Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH melontarkan sebutan politikus sontoloyo, Presiden Joko Widodo menyatakan adanya politik genderuwo. Ini pasemon atau sindiran terhadap politisi yang getol mengeluarkan pernyataan yang isinya menakut-nakuti rakyat. Rakyat dibuat miris atau pesimistis.
Dalam dunia pakeliran, politik menakut-nakuti seperti itu dilambangkan pada perilaku atraktif buta Cakil alias Gendirpenjalin ketika menghadang kesatria. Namun, meski Cakil jungkir balik menakut-nakuti, sang kesatria tidak ciut nyalinya. Malah, akhirnya Cakil terjungkal dan mengembuskan nafas terakhir karena tertusuk kerisnya sendiri.
Perang kembang
Bila dilihat tampangnya, Cakil tampak sangat menakutkan. Ia bermuka merah darah, giginya seperti gergaji, dan taringnya bak belati. Gerak-geriknya lincah dan mahir melakukan aksi berkelahi. Pun punya jenis suara yang mampu membuat tengkuk merinding, bulu kuduk berdiri.
Sosoknya tersebut tentu akan membuat siapapun yang berhadapan dengannya merinding, menciut nyalinya. Tapi, sesungguhnya Cakil rapuh. Semua yang kelihatan menggiriskan pada dirinya itu ternyata sekadar aksesori gertak. Di depan kesatria, Cakil bak boneka mainan.
Menurut pakem perdalangan, adegan Cakil menakut-nakuti kesatria terjadi pada adegan Perang Kembang. Disebut Perang Kembang karena memang itu hanya sesi 'bunga-bunga'. Artinya, dari sisi cerita lakon, Perang Kembang bukan bagian pokok dari sebuah kisah.
Meski demikian, biasanya, Perang Kembang menjadi sesi yang ditunggu banyak pandemen wayang karena menjanjikan pertunjukan menarik. Di tangan dalang terampil, atau oleh pemain profesional, adegan dalam Perang Kembang menjadi sajian pertunjukan memikat.
Dalam adegan ini, Cakil tidak sendirian. Ia memiliki tiga teman anggota 'koalisi', yakni Pragalba, Rambut Geni, dan Terong, yang semuanya berwujud buta. Sedangkan sosok kesatria itu, kalau dalam cerita Mahabharata, biasanya Arjuna atau putranya, Abimanyu.
Perang Kembang diawali ketika kesatria, misalnya Arjuna, pulang seusai sowan atau ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari kakeknya, Begawan Abiyasa, di Pertapaan Saptaarga. Dalam perjalanannya melewati belantara, ia dicegat gerombolan pengacau yang diketuai Cakil.
Dengan gemblungnya, Cakil menghadang dan melarang Arjuna melewati hutan yang ia klaim sebagai wilayah kekuasaannya. Ia mengatakan semua jalma (insan) sebaiknya mengurungkan niat melewati hutannya jika tidak ingin mati konyol. Cakil mengusir Arjuna agar memilih jalan lain.
Arjuna menolak. Ia tetap kukuh ingin melewati hutan tersebut, apa pun risiko yang dihadapi. Cakil lalu menggertak dengan maksud meruntuhkan mental lawan. Tetapi, sang kesatria tidak gentar.
Pada saat itulah, Cakil kemudian secara agitatif mempertontonkan kelihaiannya berperang. Selain gerak tangan dan kaki yang lincah, ia juga memperlihatkan gigi dan taringnya yang seolah siap merajah.
Sejurus kemudian Cakil nyawuri (melempari) kesatria dengan sampah, pasir, kerikil, dan batu. Ia juga menakut-nakuti dengan gerak-gerik serta suara bernada melecehkan dari belakang dan samping.
Kesatria tidak memedulikannya. Ia hanya diam dan fokus memperhatikan kiprah Cakil. Ketika perilaku pengacau itu dirasa sudah melewati batas, sang kesatria secepat kilat melayangkan satu pukulan yang membuat Cakil jatuh terjerembab.
Menjadi bumerang
Cakil bangkit dan menata diri. Sejurus kemudian ia menyerang dengan berbagai pukulan tangan dan tendangan kaki. Tapi, sia-sia. Semua yang ia lepaskan tidak mengenai sasaran, menerpa angin. Sebaliknya, ia seperti menjadi sansak kesatria yang jitu menghantamnya.
Merasa kehabisan jurus, Cakil mencabut keris dari warangkanya. Seperti gaya semula, ia lagi-lagi pamerkan bagaimana bermain senjata dengan taktis. Sesaat kemudian, dengan tangkas ia menusuk kesatria dari berbagai sisi. Namun, lagi-lagi semuanya luput.
Ketika untuk kesekiankalinya Cakil berusaha menusuk, kesatria dengan cepat menangkap tangannya. Dengan kekuatan penuh ia belokkan posisi ujung keris ke arah dada Cakil. Cakil yang kehilangan keseimbangan lalu ambruk sehingga kerisnya sendiri menembus jantungnya.
Matinya Cakil membuat tiga rekannya mengamuk. Mereka mengeroyok kesatria tanpa ampun. Namun, seperti Cakil, anggota koalisi pengacau itu rapuh pula. Satu per satu tewas tertembus panah kesatria.
Gerombolan pengacau berjumlah empat buta itu dalam pakeliran disebut Buta Prepat. Secara filosofis, mereka melambangkan nafsu manusia, yakni amarah, aluamah, suapiah, dan mutmainah. Artinya, itu selalu ada dalam setiap insan selama masih memiliki lakon (hidup). Kesatria sejati mesti berani menghadapi (menguasai) semua nafsu itu.
Oleh karena itu, Perang Kembang ini nyaris selalu muncul dalam setiap lakon. Tentunya lakon yang melibatkan keberadaan kesatria.
Jadi, Cakil dan kawan-kawan itu misinya hanya mengganggu dan menakut-nakuti kesatria yang merupakan lambang laku utama. Dengan kata lain, kesatria sejati memang harus menghadapi Cakil.
Kesatria tidak perlu risau dan khawatir dengan kiprah Cakil. Pun tidak perlu terpengaruh dengan kicauannya. Karena yang tampak menakutkan, bahkan menggiriskan pada Cakil sesungguhnya tidak akan berpengaruh apa-apa bila kesatria piawai mengatasinya.
Seperti dalam adegan Perang Kembang, kesatria memang harus mengambil tindakan tegas ketika Cakil sudah mengganggu martabatnya. Tentu itu dengan penuh perhitungan sehingga sekali pukul, Cakil jatuh.
Bahkan ketika Cakil kian membabi-buta dengan menghunus curiga (keris), kesatria mesti berani mengeksekusi. Dengan kekuatannya, ia mesti mampu membalikkan senjata lawan itu untuk menghabisi sang empu pusaka sendiri, atau menjadi bumerang.
Yang baik ketahuan
Dalam konteks kebangsaan, mereka yang melancarkan politik menakut-nakuti itu ibarat Cakil dan kawan-kawan. Sejatinya, yang mereka lakukan itu hanyalah menebar sampah. Yang hanya membuat bau busuk di mana-mana serta mengganggu dan merusak lingkungan.
Seperti kesatria, kubu yang menjadi target serangan mesti tetap tenang menghadapinya. Selama masih jujur serta menjunjung etika dan moral, semua yang tampak menakutkan itu tidak ada apa-apanya.
Dalam kearifan lokal dikenal peribahasa becik ketitik, ala ketara. Artinya kurang lebih yang baik ketahuan, yang jelek pun akan kelihatan. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti, kebencian dan kemarahan akan hancur oleh kelembutan dan kesabaran.
Dalam bahasa lain yang lebih sederhana, sapa salah bakal seleh, yang artinya siapa yang bertindak tidak benar bakal kalah. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved