Bencana Jangan Menjadi Pemisah

Suryani Wandari Putri
16/12/2018 02:35
Bencana Jangan Menjadi Pemisah
(MI/Duta)

WAJAH harap cemas terlihat dari keluarga ini. Mereka duduk di lantai terpal tenda pengungsian di pos komando sekretariat perlindungan anak. Sesaat kemudian, tangis Pak Iqbal pecah melihat anaknya Fikri, 7, masuk ke tenda sambil membawa tas mainan di tangannya. Tak henti pak Iqbal memeluk putranya yang hilang beberapa hari.

"Masyaallah, Fikri, kau masih hidup," kata Pak Iqbal sambil mencium dahinya. Pak Iqbal dan Fiktri terpisah saat terjadi musibah gempa bumi dan tsunami yang menghantam Kota Palu dan Donggala pada 28 September 2018.

Kala itu, Fikri dan kakaknya Mufli sedang bermain di luar rumah. Dalam sekejap suasana Palu kacau karena gempa. Fikri terdampar di jalan yang kemudian diselamatkan orang lokal yang sedang dievakuasi ke Morowali Utara, sekitar 12 jam perjalanan mobil dari tempat tinggalnya. Orang itu memutuskan membawa Fikri ketika mencoba mendapatkan bantuan medis.

Pascakejadian, orangtuanya melaporkan kehilangan Fikri di Posko Kementerian Sosial (Kemensos) dan Unicef di Kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah (Palu). Fikri dijemput pihak pekerja sosial dari Kemensos untuk dipertemukan dengan keluarganya pada 13 Oktober, setelah semua data Primero terverifikasi secara akurat.

Ya, sobat, saat musibah terjadi semua orang panik menyelamatkan diri. Mereka berlarian tanpa arah. Fikri pun bukan satu-satunya anak yang terpisah dari keluarganya. Menurut United Nations Children's Fund (Unicef) banyak kasus serupa dan tak jarang benar-benar hilang.

"Di Sulawesi Tengah, pada 11 Oktober, jumlah anak-anak tidak didampingi keluarganya diperkirakan 300, sedangkan jumlah anak hilang yang terdaftar ada 74 orang," kata Kak Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi Unicef.

Kisah-kisah ini luput dari perhatian kita ya sobat. Padahal, sampai sekarang masih banyak anak yang belum bertemu keluarganya. Lalu, bagaimana kondisi anak-anak di sana sekarang ya? Yuk, ikuti Medi!


Kisah anak korban bencana

Sobat, di balik bencana ada hikmahnya, tak terkecuali anak-anak. Mereka terkenal dengan cara yang unik dan tegar menghadapi kenyataan atau kehilangan anggota keluarganya.

1. Martunis

Minggu pagi, 26 Desember 2004, Martunis berencana bermain sepak bola. Ia sudah memakai kostum nasional Portugal bajakan atau palsu, tapi tiba-tiba datang gelombang tsunami. Saat menyelamatkan diri menggunakan mobil bersama keluarganya, Martunis terseret gelombang ke permukaan air. Sementara itu, keluarganya tenggelam bersama mobil yang ditumpangi.

Ibu, kakak, dan adiknya hilang terseret arus tsunami, tetapi dirinya berhasil selamat. Martunis terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Teungku Syiah Kuala. Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005

Berita Martunis viral dan diundang ke Portugal bertemu dengan Cristiano Ronaldo. Ronaldo memberi Martunis beasiswa melanjutkan sekolah yang sekaligus menjadi anak angkat Ronaldo. Ia bahkan mendapatkan pelajaran sepak bola di klub Portugal yang membesarkan nama Ronaldo itu. Kabarnya, Martunis yang kini berusia 20 tahun ini ingin mengikuti tes.

2. Jihan Zahira

Bocah tiga tahun korban gempa dan tsunami Palu ini viral, bukan hanya memiliki wajah cantik, melainkan juga ia sangat tegar menghadapi musibah. Ibunya berada di Arab Saudi, sedangkan ayahnya di rumah karena sakit sehingga ia harus tinggal di pengungsian di kaki Gunung Gawalise, sisi barat Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dirinya pantang menangis karena baginya menangis bisa membuat Allah marah.

3. Omran Daqneesh

Anak lima tahun ini menjadi korban perang Suriah di Aleppo. Ia berhasil ditarik dari puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara militer prorezim Suriah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Meskipun dahinya penuh darah, tetapi ia hanya diam tak mengeluarkan ekspresi apa pun. Menurut dokter rumah sakit, dr Osama Abu al-Ezz, serangan yang nyaris membunuh Omran diluncurkan jet-jet tempur Rusia di wilayah Qaterji, wilayah Aleppo yang dikuasai pemberontak Suriah.   (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya