Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan, atau bahkan awam, telah lama mengetahui angkasa luar bukanlah tempat ramah bagi manusia.
Para astronaut terisolasi dari kehidupan sosial dalam waktu yang lama, berisiko terpapar oleh radiasi, dan harus terbiasa dengan pola makan yang tinggi dengan makanan beku dan kering. Dalam jangka panjang berada di angkasa luar tentu memberikan dampak pada psike dan fisik mereka.
Terkait dengan itu, baru-baru ini Program Penelitian Manusia Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan detail perubahan dalam tubuh astronaut pascakembali dari misi di angkasa luar.
Dalam riset itu NASA meneliti astronaut bernama Scott Kelly yang menghabiskan waktu satu tahun di International Space Station (ISS), atau dua kali lebih lama daripada astronaut lain.
Riset tersebut dilakukan untuk mempersiapkan misi mengirimkan manusia ke bulan dan Mars dalam jangka waktu lama.
Hasil penelitian
Secara umum NASA mengungkapkan masalah kesehatan astronaut setelah kembali dari angkasa luar terkait dengan lima hal, yaitu gravitasi, isolasi, lingkungan tertutup, radiasi ruang, dan jarak dari bumi.
Masalah gravitasi mungkin terdengar remeh. Namun, masalah itu dapat memengaruhi orientasi spasial astronaut, koordinasi mata dengan kepala, tangan dengan mata, dan keseimbangan, terlebih setelah mereka kembali ke bumi.
Selain itu, perbedaan gravitasi dapat memengaruhi tingkat kepadatan tulang, yaitu dapat berkurang hingga 1% per bulan. Padahal, tingkat kekeroposan tulang manula di bumi ialah 1,5% per tahun.
Masalah kepadatan tulang pun tidak dapat dipulihkan dengan rehabilitasi sehingga risiko patah tulang astronaut setelah kembali ke bumi lebih besar. Gravitasi nol juga membuat cairan di tubuh akan bergeser ke kepala dan menyebabkan masalah penglihatan.
Risiko kedua terkait dengan isolasi. Masalah yang mungkin muncul ialah penurunan suasana hati, kognisi, moral, atau interpersonal interaksi, dan gangguan tidur.
Selain itu, berada di ruang yang terisolasi dalam waktu lama dapat menimbulkan tingkat kebosanan akut yang dapat berefek pada gangguan komunikasi dan kesalahpahaman dengan anggota tim.
Risiko selanjutnya berkaitan dengan ruang tertutup. Masalah yang mungkin muncul ialah meningkatnya hormon stres dan perubahan sistem kekebalan tubuh, yang dapat menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap alergi atau penyakit lain.
Selanjutnya, risiko yang paling berbahaya ialah radiasi. Di ISS, astronaut menerima radiasi 10 kali lipat daripada manusia di bumi. Radiasi dapat merusak sistem saraf pusat, menyebabkan mual, muntah, anoreksia, kelelahan, serta meningkatkan risiko terkena penyakit jaringan degeneratif, seperti katarak, jantung, dan penyakit peredaran darah.
Dalam mengatasi masalah itu, NASA mengambil tindakan terhadap semua risiko dan mencoba meminimalkan atau mengurangi efek negatif pada tubuh manusia. Hasil misi satu tahun Kelly ini akan memberikan lebih banyak wawasan tentang efek tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama. NASA akan memastikan bahwa mereka telah menaklukkan masalah tersebut untuk memastikan perjalanan pulang yang aman ke bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved