Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSEUM Slaskie, atau Silesian Museum, terletak tepat di tengah kota Katowice yang dikenal sebagai kota tambang batu bara di Polandia. Lokasinya berdekatan dengan Spodek Arena, tempat penyelenggaraan Konferensi Iklim PBB COP 24 pada awal Desember lalu. Cukup dengan 10 menit berjalan kaki. Tak heran, banyak peserta konferensi yang meluangkan waktu mengunjungi museum ini, termasuk Media Indonesia.
Didirikan pada 1929, museum ini mengalami masa suram saat Perang Dunia II. Bangunan yang waktu itu baru berdiri dirobohkan Nazi dan koleksi museum dibawa ke Bytom, sekitar 17 kilometer dari Katowice.
Pada 1981, museum direstorasi kembali di tempat semula, di tambang batu bara yang kemudian ditutup pada 1999 setelah beroperasi nyaris 180 tahun. Pada 2015, kompleks museum yang baru desain Riegler Riewe dari Austria itu secara resmi dibuka untuk umum.
Ketika mendatangi Museum Slaskie, yang terlihat pertama kali dari kejauhan ialah ujung menara bekas tambang. Menara ini dapat dinaiki pengunjung hanya pada saat musim panas, salah satunya karena alasan keselamatan. Jadi, saat Media Indonesia berkunjung pada awal musim dingin, hanya dapat mengagumi keindahan menara tersebut. Warnanya yang abu gelap tampak kontras di tengah salju yang mulai turun.
Selain menara, bagian lain yang dialihfungsikan ialah terowongan bawah tanah. Alih-alih kusam dan gelap layaknya kesan tambang batu bara, terowongan yang difungsikan sebagai galeri ini terlihat terang karena dinding atas museum terbuat dari kaca.
Beragam karya seniman dipamerkan di galeri museum. Lantai satu museum menampilkan lukisan era 1800-1939 dari nama-nama besar, seperti Piotr Michalowski, Wyspianski, Jan Mtejko, Jozef Chelmonski, dan Hasior. Patung-patung kontemporer juga dipajang di lantai ini.
Sejarah Upper Silesia
Turun satu lantai, terdapat di seksi Kopalnia Katowice yang menceritakan sejarah Silesia, tempat Katowice berada. Ada lorong gelap yang berisi baju-baju pekerja tambang yang digantung. Terlihat kumal dan kusam. Di bawahnya, menempel di dinding, terpatri gembok-gembok dengan rantai, membuat bertanya-tanya kegunaannya.
Perlengkapan yang digunakan para penambang juga dipajang dalam lemari kaca, termasuk replika mesin dan aneka mineral tambang.
Bagian ini juga memberi gambaran masyarakat kelas atas Katowice di masa lampau. Potret bangsawan Katowice terpampang, diiringi lantunan musik klasik. Di sisi lain, terdapat diorama sejumlah pria dan perempuan bercengkerama di kedai kopi. Sayup-sayup terdengar suara kereta api. Pengunjung juga dapat menikmati lukisan bernapaskan religi, seperti lukisan St Barbara (akhir abad 19), Coronation of Virgin Mary (1460-1470), Madonna with Child (1450), dan Tryptich with bishops (1510), yang menunjukkan besarnya pengaruh agama pada kehidupan masyarakat setempat, termasuk pada bidang kesenian.
Sejarah Upper Silesia ditampilkan dengan cara menarik. Informasi juga tersedia dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris. Menuju pintu keluar, ada toko suvenir dan kafe yang menyediakan aneka minuman dan kudapan. Hanya dengan tiket seharga 24 zloty, atau sekitar Rp91 ribu, sungguh tak rugi menghabiskan waktu di museum ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved