Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGANET yang gemar mengulik-ulik info kesehatan di media sosial pasti telah familier dengan sosok Gia Pratama. Dokter muda ini memang aktif di media sosial, terutama Twitter. Di akunnya, @GiaPratamaMD, ia giat membagikan berbagai info kesehatan, termasuk pengalaman-pengalaman pribadinya saat menangani pasien.
Kepada Media Indonesia, Gia bercerita soal dunia kesehatan Indonesia dewasa ini, motivasinya berbagi, juga buku perdananya. Berikut petikan perbincangan dengan Gia, di Jakarta, Selasa (4/12).
Bagaimana kondisi kesehatan di Indonesia saat ini?
Indonesia mengalami pergeseran jenis penyakit. Dahulu, orang yang datang ke rumah sakit penyebabnya didominasi penyakit-penyakit infeksi, misalnya, tuberkulosis (Tb), demam berdarah, tifus, kolera, disentri, bahkan bisul. Sekarang tren penyakitnya bergeser ke penyakit-penyakit degeneratif dengan rasio rata-rata lebih dari 50%, seperti jantung, stroke, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan osteoporosis. Ini saya yakin dipengaruhi atau berhubungan erat dengan perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat kita.
Kebiasaan atau pola hidup seperti apa yang banyak menyumbang masalah kesehatan itu?
Kita dikelilingi makanan murah yang enak-enak sekali, sayangnya tidak ada gizinya. Kalori kosong, hanya gula dan tepung. Kebiasan lain seperti merokok, begadang, tidak cuci tangan sebelum makan, makan berlebihan yang asal kenyang, tidak suka sayur dan buah, tidak rutin olahraga, dan tidak sempat berjemur pagi karena orang sudah too hectic untuk bekerja.
Jadi, masyarakat kita belum sadar pentingnya menjaga kesehatan?
Sebagian kecil sudah, sudah banyak yang pintar dan banyak membaca juga. Namun, jujur, sebagian besar belum. Itu terlihat dari pasien-pasien yang datang setelah sakit dan penuh penyesalan, kenapa dahulu enggak jaga makan, kenapa dahulu saya begini dan begitu. Hal semacam ini sebenarnya bisa dicegah jika masyarakat dibekali pengetahuan cukup.
Apakah itu yang memotivasi Anda untuk berbagi ilmu dan pengalaman di media sosial?
Dahulu, saat saya hampir lulus dokter, saya dapat pesan dari guru saya, seorang konsulen penyakit dalam. Beliau bilang, “Gia, saat kamu jadi dokter, banyak orang akan menganggap kamu ‘dewa’. Pesan saya, pertama, jangan sombong. Kalau ada sebersit kesombongan, ingat muka saya, saya yang tahu bodoh-bodohnya kamu saat ujian.
Kedua, kalau dianggap dewa, jadilah dewa yang menyebarkan manfaat. Jadilah virus kebaikan yang menyebar dan menjangkiti banyak orang tanpa terbendung layaknya penyebaran virus.
Ketiga, tidak ada gunanya kamu menjadi dewa bila bahasamu hanya dimengerti dewa-dewa lainnya, berbahasalah manusia.”
Itu sebabnya Anda memakai bahasa populer?
Kalau ditanya apa alasannya, ya, karena ketiga hal itu yang mendasari saya untuk menyebarkan ilmu dengan bahasa yang bukan bahasa kedokteran sama sekali. Semua saya analogikan dengan apa yang ada di kehidupan sehari-hari dan ternyata relate dengan banyak orang dan di-retweet oleh mereka. Bahkan, waktu saya bahas soal ginjal di Twitter dibaca sampai 3 juta orang.
Oh ya, sejak kapan Anda aktif berbagi info di Twitter?
Saya mulai sharing ilmu di Twitter mulai tahun ini. Awalnya follower saya cuma 500 pada Januari 2018. Sekarang di Desember sudah 104 ribu. Lonjakannya dahsyat karena ilmu yang saya sharing menggunakan bahasa awam yang relate dengan kehidupan sehari-hari.
Apa itu juga jadi upaya Anda meluruskan informasi kesehatan yang kerap simpang siur?
Iya, itu salah satu tujuan saya. Namun, saya kurang suka dengan kata meluruskan. Saya lebih sreg dengan kata-kata mendiskusikan, karena beberapa hal yang dipercaya turun menurun juga ada benarnya. Misalnya, tentang tidur cepat. Orang zaman dulu tidur secepat mungkin dan bangun sepagi mungkin, ternyata itu yang paling sehat.
Kenapa begitu?
Jam 22.00 waktu setempat itu ialah maksimal harus tidur dan jam 04.00 untuk bangun karena saat itu nitrat sedang diproduksi tubuh banyak-banyaknya, badan manusia akan lebih segar. Anda bisa coba, seminggu saja, tidurnya sama-sama 6 jam. Yang pertama dengan tidur jam 24.00 bangun jam 06.00, selanjutnya tidur jam 21.00 dan bangun jam 03.00, akan tampak perbedaannya. Badan akan terasa lebih segar saat tidur jam 21.00 sampai jam 03.00.
Zaman dulu orang tidak mengerti kenapa pola tersebut bagus, tapi setelah saya baca, irama sirkadian manusia memang seperti itu, hormon melatonin memang sedang tinggi-tingginya jam 22.00, endorfin juga.
Ada unggahan Anda, soal rumah sakit jiwa, yang sempat dikritik. Bagaimana tanggapan Anda?
Saya sadari bahwa saya tidak mungkin disukai semua orang. Itu bukan tugas saya, itu tugasnya uang. Namun, ya masukan itu penting, walaupun sedih waktu itu saya disalahmengertikan. Saya share agar orang lain care, tapi ternyata penerimaannya berbeda sekali.
Itu jadi pelajaran untuk saya. Saya mengerti bahwa yang penting ternyata bukan apa yang saya ucapkan, tapi apa yang mereka rasakan dari apa yang saya ucapkan.
Pelajaran itu yang membuat tulisan saya berikutnya menjadi terus-menerus viral. Yang saya pikirkan sekarang ialah apa yang mereka rasakan setelah baca tulisan saya, bukan apa yang saya tulis.
Apa ada etika kedokteran yang terkait dengan berbagi info ini?
Etika kedokteran itu, kalau Anda sebut diagnosisnya, jangan sebutkan namanya. Kalau sebut nama, jangan sebut penyakitnya. Itu saja kode etiknya dan itu tidak pernah saya langgar.
Seberapa penting untuk para dokter berbagi soal kesehatan dengan cara kekinian?
Penting sekali. Pertama, karena kita tidak bisa lagi mengandalkan edukasi satu per satu ke pasien-pasien, apalagi untuk mencapai target kesehatan masyarakat secara nasional. Meskipun penyampaian one by one efektif, tapi tidak efisien.
Kedua, para dokterlah yang sanggup dan akan didengar masyarakat. Kalau bukan para dokter, siapa lagi? Saya senang di Twitter sudah banyak dokter-dokter yang dengan keahlian masing-masing sharing ilmu dengan gaya bahasa masing-masing.
Ada unggahan Anda soal kehamilan pada usia dini, juga keterbatasan akses kesehatan di daerah. Selain untuk direnungi masyarakat, apakah Anda berharap unggahan Anda itu bisa menarik atensi pemerintah?
Dua-duanya, untuk pemerintah dan juga untuk masyarakat. Pendidikan kesehatan seksual masih tabu di keluarga Indonesia, padahal pelajaran ini justru paling aman bila diajarkan orangtua jika dibandingkan dengan anak mencari tahu di tempat yang salah. Anak pasti akan cari tahu karena dia curious.
Bagi pemerintah, ini bisa jadi pertimbangan untuk membuat fasilitas kesehatan yang mumpuni di daerah, juga program-program yang bisa terakses masyarakat di pelosok negeri sehingga tidak terjadi pernikahan dini. Rahim wanita itu kekuatannya ada di rentang usia 20-35, jadi ada waktu 15 tahun untuk digunakan. Kalau digunakan kurang dari usia itu, risikonya macam-macam, bisa kanker, kista, miom, dan rahimnya bisa copot.
Apakah fasilitas pemerintah belum memadai?
Kondisi-kondisi di daerah memang berbeda sekali dengan di Ibu Kota. Anda akan kaget dengan fasilitas puskesmas kelurahan atau kecamatan yang ada di kota itu keren-keren, alat-alat dasar ada, komplet. Namun, semakin jauh dari Jakarta, semakin susah.
Kita dibantu RSUD-RSUD yang ada di setiap kabupaten. Yang saya alami dahulu di Garut, jumlah penduduknya besar, sekitar 2,5 juta, tapi RSUD cuma satu. Kebayang kan jumlah pasiennya seperti apa dan itu dahsyat sekali.
Soal sistem jaminan kesehatan nasional, sudahkah menjadi solusi layanan kesehatan yang baik?
Bagus dan sangat bisa. Memang masih banyak kekurangan, tapi kita bisa sempurnakan bersama karena yang paling menikmati JKN ini ialah masyarakat. Saya pernah bertemu tukang jualan yang tiba-tiba perutnya sakit, ternyata dia usus buntu yang sudah amat parah. Dia punya BPJS, akhirnya saya operasi dan tiga hari kemudian dia pulang. Zaman dahulu mana bisa seperti itu. Mau operasi harus DP (uang muka) dahulu. Jadi, manfaatnya (BPJS) amat dirasakan masyarakat. Sekarang, 60% di rumah sakit yang saya praktik ini ialah peserta BPJS, 20% asuransi, dan 20% yang bayar pribadi. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved