Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSORSIUM Sustainable Development Goals Pemuda Indonesia Penggerak Perubahan (SDG PIPE) memberikan penghargaan terhadap 5 inovator muda tepat pada Hari Relawan Internasional, Rabu (5/12) di Jakarta Creative Hub. Kelima inovator berhasil menyisihkan 138 ide proposal yang diikutsertakan dalam Filantropi Indonesia Festival (FIFEST) pada 15-17 November 2018.
" Semoga di masa datang ini tidak hanya untuk acara formal. Tapi bisa terus berlanjut karena penting untuk bangsa dan negara ini," ujar I gusti Putu Raka Pariana Asdep Peningkatan Kapasitas Pemuda Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora.
Banyak sekali inovasi dari pemuda, yang tidak hanya berdampak bagi lingkungan sekitar, namun juga bisa berdampak bagi banyak orang. Program SDG ini mengajak anak muda untuk berani menghasilkan inovasi yang memiliki dampak sosial meski masih dalam skala yang kecil. Karena dari hal kecil akan berdampak lebih luas bila diberdayakan dari satu inovasi dan inovasi lainnya.
"Potensi dari adik-adik yang ikut serta itu karena mereka memilih diri mereka sendiri untuk ditunjuk. Tapi yang pasti memang punya memiliki dampak sosial. Mereka memiliki ketahanan, yang penting akhirnya dengan pengakhiran yang baik dengan menunjukkan kesungguhan hasilnua dan berdampak kepada lingkungan mereka," ujar salah satu juri, Edwin.
Kelima anak muda itu adalah, Fransiska Myrna Sani, Yogi Adjie Driantama, Abdul Latif Wahid, Budi Santoso, dan Intan Imelda F. Siagian. Ide perubahan mereka beragam seperti, pemberdayaan masyarakat lokal di Mentawai untuk membuat minuman Mangrove saset, pendirian rumah belajar gratis anak putus sekolah usia 16-25 tahun, pembuatan aplikasi yang mempertemukan pemilah dan pengepul sampah, pemberdayaan anak perempuan untuk kesetaraan gender, dan komunitas literasi media.
Budi Santoso selaku Founder dari Komunitas Pemberdayaan Anak Perempuan untuk Kesetaraan Gender mengaku membuat komunitas ini berangkat dari kondisi sosial di daerahnya, Asahan, Sumatera Utara. " Saya ini hidup di masyarakat yang anak-anak perempuan itu sudah dinikahkan di usia 17 tahun. Kita yang seharusnya masih bisa belajar dan bermain bersama, mereka justru sudah menikah dan mengurusi anak. Jadi, sama ingin supaya mereka sadar bajqa di usianya masih bisa melakukan hal-hal untuk mengembangkan diri," harapnya. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved