Kala Djaduk Meretas Bunyi lewat Fotografi

(AT/M-1)
23/12/2018 04:15
Kala Djaduk Meretas Bunyi lewat Fotografi
(ANTARA/ANDREAS FITRI ATMOKO)

DJADUK Ferianto selama ini lebih banyak dikenal sebagai komposer dan musikus. Namun, seniman serbabisa itu ternyata juga memendam kecintaan terhadap dunia fotografi.

Karya-karya foto Djaduk diperlihatkan dalam pameran di Bentara Budaya Yogyakarta pada 15-23 Desember 2018, yang bertajuk Meretas Bunyi. Pameran itu memamerkan beragam foto tentang kehidupan manusia sehari-hari, patung, hingga tekstur.

Perjalanan menjelajah pameran fotografi Meretas Bunyi diawali dengan foto wajah sosok lelaki berewok bertopi. Foto dalam bingkai berukuran sekitar 1,5 m x 1 meter terlihat mengekspos mata si objek.

Menurut Djaduk, sosok pria tersebut ialah seorang tukang parkir di Maumere, Papua. Di balik sosoknya yang terlihat garang, ada cerita menarik, yaitu ia pernah memiliki janggut hingga perut.

Ada 83 karya fotografi yang dipamerkan Djaduk, mulai peniup suling di tengah hutan, penabuh gendang, pembuat gong yang hanya terlihat kakinya, prajurit Lombok Abang, suasana panggung musik, suasana alam, suasana perkotaan, hingga aksi orang yang hendak naik kuda.

Dari semua fotonya, hanya satu yang dicetak berwarna, selebihnya dicetak hitam putih dan tidak ada foto yang diberi keterangan (caption). Menurut Djaduk, foto hitam putih dipilih karena membuat objek foto memiliki kekuatan misteri. Foto yang dipamerkan sengaja dibuat tanpa keterangan agar masing-masing orang bisa merdeka merasakan estetika dan menafsirkan foto tersebut, yang oleh Djaduk disebut ngeng.

"Saya cinta betul dengan hitam putih. Ada energi dan misteri yang berbeda dari hitam putih itu dibanding yang colour," kata Djaduk ketika dihubungi Media Indonesia, Kamis (20/12) sore. Pemimpin Kuaetnika itu mengatakan, setelah pameran fotografi ini selanjutnya ia akan membuat bukunya.

Doni Maulistya selaku kurator pameran fotografi Meretas Bunyi mengatakan, judul pameran Meretas Bunyi berasal dari istilah Djaduk ketika dirinya menemukan sesuatu, yang disebut ngeng. Ngeng ini ialah perpaduan antara rasa (roso) dan pikir.

"Melalui pameran ini, Djaduk ingin mengajak kita bertamasya," kata dia. "Tamasya mencari ngeng (puncak estetika dan penafsiran) masing-masing di tengah lautan gambar yang kita alami sehari-hari," pungkas dia.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya