BUKU Perjalanan Membahagiakan Indra Pengecap

Retno Hemawati
08/12/2018 03:15
BUKU Perjalanan Membahagiakan Indra Pengecap
(MI/seno)

FOOD writer, culinary author, dan self-taught chef Kevindra Prianto Soemantri merilis buku ketiganya, berjudul Top Tables: A Food Traveller’s Companion, dua pekan lalu.

Isi buku ini sangat unik, yakni rekomendasi kuliner di Jakarta yang bersumber dari berbagai personality di Jakarta, mulai chef, kritikus kuliner, arsitek, hingga seniman. Sebut saja nama-nama yang ada di Top Tables: A Food Traveller’s Companion, yakni Mike Lewis, Tissa Aunila, Laksmi Pamuntjak, William Wongso, Reino Barack, Eva Celia, Vidi Aldiano, Petty Elliott, Santhi Serad, Ben Soebiakto, dan juga chef Yuda Bustara.

Yang paling menarik ialah perjalanan makan-makan bersama dengan pegiat kuliner William Wongso. Anda mungkin tidak menyangka yang direkomendasikan William Wongso justru tempat-tempat makan yang legendaris, tapi bukan restoran kelas atas seperti Bakmi Gondangdia, Gado-Gado Bon Bin, dan tidak ketinggalan Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani.

Bakmi Gondangdia diceritakan mulai berdiri sejak 1960-an oleh perempuan bernama Tjen yang kini diteruskan keturunannya, Rino. Tempat itu seiring dengan perjalanannya hingga sekarang sangat melekat di hati penduduk Jakarta yang menyukai mi. Alasannya tertulis di situ, mereka berupaya mempertahankan resep dan rasa. Bahkan dari tragedi kebakaran Desember 2014 yang saat itu usia restoran menginjak 46 tahun, mereka tetap berhasil mempertahankan resep mi klasik Hong Kong.

Demikian juga dengan Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani. Tempat makan itu dituliskannya bukanlah tempat yang keren bersolek. Bahkan tidak ada penyejuk ruangan di sana. Namun, reputasinya sebagai penyedia nasi uduk patut diacungi jempol. Keharuman dan tekstur nasinya dipuji-puji, demikian juga dengan sambal kacang dan menu-menu lezat lainnya.

Intip juga pengalaman Eva Celia berburu makanan vegetarian di Jakarta. Dia memilih Burgreens di Dharmawangsa, Saigon Delight di Kemang, dan Dharma Kitchen di Central Park Mall.

Jika Anda ingin mengetahui, kesukaan novelis Laksmi Pamuntjak juga ada di buku ini. Dia merekomendasikan Bistecca, Turkuaz, Kinokawa, Li Feng, dan Wong Fu Kie untuk makan malam. Kebanyakan yang dia pilih merupakan restoran legendaris.

Tren makanan
Kevindra yang merupakan kontestan termuda di Asia dalam ajang Masterchef pada 2011 mengatakan dirinya sebagai food writer sering baca buku dan artikel kuliner di luar negeri. Salah satu topik yang disukainya ialah tren dan makanan sebuah kota, seperti New York, Paris, dan Tokyo, yang ditulis atau diambil sudut pandang dari manusianya.

"Nah, saya langsung sadar kalau pada waktu itu belum ada buku yang isinya menulis ragam kuliner Jakarta dari sudut pandang warga Jakarta sendiri. Ketika bertemu dengan Studio Geometry, saya dan Natasha Lucas pun langsung brainstorm mengenai ide ini yang rupanya juga cocok. Jadilah kami mengerjakan Top Tables bersama-sama," katanya.

Mereka yang berkontribusi dalam penulisan buku itu juga sepakat dibutuhkan karya tulis yang membuat melek mata kalau Jakarta itu kota makanan. "Bukan dari sudut pandang kami tapi, dari sudut pandang warganya sendiri. Apalagi konsep buku ini juga cocok sebagai food-travel guide yang memang sekarang ini topik tersebut cukup digemari banyak orang di seluruh dunia, mulai traveller sampai orang biasa yang rupanya masih butuh panduan untuk melakukan ekplorasi rasa di Ibu Kota," jelas Kevindra yang pernah melahirkan dua buku masakan, Adiboga Khas Eropa serta Jakarta Streetfood.

Tidak lupa dia bercerita hal-hal menarik saat proses pembuatan buku ini. "Tentu saja saat mengumpulkan kontennya. Ya, kita berkesempatan bertemu langsung, bahkan asyik ngobrol sambil makan dengan banyak personality di Jakarta dengan daerah yang terpencar di penjuru kota. Rupanya tiap tokoh punya pilihan tempat makan yang entah itu sangat unik atau bahkan sama dengan saya dan Natasha. Selain proses wawancara, proses pengambilan foto juga cukup melelahkan. Seperti contohnya foto bakmi dari Yen Rahardja, Jakarta Barat, itu kan besar, ya, dan bakmi pilihan beliau tersebar di beberapa penjuru. Jadilah saya mesti keliling untuk pesan dan foto bakmi tersebut. Sangat seru. Lalu menentukan jadwal wawancara narasumber juga sangat menantang, ya, rupanya. Menyelipkan semuanya jadi satu merupakan yang tersulit."

Buku yang juga turut didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dan Kuliner Traveloka ini secara konsep mengulas dan membagi  per kota madya di Jakarta. Lalu dibagi lagi dengan kategori yang cocok dengan wilayah tersebut, misalnya di Jakarta Selatan banyak kategori lifestyle seperti after hours dan fine dining; atau di Jakarta Utara dan Barat banyak yang didominasi comfort food.

"Nah, setelah kami mapping semua wilayah dan kategori, baru kami kira-kira siapa narasumber yang mungkin cocok dengan kategori dan wilayah tersebut. Merekalah yang memilih tempat makan yang ada di dalam buku. Kalau Anda baca Top Tables, narasumber sangat beragam, mulai chef, selebritas, seniman, arsitek, pengusaha, kritukus. Kami justru tidak mau semua selalu food oriented karena ide buku ini adalah mengumpulkan rekomendasi tempat makan dari latar belakang yang berbeda. Kami listing down dari puluhan narasumber (angka awal bahkan sampai 70) lalu kami kurasi lagi siapa saja yang dirasa cocok," katanya.

Buku ini sengaja ditulis dalam bahasa Inggris yang diakuinya memang menarget pembaca, traveler, atau penggemar kuliner salah satunya internasional. "Buku ini akan dijual di Periplus, Books & Beyond, serta beberapa toko buku di Malaysia dan Singapura. Buku ini juga akan tersebar di banyak restoran, tempat makan, serta kafe yang tercantum di dalamnya," kata Kevindra yang juga telah dipilih untuk muncul menjadi salah satu expert di program yang akan ditayangkan di kanal Netflix pada 2019.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya