Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAWAL dari mengikuti ajang Abang None Buku 2014, Palupi Mutiasih saat itu mengembangkan ide mengenai taman baca bagi anak dengan konsep yang menarik. Gagasannya pun dilanjutkan saat meraih prestasi sebagai mahasiswa berprestasi 3 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) 2016.
Tak berhenti di situ, Palupi ingin gagasannya bisa diterapkan banyak pihak dan berkelanjutan. Melalui Komunitas Fun Garden of Literacy dirinya aktif berkegiatan di bidang literasi. Tak hanya itu, mendongeng, mengisi workshop literasi, hingga menulis buku telah menjadi bagian dari hidupnya. Muda berkesempatan mewawancarai penerima Beasiswa Aktivis Nusantara ini. Yuk, simak.
Kak Palupi, sekarang sedang sibuk apa saja?
Saat ini ngajar di TK Kepompong sebagai guru ekstrakurikuler sains. Di sini memberikan pengajaran soal eksperimen-ekperimen sederhana, tapi mendasar kepada anak-anak. Lalu, mengajar ekstrakurikuler bahasa Inggris di SD Arrahman, menjadi fasilitator, mendongeng, dan mengisi workshop literasi. Saya pun ada komunitas bernama Fun Garden of Literacy yang bergerak di bidang literasi.
Boleh diceritakan kegiatan mendongengnya seperti apa?
Untuk mendongeng, saya pernah mengisi di acara Roadshow Gerakan Banten Membaca mengenai bagaimana meningkatkan keinginan untuk membaca, di Perpustakaan Daerah Banten (Perpusda), dan di sekolah-sekolah. Dongeng yang diberikan sederhana, seperti meningkatkan minat baca anak, lalu bagaimana mengenalkan karakter baik dan buruk, hingga menanamkan nilai-nila kejujuran. Ceritanya bisa diambil dari model cerita fantasi dan fabel karena itu yang menarik bagi anak.
Saat mendongeng, penting sekali melibatkan anak-anak. Jangan hanya menjadi pendengar karena mereka akan merasa bosan dan mengantuk. Terdapat adegan-adegan yang melibatkan interaksi anak malah lebih asyik bagi anak. Misalnya, ada adegan kura-kura sama monyet. Monyetnya diubah dengan nama Momo (biat lebih soft buat anak-anak). Momo ini sombong ke kura-kura, dan si kura-kura selalu diledek karena jalannya lambat. Terus akhirnya si Momo punya kesulitan untuk berenang. Lalu, si kura-kura ini menolong dengan cara berenang ke sungai.
Nah, pas adegan berenang itu melibatkan anak-anak juga yang mengikuti gerakan. Jadi, seolah-olah anak-anak itu terlibat dalam cerita tersebut. Dongeng yang baik ialah dongeng yang melibatkan anak-anak.
Mengapa tertarik dengan pengembangan literasi?
Sebenarnya mulai tertarik terhadap isu literasi itu saat mengikuti mahasiswa berprestasi (mawapres) pada 2016. Jadi, pas mawapres saya mengambil isu literasi yang sebetulnya sudah menarik bagi saya sejak mengikuti Abang None Buku 2014 dan banyak ditugaskan ke kegiatan yang literasi. Saya merasa ini passion saya karena berhubungan dengan anak-anak, lalu mengajarkan membaca buku kepada anak-anak.
Saat mawapres itu, saya melakukan penelitian kecil di Badan Bahasa yang kebetulan kantornya tidak jauh juga dari kampus saya, UNJ. Hasil riset tersebut, selain dilombakan, tapi juga ditawarkan ke Badan Bahasa lalu direspons baik. Saya mendesain taman baca yang menarik untuk anak, suasananya taman. Anak bukan hanya dihadirkan dengan buku-buku, melainkan juga permainan tradisional, permainan edukatif, mendongeng, atau kegiatan bermain dahulu. Jadi, dekatkan dulu anak-anak dengan taman bacanyanya, tidak langsung kepada buku, tapi dengan hal-hal yang menyenangkan terlebih dahulu.
Bagaimana mendirikan komunitas Fun Garden of Literacy?
Pendidikan kita memang masih banyak yang perlu dibenahi. Kalau hanya mengeluh tidak akan berguna. Kenapa kita enggak mulai dari diri kita sendiri?
Di komunitas kami terdapat beberapa kegiatan, di antaranya memberikan workshop literasi, mendongeng, dan public speaking untuk mahasiswa, guru, juga masyarakat umum. Selain itu, membuka lapak baca dan bermain engklek antikorupsi di taman-taman, seperti Taman Suropati, Taman Menteng, Monas, Fatahillah, dan beberapa RPTRA. Kami pun membuat media inovasi untuk literasi dan antikorupsi serta memainkan ke sekolah-sekolah, melakukan kerja sama dengan berbagai komunitas untuk membuat taman baca, seperti istana belajar anak Banten, rumah belajar ceria, dan mitra taman literasi (Tali) integritas KPK.
Dalam membangun komunitas harus sabar dan konsisten karena komunitas yang saya bangun hampir 2 tahun ini sempat membuat saya ingin menyerah juga. Namun, berpikir lagi, “Kalau lo berhenti, nanti siapa lagi Pal?”. Akhirnya, pelan-pelan mencoba semangat lagi. Mencari relasi dan ketemu orang-orang yang perjuangannya lebih besar, itu bisa meningkatkan semangat kita. Kalau sudah mulai harus dijalani sampai akhir.
Alhamdulillah setelah dijalani, ketemu dengan orang baru dan melakukan kolaborasi. Saya ingat 3 bulan pertama itu terasa berat hingga ingin membubarkan komunitas. Oleh karena itu, konsisten itu penting sekali. Kalau sudah bertemu dengan orang-orang yang satu suhu, komunitas akan bersinergi.
Apa saja yang dibagikan saat mengisi kegiatan workshop?
Saya biasa melakukan workshop untuk anak-anak dan guru-guru di sekolah. Saya pernah menjadi fasilitator workshop literasi di Yogyakarta dan Palembang. Kegiatannya melatih literasi ke guru-guru senasional. Biasanya yang dibagikan ialah memahamkan konsep literasi yang berhubungan dengan abad ke-21.
Selain itu, melatih membacakan buku cerita kepada siswa, teknik mendongeng, mendesian kelas kaya literasi, dan bagaimana cara besinergi kepada masyarakat untuk terlibat dengan pendidikan.
Kalau untuk anak-anak biasanya dilakukan dengan mendongeng dan membacakan buku. Intinya, melakukan hal-hal yang menyenangkan, tapi terdapat nilai-nilai moral di dalamnya.
Kamu juga pernah menerbitkan buku, bisa diceritakan?
Buku cerita anak. Jadi, awalnya buku ini menang lomba di Malaysia mendapatkan medali perak. Buku mengenai antre, isi di dalamnya menceritakan anak-anak yang mengantre melihat pertunjukan ondel-ondel. Kenapa ondel-ondel? Karena banyak ondel-ondel yang mengamen. Anak-anak kenalnya itu.
Dari situ, saya bikin ikonnya itu memberi tahu kepada anak-anak bahwa ondel-ondel itu ikon budaya juga. Ini bukunya diterbitkan terbatas, hanya ke kalangan pegiat literasi dan pihak-pihak yang membutuhkan. Tantangannya membuat buku dengan teks yang sedikit, tapi ilustrasinya harus banyak dan menggambarkan pesan yang disampaikan. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved