Kesempurnaan dan Kejanggalan Makhluk

Despian Nurhidayat
30/12/2018 02:20
Kesempurnaan dan Kejanggalan Makhluk
(MI/Despian Nurhidayat)

LUKISAN dan gambar yang menampilkan wajah dan tubuh dengan pola yang mengingatkan pada aliran kubisme, mengisi Ruci Art Space, Kebayoran, Jakarta sejak Jumat (14/12). Meski begitu karya-karya berwarna hitam putih tersebut juga terasa lebih pop sekaligus abstrak karena beberapa bentuk yang ditampilkan lebih sederhana, naif, dan juga jenaka. Contohnya ialah lukisan-lukisan ikan dengan air yang mengingatkan pula pada lengkung benang kusut.

Itulah pameran bertajuk Interplay dari Abenk Alter. Sebanyak 62 lukisan yang dibuat di atas kanvas maupun gambar spidol di atas kertas, juga beberapa karya instalasi tersebut akan dipamerkan hingga 27 Januari 2019.

Pameran itu sekaligus menegaskan sisi petualangan seni Abenk yang sebelumnya merupakan vokalis grup musik Soulvibe. Abenk yang menyukai melukis sejak kecil memilih mundur dari grup musik yang melantunkan lagu Arti Hadirmu pada 2014, demi kiprah di bidang seni lukis.

Kurator Mia Maria menilai latar belakang Abenk yang unik termasuk tanpa formalitas sekolah seni menghasilkan karya yang unik. "Pendekatannya mentah, spontan, agak naif, disertai dengan kesadaran intelektualitas dan ekstrim," ungkap Mia Maria, Kamis (27/12).

Dalam pameran ini, Maria menganggap bahwa gambar-gambar Abenk penuh dengan simbol-simbol yang didefinisikan sebagai makhluk multidimensi. Seperti simbol hati, mata, burung, makhluk laut, robot, tanaman, api dan lainnya. Hal ini menunjukkan adanya pemahaman mengenai alam semesta yang dibentuk Abenk dalam setiap gambarnya.

Abenk yang mempelajari sufisme, membuat gambaran makluk yang telah melalui tahapan menuju kesempurnaan jiwa dengan memahami kesatuan makhluk yang berada di alam semesta.

"Dia adalah tipe orang yang merenungkan, menjadi bersemangat, ragu, mempertanyakan, menyimpulkan, dan hal ini akan terus berputar dalam dirinya. Tindakannya yang mempertanyakan diri sendiri membuatnya terus mencipta. Keinginannya untuk menemukan dan menyimpulkan merupakan sebuah motivasi untuk terus menciptakan karya seni. Dia akan terus menjelajahi medianya, gambarnya, kolase, kanvas, musik, dan bahan-bahan di sekelilingnya, seperti kain, logam, lampu, dan suara," lanjut Mia.

Sementara itu, Abenk menjelaskan jika karakter yang dibuat ialah hasil dari pengamatannya sehari-hari, sedangkan soal palet warna monokrom, merupakan caranya membingkai dalam kesederahanaan.

"Sederhana, cukup hanya dengan warna hitam dan putih; membiarkannya mengalir tanpa menentukan bentuk, warna, atau gaya tertentu. Ini adalah sesuatu yang selalu saya lakukan menerima begitu saja dan belum pernah dieksplorasi dengan serius sebelumnya. Dengan kembali ke yang lebih sederhana proses menggambar, eksplorasi sebenarnya menjadi tidak terbatas. Karena sederhana juga bisa berarti tanpa batas," tutup Abenk.

 

Negosiasi Cecil Mariani

Karya dengan dominasi warna hitam putih juga terlihat di di Galeri Kertas Studio Hanafi, Depok, Jawa Barat. Tidak sedikit gambar yang ditampilkan berupa bentuk tubuh yang janggal, bahkan tampak horor. Itulah pameran bertajuk Paralaks Fiksi yang menampilkan karya-karya Cecil Mariani. Dipamerkan sejak 8 Desember 2018, karya dari perempuan yang juga dosen seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu akan berlangsung hingga Januari 2019.

Mengacu pada tajuk pameran, tersirat jika coretan Cecil menyuarakan khayalan tentang eksplorasi bentuk tubuh. Nyatanya, dalam diskusi yang berlangsung Kamis (20/12), Cecil juga mengungkapkan jika karya tersebut juga merupakan bentuk pertanyaan dan cara pandangnya dalam melihat dunia realitas dan fiksi, termasuk dalam cara pandang terhadap konsep pameran itu sendiri.

"Paralaks Fiksi merupakan kerja dari kata benda 'pameran'. Pameran adalah salah satu praktek kita bersama di kesenian bersepakat untuk asyik tambal-menambal, menegosiasi sudut pandang dan merangkai fiksi-fiksi yang bocor seputar realitas. Fiksi-fiksi yang terproduksi dalam pameran adalah gejala dari kebocoran-bocor fiksi-fiksi yang lebih berkuasa," tuturnya.

Ia juga menjelaskan jika sudut pandang fiksi yang ditampilkan bukan berdasarkan narasi sastra, melainkan lebih kepada sistem operasi.

Geger Rianto, dosen filsafat Universitas Indonesia yang hadir sebagai pembicara, menilai sudut pandang Cecil sangat menarik.

Geger menganalogikan gambar Cecil dengan film alien, yang juga memiliki nuansa grotesque (penuh distorsi). Film alien yang membuat traumatis dan mempersoalkan tubuh semacam melumat, memutilasi, dan lainnya.

"Fiksi yang dibentuk oleh Cecil merupakan sebuah kenyataan yang bersahutan intim dengan tubuh dan diperlakukan olehnya bukan lagi sebagai keberadaan spektral, melainkan keberadaan konkret," ujarnya. Geger, melanjutkan bahwa ia menilai Cecil membawa perpaduan fiksi dan realitas yang unik karena bukan menampilkan kegagahan tubuh, melainkan karikatur.

Baginya pula pameran tersebut dapat menjadi pemantik bagi pengunjung agar nantinya bisa memunculkan sebuah sudut pandang yang baru. Sudut pandang itu bukan hanya terkait dengan tema yang diangkat di pameran tersebut, melainkan juga hal lainnya dalam kehidupan. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya