
Sang legenda Putu Wijaya pun tak lupa diberikan sebuah penghargaan pada malam itu. Putu Wijaya dianugerahkan sebuah bentuk sumbangsih sejumlah Rp25 juta dari BUMN atas kerja kerasnya dalam terus berkarya dan mengabdi di dunia perteateran Indonesia hingga saat ini. Meskipun Putu Wijaya saat ini mengalami kesulitan dalam berjalan dan selalu ditemani kursi roda dan keluarganya, ia tetap semangat untuk datang menonton pertunjukan Help! hari itu.
“Bang Putu Wijaya ini merupakan orang yang luar biasa bagi dunia teater Indonesia. Ia telah menghasilkan banyak karya, tidak hanya naskah saja, ada juga cerpen, novel, dan banyak yang sudah bang Putu hasilkan. Penghargaan ini atas bentuk rasa terima kasih kami atas kehadiran dan semangat Bang Putu untuk terus berkarya,” ungkap Achmad Fachrodji selaku Direktur Utama Balai Pustaka. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved