Studi: Ada Dampak Positif dari Bos yang Buruk

Despian Nurhidayat
04/12/2018 22:25
Studi: Ada Dampak Positif dari Bos yang Buruk
(Thinkstock)

APAKAH anda merasa punya bos yang buruk? Jika iya, namun tidak punya pilihan selain bertahan di pekerjaan tersebut maka artikel ini mungkin bisa sedikit membangun optimisme.

Penelitian gabungan dari universitas di tiga negara menemukan bahwa perilaku kasar dan semena-mena dari seorang atasan nyatanya bisa menghasilkan dampak baik bagi bawahan di kemudian hari. Ketika bawahan itu kemudian menduduki jabatan bos maka kemungkinan ia akan berperilaku lebih baik karena berkaca pada pengalamannya saat menjadi anak buah yang tersiksa. 

Demikian kesimpulan yang dibuat dari penelitian gabungan University of Central Florida-Amerika Serikat (AS), University of Texas (AS), Suffolk University (Inggris), dan Simgapore Management University (Singapore). Penelitian itu diterbitkan di Journal of Applief Psychology baru-baru ini.

 Dosen bidang Ilmu Bisnis UCF Shannon Taylor dan Robert Folger, mengungkapkan bahwa beberapa karyawan yang mengalami perlakuan tidak baik dari bosnya, memutuskan untuk tidak mengulangi pola itu kepada bawahan mereka dan menjadi pemimpin yang baik bagi tim mereka. "Studi kami menyoroti optimisme bagi orang-orang yang mengalami perlakuan buruk dari atasan mereka. Beberapa manajer yang punya pengalaman ini dapat membingkai ulang pengalaman mereka sehingga tidak mengulangi perilaku itu dan benar-benar membuat mereka menjadi pemimpin yang lebih baik," ungkap Professor Taylor kepada Science Daily.

Melalui berbagai macam eksperimen selama beberapa tahun, para peneliti menemukan perbedaan sikap dan perilaku para bos yang dahulunya punya atasan buruk maupun yang punya atasan baik. Hasilnya, yang mengalami perlakuan buruk justru memberikan rasa hormat dan memperlakukan karyawan mereka secara baik.

Taylor juga menyatakan bahwa penelitian ini memiliki sebuah arti dimana ia mencoba mendorong orang-orang yang mengalami perlakuan buruk untuk mengatakan bahwa ia tidak akan berlaku seperti atasan yang semena-mena itu. "Anda dapat mengambil sikap, tidak hanya melaporkan perilakunya saja, tetapi juuga secara aktif menolak gaya kepemimpinan yang kasar ini," lanjutnya.

Namun peneliti menekankan jika studi tersebut bukan mendorong perusahaan untuk memperkerjakan atau membiarkan bos yang buruk. Melainkan mereka mencoba untuk memberi optimisme pada orang yang pernah punya atasan buruk.

 Orang-orang tersebut mestinya bisa ikut menghentikan budaya bos yang buruk. Caranya bukan saja dengan melaporkan atasan tersebut melainkan memastikan jika dikemudian hari mereka juga tidak ikut meniru perilaku buruk itu. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya