BIDASAN BAHASA Berpotensi Menyimpang

Adang Iskandar Redaktur Bahasa Media Indonesia
30/12/2018 07:00
BIDASAN BAHASA Berpotensi Menyimpang
(Dok. Pribadi)

LAGI-LAGI bencana alam menyapa bangsa ini. Setelah gempa di Lombok, Nusa Tenggara Timur, serta gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, baru-baru ini tepatnya pada 22 Desember 2018 tsunami yang dipicu aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau menghantam wilayah pesisir Selat Sunda, seperti Anyer dan Pandeglang di Provinsi Banten serta daerah pesisir Lampung Selatan di Provinsi Lampung. Ratusan korban jiwa pun berjatuhan.

Kalau kita mengamati pemberitaan soal bencana tsunami, ada sebuah kata kerja yang kerap muncul, terutama terkait dengan peringatan yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yakni berpotensi.

Berpotensi ialah kata turunan yang terbentuk dari kata dasar potensi (kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya) dan prefiks pembentuk kata kerja ber-.

Kita pernah mendengar ataupun membaca kalimat, misalnya Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Richter terjadi di Palu dan berpotensi tsunami. Maksud frasa berpotensi tsunami ialah memiliki kekuatan atau daya untuk memicu atau menimbulkan tsunami. Karena itu, akan lebih tepat apabila frasa itu berbunyi berpotensi memicu/menimbulkan tsunami.

Secara pribadi saya bisa memahami mengapa BMKG hanya menulis berpotensi tsunami. Hal itu terkait dengan kecepatan informasi yang perlu segera mereka disampaikan. Akan tetapi, ketika informasi itu disampaikan jurnalis sudah dalam bentuk tulisan berita, akan lebih tepat jika ditulis lengkap, misalnya Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Richter yang terjadi di Palu berpotensi memicu tsunami. Jika berupa judul, bisa ditulis Gempa di Palu Berpotensi Picu Tsunami.

Efek bencana tsunami ini ternyata juga menerpa kalangan jurnalis, yakni terkait dengan penggunaan kata berpotensi oleh mereka dalam penulisan berita selain perihal kebencanaan. Sayangnya, penggunaannya serampangan sehingga melanggar kaidah dan menimbulkan kejanggalan atau kerancuan. Contohnya dalam bidang olahraga sepak bola. Baru-baru ini, dalam sebuah pemberitaan media daring, editor berita sepak bola menulis judul Manchester City Berpotensi Digeser Chelsea. Sekilas tak ada yang aneh dengan judul itu.

Akan tetapi, kalau diperhatikan lagi penggunaan kata berpotensi di judul itu, baru terlihat kerancuannya. Akan sangat kontradiktif dan janggal ketika penggunaan kata berpotensi (mempunyai kekuatan; kesanggupan; daya) diikuti kata kerja pasif digeser. Si penulis tidak paham bahwa kata kerja tersebut akan menjadi berterima dan tepat jika digunakan dalam kalimat berstruktur aktif. Judul Manchester City Berpotensi Digeser Chelsea pun menjadi berterima ketika diubah menjadi kalimat aktif Chelsea Berpotensi Menggeser Manchester City. Mungkin, itulah salah satu alasan kenapa judul sebuah berita diutamakan berbentuk kalimat aktif.

Saya menjadi ingat pada tulisan saya sebelumnya mengenai kata berhasil. Pola kesalahannya juga sama, yakni kata berhasil diikuti kata kerja pasif dalam struktur kalimat pasif. Misalnya judul Manchester City Berhasil Digeser Chelsea, lalu siapa yang berhasil? Hal serupa pula yang menyimpangkan penggunaan kata berpotensi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya