Kitorang Mendaki Piaynemo

Teguh Nirwahyudi
16/12/2018 07:35
Kitorang Mendaki Piaynemo
(MI/TEGUH NIRWAHYUDI)

Pastikan stamina tetap segar demi mendapatkan pemandangan ciamik Little Raja Ampat.

PESAWAT Garuda Indonesia yang terbang nonstop dari Jakarta menjejakkan roda-rodanya di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua Barat, pukul 06.30 WIT, Jumat (30/11).

Saya bersama ratusan orang antre keluar bandara yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 1 Mei 2016 itu. Kebanyakan dari kami masih berwajah lelah, separuh mengantuk. Wajar saja, di Jakarta pada waktu tersebut, matahari pun baru mulai bersiap-siap terbit.

Namun, di sini, matahari telah tampak. Langit pagi terlihat cerah, secerah wajah saya yang mulai ditinggalkan kantuk, seiring keasyikkan memandangi pemandangan jalanan Kota Sorong yang mulai ramai.

Di kota terbesar di Papua Barat itu mudah sekali berpapasan dengan pelancong domestik maupun mancanegara. Rata-rata ingin cuci mata ke Kabupaten Raja Ampat dan menikmati eksotisme gugusan pulau karang atau objek wisata bawah laut.

Raja Ampat memang dikenal memiliki banyak spot penyelaman menarik. Perairan di wilayah tersebut digadang-gadang sebagai satu dari 10 spot diving site terbaik di dunia. Bahkan, mungkin nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah lautnya.

Ahli karang Australia, John Veron, menyebut Raja Ampat sebagai kawasan karang terbaik di Indonesia. Paling tidak, ada 400 lebih jenis karang yang sudah diidentifikasi di sana.

Secara geografis, Kabupaten Raja Ampat berlokasi di ujung paling barat Papua atau sekitar 50 mil sebelah barat Laut Sorong. Kabupaten itu terdiri atas empat pulau besar, yakni Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool, dan pulau-pulau kecil. Dari dua ribuan pulau, hanya 35 yang berpenghuni, sebagian besar pun belum bernama. Waigeo merupakan pulau terbesar. Di sanalah lokasi Kota Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat.

"Semua pulau di Raja Ampat menjadi tujuan pelancong yang hobi menyelam. Mereka terkesan sekali dengan kemolekan panorama alam bawah lautnya," kata pemandu wisata dari JJR4, Ervina, kepada Media Indonesia, keesokan harinya.

Perjalanan ke Raja Ampat bisa menggunakan pesawat Jakarta-Sorong dengan waktu tempuh empat jam, bisa juga dari Bali via Makassar atau Ambon dan Manado sekitar enam jam penerbangan. Sesampai di Sorong, tinggal pilih bagian mana dari Raja Ampat yang mau diubek-ubek.

Salah satu destinasi di Raja Ampat yang membetot hati pelancong ialah Kepulauan Wayag. Wayag merupakan kumpulan karst yang menjulang di tengah lautan. Wayag terkenal ke berbagai belahan dunia dan menjadi ikon Raja Ampat karena film dan gambar-gambarnya acap menghiasi layar kaca maupun buklet pariwisata.

"Naik perahu bermotor menuju Wayag sekitar lima jam dari Sorong. Wisatawan asing biasa menyewa pinisi, lalu mereka menyelam di beberapa area tertentu," ujar Ervina yang mendampingi rombongan peserta diskusi kelompok terbatas Bank Indonesia tersebut.

Akan tetapi, ada juga wisatawan yang tidak memilih Wayag sebagai tujuan mereka, tapi ke Bukit Piaynemo. Biasanya karena keterbatasan waktu.

Untuk sampai ke bukit di Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, itu kita bisa berangkat dari Sorong atau Waisai dengan waktu tempuh sama-sama dua jam. Pesona gugusan pulau karang di Piaynemo sepintas mirip Wayag.

"Kami menamainya Little Raja Ampat karena karst di Piaynemo tidak semenjulang seperti di Wayag," lanjut Ervina.

Penamaan Piaynemo memiliki kisah unik. Ervina membeberkan, "Orang-orang Biak memberi nama Piaynemo yang bermakna menyambungnya bagian kepala tombak dengan gagangnya. Tampak dari jauh gugusan pulau-pulau itu seperti terpisah menjadi tiga bagian. Di kejauhan pun bagian ujung pulau mirip mata tombak, kian dekat baru menyatu."

Pastikan stamina Anda masih segar setibanya di Piaynemo karena untuk mendapatkan pemandangan Little Raja Ampat yang ciamik, kita harus melihatnya dari ketinggian bukit. Artinya, kita bakal memeras keringat menapaki 300-an anak tangga kayu yang diperbarui setahun lalu itu.

"Hup. kitorang mendaki!" seru seorang pelancong perempuan setengah berlari berebut anak tangga dengan dua rekannya.

"Wah, aku ambil napas dulu," timpal si teman sambil bersandar ke salah satu sisi tangga.

"Tolong, kakak-kakak tidak membuang botol air mineral atau bungkus makanan di sepanjang tangga ini," ucap Valen, rekan Ervina dari JJR4, mengingatkan para pelancong yang sebagian besar remaja tersebut.

Di puncak Piaynemo, kelelahan Anda terbayar tunai oleh sajian panorama molek belasan karst yang menyembul di atas permukaan laut. Dari balkon, pandangan kita lepas menyapu satu per satu karst yang letaknya tidak berjauhan satu sama lain.

"Pengunjung sebaiknya bergantian naik ke balkon untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan. Enggak asyik desak-desakan," saran Valen.

Sauwandarek

Tidak afdal rasanya menginjak Raja Ampat tanpa bermain air. Oleh sebab itu, ketika matahari tepat di atas ubun-ubun dan bukit Piaynemo kian ramai, saya dan rombongan pun beralih tujuan.

Kini, saatnya menyelam melihat ikan berwarna-warni di antara tiang-tiang dermaga kayu di Kampung Sauwandarek. Kampung itu berada di Pulau Mansuar, sekitar sejam naik boat dari bukit karst.

"Sebelum menyelam, perhatikan kondisi tubuh, pakai rompi pelampung, dan alat pernapasan. Yang pasti, Anda harus bisa berenang," tutur Ervina menyemangati anggota rombongan.

Kampung Sauwandarek merupakan spot penyelaman yang patut dipertimbangkan jika Anda bertandang ke Raja Ampat. Tiang-tiang dermaga yang ditumbuhi karang hidup menambah kesan asri panorama bawah laut. Dermaga ini pula yang menjadi rumah berbagai jenis ikan. "Jangan lupa membawa roti tawar untuk makan ikan-ikan. Ketika Anda menaburkan remah-remah roti ke permukaan air, ikan-ikan langsung datang mengerubuti," jelas Ervina.

Kampung Sauwandarek pun dikenal sebagai tempat pembuatan noken. Di sanalah Komunitas Mamak Noken, yakni ibu-ibu perajin noken Raja Ampat berkarya. Saya pun asyik memilih satu-dua noken sembari menunggu teman-teman yang pergi menyelam.

Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di sana. Kondisi dermaga tidak memungkinkan banyak boat bersandar dalam satu waktu. Alhasil, kami harus bergantian dengan boat turis lain yang hendak bertandang ke kampung tersebut.

"Ya, semoga pemerintah daerah segera memperbaiki dermaga di Kampung Sauwandarek ini karena kayu-kayunya mulai lapuk. Kalau sudah diperkukuh, tentu akan lebih banyak boat yang bisa sandar sehingga lebih banyak pengunjung," ujar Ervina di atas boat yang melaju pulang ke Waisai, tempat malam terakhir kami di Raja Ampat. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya