Seimbangkan dengan Tari Tradisi

(Zuq/M-1
23/12/2018 06:30
Seimbangkan dengan Tari Tradisi
(MI/BARRY FATHAHILLAH)

NAIK daunnya aksi dance cover juga diamati oleh koreografer dan pengamat tari, Yola Yulfianti dan Rosmala Sari Dewi. Keduanya melihat tarian grup K-pop memang dominan dijadikan dance cover karena tampilan yang menarik meski gerakan sederhana saja.

"Emang kalau tarian K-pop itu mudah untuk diikuti. Jadi, secara teknik itu enggak sulit. Mudah ditiru. Liat Youtube saja sudah bisa, enggak perlu teknik yang gimana-gimana," terang Yola.

Selain itu, menurut Yola, K-pop juga mempunyai kekhasan dalam bahasa tubuh yang menarik, seperti gaya menari dengan bahasa tubuh yang girly dan genit. Gerakannya memang simpel, tetapi bisa langsung tertanam dan melekat pada benak penontonnya.

Sementara itu, Rosmala menilai jika wajah ganteng dan cantik dari artis K-pop menambah popularitas tarian mereka dalam tren dance cover. Ini pula yang dinilai menumbuhkan sensasi layaknya artis di diri para pelaku dance cover.

Bagi Rosmala, hal tersebut tidak menjadi masalah. Sebagai bagian dari bentuk seni dan hiburan, tren ini wajar saja di kalangan masyarakat.

Meski begitu, ia juga menyarankan kepada para pelaku dance cover untuk juga mempelajari tari tradisi.

Kecintaan para anak muda pada dunia tari selayaknya juga disalurkan untuk mengenal tari-tari khas negeri sendiri. Dengan begitu, wawasan tari akan lebih luas dan juga dapat melahirkan karya-karya autentik baru.

Perluasan wawasan tari para pelaku dance cover juga penting diingat, menurut Rosmala, tren dance cover bisa cepat berganti. "Lebih mudah basic tradisi, masuk ke tarian mana saja itu pasti lebih gampang," pungkas Rosmala.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya