Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA sekelumit cerita dari kawasan Tambora, persisnya di belakang Season City Trademall. Di sana ada seorang ibu bernama Andryani yang menemukan harapan melalui pinjaman tanpa agunan yang ia dapatkan untuk memulai usahanya. Meskipun hanya Rp2 juta, Andryani tetap tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Pada awalnya, Andryani membuka sebuah konter pulsa di depan rumahnya. Namun, usaha tersebut sempat berhenti karena dirasa merugi. Tak henti disitu, Andryani tetap semangat untuk membuka usaha dan ia pun menemukan cara dengan mengajak beberapa tetangganya untuk membuat kelompok agar bisa memperoleh kredit tanpa agunan.
Dari situ, ia mendapatkan modal lagi dan ia membelanjakan modal itu untuk kebutuhan dasar seperti gula, kopi, dan jajanan anak-anak. Andryani pun masih menyediakan pulsa. Namun, hal itu bukan usaha yang utama bagi dirinya. Andriyani mulai memperhatikan kebutuhan masyarakat seperti saat tetangganya membutuhkan meterai untuk mengurusi administrasi anak-anak mereka yang bersekolah. Andryani langsung menyediakannya dan perlahan tetapi pasti ia mulai meraup keuntungan.
Dari hasil berkongsi dengan suaminya yang seorang petugas keamanan di kantor pemerintahan, keduanya bisa mencicil rumah di kawasan Tangerang. Kelak rumah itu akan mereka kontrakkan untuk menambah biaya sekolah sang anak yang kini masih balita. Itu merupakan satu kisah dari ibu-ibu perkasa yang memulai usaha baru mereka melalui pinjaman dan dirangkum dalam sebuah buku kecil, singkat, dan padat berjudul Revolusi Senyap untuk para Ibu Tangguh yang ditulis Kristin Samah.
Secara keseluruhan, buku ini menceritakan Permodalan Nasional Madani (PNM) yang memberikan pinjaman kepada para ibu. Buku yang berisikan bukti-bukti dari kerja nyata, kebijakan, dan revolusi mental oleh Presiden Jokowi. Secara jelas buku ini berisikan fakta bahwa kemiskinan itu tidak akan bisa dihapuskan dengan belas kasihan.
Iainya diawali dengan paparan singkat dari Kristin Samah yang menuliskan buku ini merupakan bentuk apresiasi terhadap PNM yang membuat program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera. Dalam paparannya Kristin merasa pemberian pinjaman usaha yang dilakukan PNM ini sangat menarik, khususnya untuk keluarga prasejahtera karena terdapat ibu-ibu yang tengah menggeliat untuk memperbaiki ekonomi keluarga mereka. Kristin pun mengungkapkan sedikit kekecewaannya dalam paparan ini.
‘Hanya saja, kenyataan ini kurang terpublikasi. Lebih mudah memopulerkan gerakan bagi-bagi dana tunai jika dibandingkan dengan menyalurkan kredit yang harus dikembalikan sesuai jangka waktu tertentu’, tulis Kristin dalam bukunya.
Buku ini berisikan 19 bab singkat yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan usaha yang tengah dilakukan ibu-ibu itu. Itu diawali dengan penjelasan mengenai revolusi senyap. Dalam bab itu, pembaca akan mengerti bahwa revolusi senyap dimaksudkan terhadap tidak adanya gembar-gembor mengenai perubahan yang sebenarnya sangat gegap gempita yang dilakukan para ibu.
Kristin secara singkat menjelaskan bagaimana program yang dibuat PNM yang dinamakan Mekaar. Mekaar yang lebih spesifik lagi untuk keluarga prasejahtera dan diharuskan nasabah yang memulai usaha itu ialah perempuan. Mengapa harus perempuan? Hal itu pun tak luput dijelaskan Kristin Samah bahwa perempuan merupakan sumber pergerakan dalam keluarga, termasuk peningkatan kemampuan ekonomi.
Kelompok peminjam
Selanjutnya buku ini menjelaskan bahwa kaum perempuan ini membuat sebuah kelompok yang beranggotakan minimal 10 orang dan maksimal 30 orang. Kelompok itu akan diberi pinjaman sebesar 20 juta tanpa jaminan untuk membiayai usaha produktif. Mereka memiliki tanggung jawab bersama dalam pengembalian modal dan juga mereka dibentuk sebuah disiplin dari setiap pertemuan yang dilakukan antara lain bukan lagi bertemu untuk bergosip, melainkan membicarakan perihal bisnis.
Samah juga memasukkan sedikit pidato dari Presiden Jokowi saat Temu Nasional Ke-90 Kongres Wanita Indonesia dan Sidang Umum Ke-35 International Council of Woman (ICW), 14 September 2018.
‘Perempuan Indonesia adalah Ibu Bangsa. Sebagai Ibu Bangsa, perempuan mempunyai peran penting dalam mendidik para penerus masa depan bangsa. Indonesia memiliki perempuan-perempuan tangguh yang turut berjuang untuk kemerdekaan. Mulai dari RA Kartini, Dewi Sartika, hingga Martha Christina Tiahahu. Perempuan sebagai Ibu Bangsa, mendidik anak-anak sebagai penerus masa depan bangsa, memperbaiki mentalitas bangsa, menjaga moral keluarga dan masyarakat, menjaga alam untuk anak cucunya, serta menggerakkan ekonomi keluarga dari masyarakat’, tulis Kristin mengenai pidato Presiden Jokowi.
Buku ini juga menampilkan beragam foto dari para ibu yang sudah memulai usaha dari modal pinjaman yang mereka dapatkan dari PNM. Saat ini bukan lagi masanya ibu-ibu untuk bergunjing, seperti dalam halaman 18, Kristin memaparkan untuk menghentikan perbincangan mengenai bergunjing karena ini merupakan kebiasaan yang buruk.
Kristin menuliskan bahwa para ibu yang tergabung dalam kelompok-kelompok yang mejalani program Mekaar tidak sempat membicarakan gosip murahan. Mereka malah mempertajam mata dan telinga untuk memperkuat usaha yang sedang mereka jalankan. Revolusi ini menghentikan gosip menjadi percakapan tentang bagaimana meningkatkan kualitas hidup keluarga melalui usaha mandiri.
“Kalau sedang kumpulan, saya seperti punya saudara baru. Kompak. Mana sempat ngomongin orang lain. Bahkan kalau ada apa-apa, saling mengingatkan. Di kelompok saya usahanya macam-macam. Ada yang jual sayuran, gorengan, dan sebagainya. Tidak ada yang sengaja tidak mau bayar cicilan. Kalau ada yang berhalangan, mereka minta ditalangi. Tidak ada yang bermaksud mau ngemplang,” kutipan dari wawancara Kristin dengan Suprihatin, ibu yang memulai usaha kerupuk di Jagakarsa.
Perubahan
Dalam buku ini, pembaca akan menyadari bahwa program kecil yang dibentuk Presiden Jokowi bersama PNM membuat perubahan khususnya dalam revolusi mental para ibu. Terdapat total 16 foto yang memperlihatkan bagaimana kelompok ibu itu berkumpul untuk mendiskusikan usaha mereka, ibu-ibu yang sudah memiliki usaha, dan juga Presiden Jokowi yang sedang bertemu dengan para ibu itu.
Buku yang sangat cerdas dan ringkas berisikan fakta-fakta, bagaimana usaha yang tidak pernah terekspos oleh media bisa menjadi sebuah kesejahteraan baru bagi keluarga-keluarga prasejahtera. Dalam acara bedah buku yang dilakukan di Gedung Sarwono, Jakarta (10/10), Maman Suherman selaku pengamat sosial menganggap buku ini merupakan salah satu potret terhadap sebuah gerakan senyap untuk memberdayakan ibu-ibu prasejahtera di berbagai tempat di seluruh Indonesia. “Mungkin banyak yang tidak melihat ini karena kesannya kecil, 10 orang sampai maksimal 30 orang berkumpul mengelola modal Rp2 juta. Tapi buat ibu-ibu keluarga prasejahtera, ini justru besar dan kemudian bisa memberdayakan mereka dan mereka bersama-sama bertanggung jawab untuk mengelolanya dan untuk memanfaatkannya,” paparnya.
Dia menambahkan, “Kita selalu percaya bahwa the power of ibu-ibu itu bisa menjadi salah satu tokoh guru perekonomian kita. Mereka bisa berdaya secara ekonomi juga dengan berbagai kegiatan yang bisa dijalankan di rumah atau dengan kata lain bisa menjadi pasangan yang setara secara ekonomi dalam lingkungan keluarga,” ungkap Maman. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved