Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEJALANANNYA ke Singapura, Filipina, Jepang, India, Mesir, hingga Saudi Arabia dituliskannya dalam buku berjudul Outstanding Traveller. Namun, bukan perjalanan biasa, melainkan hasil kerja kerasnya melakukan riset sains, khususnya bidang matematika.
Ketekunan pemuda yang bernama lengkap Rifaldy Fajar ini membukakan banyak kesempatan menatap dunia. Berikut petikan wawancara Muda dengan alumnus Universitas Negeri Yogyakarta itu, yang saat ini menjadi peneliti di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Saudi Arabia.
Mengapa menyukai matematika?
Menyukai Matematika itu sejak awal kuliah. Sejujurnya waktu SMA malah lebih suka fisika dan mengikuti Olimpiade Fisika. Ketika kuliah saya sebenarnya lolos fisika, tetapi tidak lolos program studinya karena saya buta warna parsial.
Lalu, dapat rekomendasi pindah jurusan ke matematika nonpendidikan. Ya sudah, saya jalani dan akhirnya semester satu belum begitu dapat feel-nya. Meski demikian, saya harus memiliki motivasi dan saya harus bisa bangkit walau saya bukan di bidang fisika.
Akhirnya, saya mencari sense itu dan mulailah saya melakukan proyek-proyek. Dari situ mulai menyukai matematika dan mendalaminya. Inspirasinya datang dari diri sendiri dan melihat banyak sekali orang-orang yang luar biasa berkontribusi di bidang matematika.
Penelitian apa yang dilakukan saat awal kuliah?
Singkat cerita, saya itu iri dengan anak-anak bidang studi biologi, fisika, dan kimia yang jelas pengembangan proyek penelitiannya. Sementara itu, matematika seperti tidak memiliki ruang berkarya dan show off, ternyata matematika memiliki manfaat. Senior saya tidak ada sense ke arah situ. Mereka hanya kuliah. Akhirnya, saya melihat ke dosen-dosen saya, ada matematika ke energi, matematika ke transportasi, lalu matematika ke biologi atau kesehatan dengan riset-riset publikasi penelitian mereka.
Akhirnya, saya mencoba meminta ke salah satu dosen yang penelitian-penelitiannya menarik bagi saya. Saya menawarkan diri membantu proyek penelitian tersebut. Awalnya tugas saya masih administratif. Saya mulai belajar seperti pada 2015 sedang tren isu Ebola. Kebetulan dosen saya itu memublikasi ke arah sana mengenai bagaimana dinamik transmisi penyebaran Ebola. Meskipun saya tidak berkontribusi banyak, sebagai perawalan itu sangat susah dan saya memahaminya pelan-pelan. Dari situ, akhirnya publikasi pertama saya dan nama saya dicantumkan. Itu yang pertama Pemodelan Matematika tentang Ebola.
Apa yang ingin kamu kontribusikan lewat matematika?
Saya menyadari segala hal yang diberikan Tuhan harus dijalani. Sepertinya ini (matematika) ialah jalan bagi saya. Ketika saya mau menjalani itu selalu saja ada jalan yang Allah berikan. Mengenai kontribusi apa yang bisa saya berikan. Saya berpikir, di Indonesia kita masih memandang sebelah mata matematika. Ketika orang memiliki pandangan kontribusinya itu hanya angka. Padahal, kita bisa mengolaborasikan berbagai ilmu.
Alasan saya belajar dari luar negeri itu, saya merasa di sini bisa bermanfaat. Karena sistemnya sudah kuantitatif, saya yang berlatar belakang matematika dengan penelitian saya dalam fenomena biologi, saya bisa berkontribusi dan bekerja sama dengan orang-orang bidang biologi, kimia, dan fisika. Mereka paham bagaimana mentransmisikannya dan mendeskripsikannya. Sementara itu, saya bisa memodelkannya. Bagaimana membandingkan hasil eksperimen dengan hasil model itu memang yang terjadi saat ini di dunia. Sementara itu, di Indonesia fungsi ini belum digunakan.
Jadi, kontribusi saya ini ingin menjadi seorang science communicator dan menjadi peneliti dengan latar belakang matematika yang bisa ke beragam ranah dan lini. Kita bisa lihat di LIPI misalnya, belum ada yang khusus untuk matematika. Masih memerlukan yang computer science, tapi sebenarnya banyak orang bidang matematika yang lebih menguasai komputer jika dibandingkan dengan orang computer science itu sendiri. Saya ingin sekali menggalakkan hal itu dan menunjukkan matematika itu sangat berguna di beragam ranah dan bidang. Tidak sekadar menghitung angka. Saya ingin benar-benar berkontribusi sebagai peneliti.
Bisa ceritakan terkait dengan internship-mu sebagai peneliti di KAUST?
Dasar temanya Mathematics modelling of cellular programming atau Mathematic modelling of genetic regulator network. Pada intinya, di sini saya mengasuskan bagaimana pola perilaku dari sebuah genetik atau sel. Misal, satu buah sel itu akan berdefisiensi seperti apa dan akan memiliki tingkah pola laku yang seperti apa pada detik ke sekian. Aplikasi ini bisa ke berbagai macam bidang, terutama medis hingga institusi-institusi riset karena bisa memprediksi pergerakan dari sebuah sel atau gen.
Saya mengajukan aplikasi untuk mendaftar sebagai peneliti di sini. Proses seleksi sangat panjang. Diawali dengan mengajukan berkas, lalu wawancara dua kali dengan profesor dan pihak admission dari KAUST. Saya pun diuji dengan diberikan kasus-kasus yang harus diselesaikan dan dikirim dalam rentang waktu tertentu. Rencana intership ini 6 bulan, tapi kemungkinan akan diperpanjang.
Mengapa kamu mencintai dunia riset?
Lewat riset kita bisa menjawab apa yang menjadi problem dari bidang yang kita geluti. Orang/kelompok tertentu sehingga membantu studi-studi penemuan selanjutnya. Ini sangat berguna bagi masyarakat.
Kamu sering mengikuti konferensi internasional, konferensi mana yang paling berkesan?
Konferensi yang saya ikuti sebagian besar mengenai matematika terapan dan matematika di bidang biologi dan kesehatan. Semua konferensi buat saya berkesan karena bisa berbagi apa yang menjadi bidang keahlian kita kepada orang-orang yang ahli di bidangnya. Alhamdulillah juga bisa mengunjungi tempat yang belum dikunjungi sebelumnya. Namun, yang paling berkesan saat di Jepang dan itu berkat hasil penelitian.
Dari semua penghargaan yang diterima, mana yang paling berkesan?
Bagi saya semua award itu memiliki porsi perjuangannya masing-masing. Paling berkesan saat menjadi salah satu bagian dari Finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat nasional 2017. Itu seperti berbagai macam perjuangan dikumpulkan menjadi satu dan puncaknya bisa menjadi Mawapres Utama UNY hingga finalis tingkat nasional. Itu salah satu pencapaian yang luar biasa karena perjuangan ke situ tidak mudah. Memerlukan persiapan bertahun-tahun dan perjuangan yang berat. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu, tapi tugas kita berjuang dan berdoa.
Kemampuan seperti apa yang dibutuhkan menjadi peneliti berkualitas?
Berbicara mengenai skill, tentunya yang paling pertama untuk jadi seorang peneliti itu ialah kerja keras dan sungguh-sungguh ingin belajar. Tidak harus pintar karena pintar itu relatif. Orang itu dari yang tidak tahu bisa menjadi tahu. Yang namanya meneliti itu melakukan kesalahan ialah hal yang wajar, tapi dari berbagai proses itulah kita menjadi tahu.
Harus belajar memahami alat-alat yang menjadi bahan riset sesuai keilmuannya. Selain itu, seorang peneliti rajin dan kuat membaca hasil penelitian-penelitian yang sudah ada. Sering melalukan sharing atau bimbingan dengan yang sudah ahli dan dengan orang lain yang mau belajar. Satu lagi, harus jujur. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved