Cuci Perigi Pusaka Lonthoir Tradisi 10 Tahunan

Hamdi Jempot
16/12/2018 05:40
Cuci Perigi Pusaka Lonthoir Tradisi 10 Tahunan
(EBET)

Selain kuat kesakralan dan nilai religi, cuci perigi pusaka juga dapat merawat persaudaraan yang ikut dalam ritual ini.

WARGA Negeri Lonthoir, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), menggelar tradisi adat cuci perigi pusaka pada Rabu (14/10). Cuci perigi atau sumur pusaka ini dibuka Gubernur Maluku Said Assagaff. Puluhan ribu orang berduyun-duyun menyaksikan tradisi adat yang digelar 10 tahun sekali itu.

Sebelum acara benar-benar dimulai, ritual mengarak belang darat oleh 99 pria dan tarian cakalele dari rumah adat Lonthoir ke perigi pusaka dijalankan. Para pria itulah yang akan membersihkan perigi pusaka itu. Para pria yang mengikat kepala kain warna kuning pun masuk ke sumur yang dalamnya sekitar empat meter itu.

Warga langsung membersihkan air di dalam perigi itu. Dengan diiringi musik kabata, menggunakan bahasa adat dan irama tifa, puluhan warga membersihkan perigi dengan menimba air.

Proses membuang air dari dalam perigi berlangsung sekitar 2 jam. Di tengah proses membuang air, puluhan pria dan perempuan penari cakalele asal Negeri Kampung Baru, gandong atau adik Negeri Lonthoir masuk ke areal perigi. Mereka juga ikut bersama cuci perigi pusaka ini.

Saat prosesi cuci perigi berlangsung, sejumlah orang menyiram dan menggosok wajah dan tubuh warga dengan air bercampur lumpur serta tanah dari dalam perigi. Meski disiram dengan air kotor dan tanah lumpur, warga tidak merasa gatal. Warga bahkan berebutan air kotor dari dalam perigi itu untuk sekadar dibawa pulang dan menyiram tubuh mereka.

Setelah air di dalam perigi pusaka benar-benar kering, pasukan cakalele kemudian menjemput kain gajah dari rumah adat. Kain gajah dengan panjang 99 meter itu diantar warga ke perigi pusaka. Kain gajah berwarna putih itu kemudian dimasukkan ke dalam perigi pusaka dan digunakan untuk membilas hingga kering di dalam perigi.

Bahasa tanah

Selama proses membersihan air lumpur dan becek dengan kain gajah hingga kering, sejumlah orang membawakan tarian siamali negeri lonthoir. Mereka melantungkan kabata, bahasa tanah. Setelah bersih, kain gajah kemudian ditarik dan dibawa ribuan kaum perempuan ke pantai Negeri Lonthoir. Setelah sampai, kain gajah kemudian dibersihkan lagi. Prosesi cuci perigi ini berlangsung saat air laut surut agar saat air pasang, air di perigi pun kembali banyak lagi dan bersih.

Cuci Perigi Pusaka Lonthoir mengingatkan warga akan penyebaran Islam di Lonthoir. Kala itu, sejumlah ulama penyebar Islam dari Timur Tengah mencari air wudu saat hendak menunaikan salat. Tiba-tiba seekor kuncing muncul dari semak-semak. Nah kuncing yang muncul itu ternyata ada sumber mata air, yang kemudian menjadi perigi pusaka ini. Padahal, lokasi air ini berada di ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut dan Negeri Lonthoir ini tidak ada mata air.

Ketua Panitia Cuci Perigi Pusaka Hidayat Yusuf mengungkapkan, selain untuk membersihkan perigi, cuci perigi pusaka ini dimaknai untuk pensucian diri warga dan negeri. "Cuci perigi pusaka ini digelar setiap 10 tahun sekali. Tujuannya tentu untuk membersihkan perigi dan juga menyucikan warga dan negeri dari kotoran," kata Hidayat.

Dimakan perigi pusaka, salah satu keistimewaannya ialah air perigi tidak pernah kering meski musim kemarau berkepanjangan. Air perigi juga sehat diminum tanpa dimasak. Bahkan, menurut warga, rasa air dari perigi pusaka ini sama seperti air zamzam dari tanah suci Mekah.

Selain kuat kesakralan dan nilai religi, cuci perigi pusaka juga dapat merawat persaudaraan karena melibatkan warga lainnya terutama warga Kampung Baru dan marga Silawane dari Tehoru, Maluku Tengah, yang ikut dalam ritual ini.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengapresiasi tradisi adat cuci perigi ini. Ia mengajak masyarakat banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan beterima kasih kepada para leluhur karena menjalankan tradisi cuci perigi pusaka ini sejak zamannya.

"Mari kita semua, masyarakat harus banyak-banyak bersyukur karena Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa memberikan sumber daya alam yang berlimpah, di antaranya perigi pusaka ini. Kita juga harus berterima kasih kepada para leluhur, orangtua kita yang sudah menjalankan tradisi cuci perigi pusaka ini secara turun-temurun," kata Assagaff.

Dia juga meminta agar tradisi ini terus dijaga untuk warisan generasi mendatang. Ajang cuci perigi pusaka ini juga menjadi ajang promosi pariwisata Banda Naira, Maluku, dan Indonesia. Karena selain disaksikan warga Banda, warga luar Maluku lainnya serta wisatawan mancanegara.

"Kami harapkan ke depan Dinas Pariwisata Maluku bisa menata lebih baik lagi kegiatan ini sehingga bisa dijual untuk pengembangan potensi wisata Banda," kata Gubernur Assagaff. Cuci perigi pusaka ini merupakan rangkaian Pesta Rakyat Banda 2018. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya