Aksi Lima Anak Generasi Z

Suryani Wandari Putri
30/12/2018 01:40
Aksi Lima Anak Generasi Z
(MI/Duta)

KUPON sayembara dalam kemasan produk susu Gizi mempertemukan lima anak ini. Mereka bernama Indrian, Araya, Sinartha, Dondot, dan Nelvia bertemu pertama kali lewat virtual atau video call untuk berdiskusi mengenai misinya menyelamatkan Dusun Ternak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dari kehancuran. Jika berhasil, mereka masing-masing akan mendapatkan beasiswa pendidikan senilai Rp500juta.

Kelima anak berbeda latar belakang ini bergabung menjadi anggota Tim Paling Gen Z (Tim Pahlawan Lingkungan Generasi Z) dalam pertunjukan teater musikal Aksi Genera Z produksi Alva Primero, Jumat (21/12) di Gedung Pusat Perfilman H Usamar Ismail, Jakarta. Teater Musikal ini merupakan media berkomunikasi dan ajang eksistensi komunitas Genera Z yang baru dibentuk 18 September 2018.

Pertunjukan ini menyoroti generasi Z atau generasi yang lahir antara 1995-2010 membuktikan mereka pun bisa berkembang melalui akting dan bernyanyi. Menurut Kak Alexander Vadimitra piminan produksi, pemeran dan kru yang terlibat kebanyakan berasal dari generasi Z lo. "Dengan naskah dan lagu orisinal dari Renata Tirta Kurniawan, Jerry Manuel, Elsye Bambang, Josef Radel Lopez, June Radel, dengan kru penata musik Noni Dju, kami berbagi pengetahuan tentang karakteristik dan aksi anak-anak genera Z yang dikemas lewat hiburan," kata Kak Vadim, sebutan akrabnya.

Tontonan ini bisa jadi pelajaran bagi keluarga lo sobat. Pasalnya, generasi Z dikaitkan dengan generasi yang tidak lepas gawai yang sering dianggap tidak baik. "Melek teknologi yang menjadi kebiasaan mereka mungkin bisa jadi positif bila diarahkan dengan benar oleh orangtuanya" kata sang penulis naskah dan sutradara yang juga sebagai Creator and Director, Renata Tirta Kurniawan.

Gambaran itu terlihat dari cerita teater. Perkenalan melalui digital, menjalankan misi menggunakan teknologi juga lo sobat, seperti menghitung luas dusun untuk membuat tempat ternak. Namun sobat, kepintaran kelima anak menggunakan teknologi justru menjadi masalah ketika digunakan dengan cara tak benar.

Kak Devilia, pihak dari susu Gizi yang mendampingi mereka selama di dusun ini justru punya rencana lain. Dihadapan ibu mereka, ia membawa pergi dan memaksa mereka ini menyebarkan isu #bebastanpamama, gerakan membenci mama kepada anak-anak seluruh dunia. Kak Devilia membuat isu ini karena ia membenci mamanya yang selalu mencampuri urusannya. Wah, jangan sampai kita benci perempuan yang melahirkan dan merawat kita ya sobat! Kelima anak ini melawan untuk tidak menyebarkan isu tak benar.

Perjalanan kelima anak ini pun seru lo, apalagi teater musikalnya dikemas dekat dengan dunia teknologi, mereka pun bertemu dengan masyarakat asli sana yang masih kental dengan budayanya. Cerita pun penuh haru, sedih, dan senang. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya