Prakarsai Komunitas Selaras Alam

(*/M-3)
21/12/2018 23:45
Prakarsai Komunitas Selaras Alam
(MI/ROMMY PUJIANTO)

INGAT pepatah tua keladi, makin tua makin jadi? Akan tetapi, dalam artian positif. Mungkin itu yang bisa menggambarkan sosok Suardi Mahmud. Pensiunan guru yang berusia 75 tahun itu aktif dalam melakukan gerakan menyelaraskan alam dan manusia lewat komunitas yang digagasnya. Komunitas tersebut bernama Komunitas Selaras Alam yang berada di Nagari Lasi, Agam, Sumatra Barat.

Komunitas yang dirintisnya sejak 2009 itu memotivasi masyarakat menjaga kelestarian alam dengan menanam kopi di lereng Gunung Merapi. Di samping menjaga alam, kegiatan ini juga dapat meningkatkan penghasilan warga setempat.

Suardi terinspirasi membuat komunitas ini karena musim panas yang terlalu lama. Suhu yang panas itu membuat hutan di wilayah mereka kering, tidak hanya di wilayahnya, tapi juga wilayah sekitar. Tidak ingin terus-menerus terjadi di Nagari, ia pun tergerak. Awalnya, Suardi mulai dengan menanam kayu di hutan sebelum menanam kopi.

Saat ini tercatat 500 anggota komunitas dengan beragam aktivitas, di antaranya diskusi, pelatihan pertanian, pelestarian seni dan budaya, serta kajian dan bantuan hukum. Kegiatan itu difokuskan di rumah adat bercorak Minang, bernama Istana Rakyat, yang juga rumah pribadi Suardi. Rumah ini pun dijadikan tempat untuk anak-anak belajar dan melakukan pengajian.

"Istana Rakyat ini tempat untuk kumpul-kumpul petani. Ada pula kajian hukum untuk memberikan kesadaran hukum pada petani," ungkap Suardi.

Kajian
Menurut Suardi, kajian perlu dilakukan guna memecahkan masalah, misalnya, dana desa. Dalam dana itu ada hak petani untuk mendapatkan pelatihan dan pembibitan. Sadar akan hak itu, mereka pun menutut kepada kepala desa. Menurutnya, undang-undang mengenai pertanian sudah ada, tetapi peraturan daerah (perda) tingkat I dan II belum ada, seperti dalam menanggulangi adanya kekeringan. Di sinilah kajian lembaga hukum memegang peranannya.

Kegiatan lain seperti diskusi kerap dilakukan sekali tiap 15 hari. Baru-baru ini membahas mengenai Undang-Undang Desa. Di dalamnya terdapat pilihan jenis desa seperti Nagari di Sumbar, bedanya Desa Nagari menggunakan ketentuan sesuai kultur dan adat.

Di wilayah ini terdapat dua jenis hutan, hutan pemerintah dan hutan wilayah. Hutan wilayah termasuk hutan kaum atau masyarakat yang memilikinya. Untuk itu, Suardi dengan masyarakat setempat mencoba mengatur pelestariannya, dimulai dengan menanam kopi di hutan tepat di ketinggian 1.500 mdpl sehingga memang cocok untuk menanam kopi.

"Ada teman-teman yang menganjurkan untuk menanam kopi di sini. Penanaman pertama itu 35 ribu pohon dari teman-teman Walhi Aceh yang mendukung," ungkapnya.

Saat ini luas lahan tanaman kopi jenis arabika sudah mencapai 2 hektare, sebanyak 45 ribu batang pohon. Kopi di sini dijualnya langsung ke konsumen sehingga harganya bisa lebih tinggi jika dibandingkan dengan melalui tengkulak. Tempat pengolahannya dinamakan Bengkel Kopi Selaras Alam.

Biji kopi yang dipanen pun harus yang sudah berwarna merah sehingga panen bisa dilakukan dua minggu sekali. Kopi-kopi ini terserap dengan baik ke pasar dan sering kali kehabisan, sedangkan pasar masih membutuhkan.

Kesadaran
Melalui kegiatan itu, masyarakat mendapatkan peningkatan pendapatan. Bila sebelumnya hanya menjual sayuran, kini ada tambahan kopi. Tidak hanya itu, hutan pun lebih terpelihara dari sebelumnya dan masyarakat pun sadar menjaga kelestarian lingkungan.

Masyarakat pun diperkenalkan pertanian organik, seperti padi organik putih, merah, dan hitam. Sukses dengan tanaman, mereka pun sudah memiliki jaringan untuk memasarkannya ke supermarket. Para petani mengaku belajar dari sekolah lapangan dengan bimbingan melalui instruktur petani dan penyuluh pertanian.

"Melalui kegiatan ini, kita sadarkan sesama akan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan saat ini dihasilkan dari perjuangan para pahlawan sebelumnya. Maka kita pun setiap 17 Agustus melakukan upacara petani di sini," paparnya.

Ke depannya, Suardi tetap memiliki mimpi untuk mengembangkan Nagari lebih luas. Sebelumnya, sudah banyak anak-anak, pelajar, dan mahasiswa yang datang ke sini untuk belajar dari Padang atau Payakumbuh. Ke depannya, ia berharap, bisa menjadi kawasan ekowisata berbasis edukasi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya