Membawa Ketoprak dan Wayang Orang pada Kekinian

Despian Nurhidayat
23/12/2018 04:00
Membawa Ketoprak dan Wayang Orang pada Kekinian
(MI/ BARY FATHAHILAH)

Paguyuban Faboulous Fun Fearless Females memperingati Hari Ibu lewat penampilan ketoprak sementara Wayang Orang Kautaman menyuguhkan kisah Ramayana dengan teknologi multimedia.

SUASANA peperangan membuka pementasan ketoprak yang berlangsung di Auditorium TVRI, Jakarta, Rabu (19/12). Dalang (narator) perempuan (diperankan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik-Kemenkominfo

Niken Widiastuti) muncul dan mengungkapkan tentang dampak mengenaskan peperangan yang bukan hanya bisa merenggut nyawa manusia, melainkan juga nyawa bangsa.

Itulah pembukaan ketoprak dengan lakon Sri Huning Mustika Nusantara yang disutradari Agus Marsudi. "Pentas ini diadakan untuk memperingati Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember, dan menggelorakan semangat perempuan khususnya ibu-ibu untuk terus berkiprah di bidangnya masing masing untuk mendukung semangat membangun masyarakat dan bangsa," ungkap Agus yang juga suami Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, kepada Media Indonesia.

Para pemeran pementasan tersebut ialah para pejabat maupun pegawai Kemenkominfo serta para perempuan anggota Paguyuban Faboulous Fun Fearless Females (F4). Dalam daftar pemeran ada pula Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise. Sayang, pada pementasan itu keduanya tidak muncul.

Lebih lanjut, Agus mengungkapkan bahwa bentuk pergelaran ketoprak sengaja dipilih dengan tujuan untuk melestarikan seni budaya tradisi bangsa Indonesia.

Lakon Sri Huning yang naskahnya ditulis Axl Antora Abimanyu mengambil latar hubungan antara Kerajaan Bojonegoro dan Kerajaan Tuban. Lakon itu menceritakan pergolakan antara cinta dan bela negara. Kisah cinta Sri Huning dan Raden Wiratmoko tidak bisa berlanjut karena rencana-rencana pernikahan yang telah dibuat para pemimpin kerajaan.

Di penghujung lakon, Sri Huning terbunuh. Penuh dendam, Raden Wiratmoko lalu bertarung dengan pasukan Lamongan dan menyisakan Hendro Katong. Sayang, Wiyatmoko pun terbunuh Hendro Katong.

Di sisi lain, pementasan tersebut juga menghadirkan suasana segar dengan guyonan dari para pemain ketoprak senior. Pementasan ini pun memanfaatkan teknologi multimedia dengan baik.

Para pemain yang bukan berasal dari ranah teater dan kesenian pun terlihat cukup totalitas dalam memerankan peran mereka. Mereka sukses menanggalkan sejenak formalitas jabatan dan rutinitas keseharian.

"Saya mempersembahkan pementasan ini agar masyarakat tahu peran perempuan serta pengorbanannya dalam menjaga keutuhan negara," tutup Agus.

Ramayana masa kini

Pentas tradisi dengan sentuhan teknologi modern juga hadir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada Sabtu (15/12), Wayang Orang Kautaman mementaskan kisah Ramayana.

Bertajuk Smaratapa, kisah yang disuguhkan tidak jauh berbeda dengan kisah asli. Interpretasi ulang yang dibuat sang sutradara, Nanang Hape, tidak mengubah jalan cerita asli, tetapi lebih dalam sisi penggunaan teknologi multimedia yang mendukung cerita.

"Cerita yang saya bawakan ini merupakan kisah asli dari Ramayana. Akan tetapi saya interpretasikan ulang untuk kepentingan pementasan, atau dalam istilah kita namanya sanggit," ungkap Nanang.

Istilah sanggit sebetulnya sudah tak asing bagi para penggemar wayang. Sanggit diartikan sebagai ciri khas seseorang dalam membawakan cerita, dalang pasti memiliki perbedaan dalam menyajikan cerita meskipun cerita yang dibawakan sama. Nanang mengungkapkan tujuan tampilan modern yang dibuat ialah untuk mendekatkan pementasan itu dengan generasi muda.

"Saya ingin mendekatkan lagi wayang orang kepada masyarakat. Wayang orang kan sekarang bisa dibilang sudah agak dilupakan dan sangat jarang kita bisa melihat pementasan wayang orang. Nah, saya mencoba untuk menghadirkan kembali pementasan wayang orang dengan konsep yang menarik tentunya dan bisa menarik minat generasi muda," lanjutnya.

Meskipun kekinian, pementasan ini tetap mempertahankan tradisi di dalam pementasan wayang orang, yaitu penggunaan bahasa jawa.

Pementasan Smaratapa, menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bisa dipersatukan untuk memunculkan sebuah sajian yang menarik bagi generasi masa kini. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya