Berani Memulai Wujudkan Mimpi

Hilda Julaika
23/12/2018 00:00
Berani Memulai Wujudkan Mimpi
(DOK PRIBADI)

ANAK muda memiliki semangat juang yang tinggi. Tak heran bila mereka gemar menjajaki beragam aktivitas guna menemukan passion dalam hidupnya. Tak terkecuali Irvandias Sanjaya, yang memutuskan membangun sociopreneurship bernama Design for Dream.
Bersama timnya, Irvandias mempersiapkan konsep terkini yang akan diluncurkan tahun depan. Meski menghadapi tantangan, pemuda yang tengah menanti jadwal wisuda dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu siap menghadapi tantangan yang akan menerpa. Yuk ikuti wawancara Muda dengan Irvandias Sanjaya, di Jakarta, Selasa (18/12).

Apa sebenarnya Design for Dream?
Kami berdiri pada Juli 2017. Intinya kami ingin menjadi one stop solution services untuk teman-teman disabilitas. Fokus kami dalam ranah ekonomi dan empowerment seperti itu. Misalnya, terdapat teman-teman yang memiliki produk handycraft atau batik, kami akan bantu untuk menyambungkan kepada market. Ini didasarkan karena kebanyakan dari mereka masih fokus terhadap produksi.
Kami mengetuk pintu kepada perusahaan-perusahaan ataupun event-event tertentu. Kami siap menjadi penyambungnya karena teman-teman disabilitas tidak mengetahui harus menjual produknya ke mana. Kami memetakan produk-produk yang dihasilkan lalu menyambungkannya sesuai dengan pasar yang dibutuhkan.

Bagaimana proses pemasaran produk di Design for Dream?
Awalnya saya dan tim menggali masalah dan kebutuhan yang ada pada teman-teman disabilitas. Setelah mengetahui masalah mereka terkait market, kami mencari teman-teman yang memang memiliki produk. Setelah itu, melakukan beberapa assesment produk dan pasar. Kami lengkapi dengan kisaran harga dan hal-hal detail lainnya. Lalu, kami membuat MoU seperti kami hanya mengambil 20% dari total pendapatan produk yang dijual. Persentase 20% ini berfungsi untuk keberlanjutan operasional startup ini.

Sudah berapa disabilitas yang terlibat?
Kalau jumlah yang telah terlibat secara indirect sekitar 500 orang. Kalau secara direct sekitar 150-an. Mereka sebagian besar tinggal di komunitas atau panti asuhan di Pulau Jawa. Produknya macam-macam, seperti boneka kayu, handycraft, batik, hingga sandal hotel. Intinya saat ini kami menjemput bola terlebih dahulu baru ditawarkan ke pasar.

Misi utama dari Design for Dream?
Misi utamanya bagaimana kami meningkatkan penghasilan dari teman-teman disa­bilitas terkait produk yang mereka hasilkan. Selain itu, menempatkan produk sesuai yang market butuhkan. Karena sebelumnya pendapatan mereka tidak seberapa dan masih dijual secara offline.

Apa tantangan terbesar merintis Design for Dream?
Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana bisa menyeimbangkan antara idealisme dan realitas. Mungkin orang-orang awam akan bertanya seperti bagaimana bisa menghasilkan uang dari project seperti ini. Tapi intinya, bagaimana startup ini tetap berjalan, ada uang, dan tentunya impact-nya harus ada. Jadi, tantangannya menyeimbangkan antara uang dan impact.

Apa pendapatmu soal mendirikan startup saat muda?
Saya tidak mengelak pengalaman sangat dibutuhkan saat hendak membangun startup sendiri. Saya juga merasakan masih harus menambah jaring­an hingga mengurusi market. Sekarang role model yang bisa dicontoh itu banyak untuk anak muda, seperti Ruang Guru, Kitabisa.com. Menurut saya, ketika kita sudah berani membangun startup tersebut, maka dengan berjalannya waktu akan membuat kita semakin dewasa.
Saya pernah berdiskusi dengan founder dari Sale Stock. Menurutnya, dalam membangun startup itu dibutuhkan dua hal. Pertama, leadership skill. Artinya orang tersebut mampu memahami mindset bisnis. Kedua, paham isu yang diangkat. Kalau kamu belum memiliki kedua skill tersebut, lebih baik kamu kerja dulu. Namun, kalau salah satunya kamu punya, maka jalankanlah. Skill yang belum kamu kuasai bisa diakali dengan merekrut orang yang tepat.

Kamu pernah menulis buku Gen Re­silience, mengapa menulis buku itu?
Saya menulis buku karena saya memiliki beberapa pandangan yang sayang kalau hanya ada di dalam otak atau dibagikan saat menjadi pembicara saja. Menurut saya kertas adalah medium. Saya menulis buku bukan hanya untuk tujuan komersial saja, melainkan saya ingin memiliki publikasi secara tulisan. Selain itu, dengan menulis buku juga bisa menambah skill saya. Menurut saya, kalau saya hanya menyampaikan sesuatu di seminar-seminar belum tentu mereka mencatatnya, kan disayangkan. Berbeda kalau ditulis terdapat narasi di dalamnya. Saya selalu menargetkan apa pun dalam hidup saya. Saya menyelesaikan buku ini selama 6 bulan.

Saat mengisi seminar apa yang kamu bagikan?
Ada beberapa materi yang aku sampaikan seperti beasiswa karena saya juga seorang ‘beswan’. Kedua bisanya membahas mengenai startup juga. Lalu mengenai sociopreneurship memaparkan bagaimana kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia dari tataran bisnis. Sisanya terkait dengan public speaking hingga self development. Intinya berbagi dan memotivasi kepada adek-adek. (M-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya