Budaya Baru melalui Warung Dunsanak

Hilda Julaika
21/12/2018 23:30
Budaya Baru melalui Warung Dunsanak
(MI/ROMMY PUJIANTO)

DARI pagi suasana rumah Budi Rudianto sudah terlihat kesibukan. Sejumlah masakan tengah dipersiapkan dan dikemas. Semua nasi bungkus itu pun dibawa ke Warung Ikhlas Dunsanak.

Menariknya nasi bungkus yang dijual di warung ini terbilang murah. Sewajarnya satu bungkus nasi lengkap dengan lauknya dihargai Rp15 ribu, tapi di sini cukup membayar Rp2.000. Mengapa begitu? Sang pemilik Budi menjadikan warung nasi ini sebagai tempat memberikan kebaikan disertai pembelajaran untuk selalu memberi. Itulah mengapa para warga tetap membayar nasi bungkus ini.

Warung Dunsanak yang berarti persaudaraan ini sudah berjalan 5 tahun. Bahkan kini tidak semata warung makan, melalui program peduli nagari (PPN), usaha ini merambah ke pustakawan ikhlas hingga butik ikhlas.

"Meski harga tersebut tidak menutupi modal, tapi ada kawan-kawan donatur yang berdonasi. Misalnya, ada yang jual ayam lalu membagikan daging ayam. Ada pula yang berjualan beras, mendonasikan berasnya. Kenapa tidak digratiskan? Karena untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat agar tidak hanya menerima saja, tapi juga memberi," papar Budi.

Kagum
WArung ini pun berawal dari kekaguman pria yang bekerja sebagai dosen ini dan istrinya Meli Gus Fitri mengantarkan putra semata wayangnya Muhammad Ridho Rabbani ke sekolah. Pasangan ini merasa kagum terdapat orang-orang yang sudah bekerja pagi hari sekali. Seperti para pasukan pembersih di jalanan yang sudah bekerja di saat orang lain belum sarapan dan melakukan pekerjaan lain. Akhirnya mereka bersama anaknya tersebut membagikan nasi bungkus secara gratis.

Namun, saat kegiatan berbagi nasi bungkus berjalan 2 tahun, Ridho yang saat itu berusia 15 tahun harus dipanggil Tuhan karena sakit. Ridho pun terus berpesan agar kegiatan baik ini terus dijalankan. Dari sini Budi terus semangat dan terdorong untuk terus melakukan kebaikan.

Uniknya, mereka berjualan menggunakan mobil bak terbuka yang dimodifikasi. Mobil tersebut pun pemberian dari donatur di Jakarta. Setiap hari mereka bergantian jualan ke 5 lokasi yang berbeda di Padang. Mereka memilih tempat yang warganya sangat membutuhkan, di antaranya di permukiman para pemulung di daerah Pantai Jambak, Padang.

John sebagai salah satu warga Pantai Jambak mengaku sangat terbantu sekali lewat program Warung Ikhlas ini. Menurutnya, terutama saat cuaca sedang tidak bersahabat untuk melaut, lewat Warung Ikhlas bisa tetap makan dengan harga yang lebih terjangkau. Anak-anak jadi sudah mengetahui adanya kedatangan ini dan merasa senang.

"Dengan adanya Warung Ikhlas ini, kami bersyukur bisa ada yang membantu nelayan kami ini," tambahnya.

Kebiasaan baru
Melalui nasi bungkus ini tercipta kebiasaan hidup baru bagi masyarakat, yaitu budaya mengantre. Pasalnya, saat awal kedatangan mobil Warung Ikhlas ini, masyarakat tampak berebutan yang berujung pertengkaran antarwarga. Lama-kelamaan mulai terbiasa untuk mengantre dan bertoleransi dengan sesama.

Selain ada Warung Ikhlas, terdapat pula Pustakawan Ikhlas. Program ini dikhususkan untuk anak-anak. Mereka disediakan sejumlah buku untuk dibaca dan terdapat relawan yang membimbing anak-anak tersebut. Terdapat pula beberapa reading corner dan kegiatan literasinya. Buku-buku ini berasal dari donatur pula.

Ada pula Butik Ikhlas yang menjual baju-baju hasil pemberian yang dibuka setiap 2 bulan sekali. Awalnya baju-baju yang disediakan merupakan baju-baju bekas. Kini, sudah ada donatur yang memiliki butik yang berdonasi pakaian.

Budi pun kerap berdiskusi dengan masyarakat mengenai kebutuhan mereka. Misalnya, mengumpulkan Rp2.000 guna memberikan pakaian panjang bagi nelayan yang melaut karena lebih sering dan mudah terpapar sinar matahari. Dari uang-uang yang terkumpul Budi belanjakan pakaian-pakaian sesuai kebutuhan.

"Program lainnya pun ada semacam pelatihan, meski bentuknya berupa insidental. Pelatihan tersebut, misalnya, pelatihan membuat peyek, onde-onde, hingga pengolahan bahan makanan dari ikan," tambah Budi.

Para relawan yang terlibat masih orang dekat dengan Budi, seperti keluarga dan tetangga. Ke depan, Budi ingin tetap membangun jiwa dan karakter lewat pengembangan aktivitasnya ini. Nilai-nilai utama yang ingin dibagikan terutama kepada anak-anak ialah untuk membiasakan diri berbuat baik. Memberikan penyadaran kepada para warga bahwa bukan sekadar take and give (memberi dan menerima), melainkan juga give and give (memberi dan memberi).

"Yang kedua, dunsanaknya itu atau persaudaraannya itu. Bahasa nasi bungkus adalah simbol perdamaian. Buku adalah simbol persaudaraan. Pakaian juga sebagai simbol bahwa kami juga sama dengan kalian," tutupnya. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya