Etnik Edgy di Paris

Suryani Wandari
02/12/2018 02:40
Etnik Edgy di Paris
(MI/MOH IRFAN)

SET busana serbatumpuk mendominasi koleksi milik Sofie di acara La Mode Sur La Seine a Paris di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta. Tidak hanya serbatumpuk, koleksi itu menonjolkan unsur adati. Sesuatu yang memang menjadi karakter desain Sofie selama ini.

Lurik dan tenun ia padukan menjadi berbagai luaran (outer) berpotongan kimono panjang maupun pendek. Sofie pun mempertahankan garis edgy pada desainnya lewat potongan asimetris maupun layering. Dengan formula itu, koleksi bermaterial kain adati tersebut tetap terasa modern dan segar.  

Nyatanya, koleksi tersebut memang bukan hanya untuk pasar dalam negeri. Sesuai dengan tajuk acara yang berlangsung pada Rabu (21/11), koleksi tersebut disiapkan untuk dipamerkan di Paris, Prancis. Bukan pula peragaan dengan konsep umum, melainkan di atas kapal yang menyusuri Sungai Seine di ‘Kota Mode’ itu.

Peragaan yang berlangsung pada Sabtu (1/12) tersebut merupakan kerja sama Indonesia Fashion Chamber (IFC) dengan Kementerian Perindustrian. Sofie yang juga tergabung dalam IFC menuturkan jika sengaja tetap menonjolkan untuk etnik, tetapi dengan konsep yang fleksibel untuk padu padan.

"Tenun yang digabung dengan lurik ini saya peroleh dengan gaya yang lebih fleksibel dan bisa dipadupadankan sesuai selera," kata Sofie.

Selain Sofie, ada 15 desainer Indonesia lainnya yang mengikuti event besar ini. Mereka pun mengangkat konten lokal sesuai dengan tren global, meliputi kategori busana konvensional hingga busana muslim.

Deden Siswanto dan Lenny Agustin memilih membawa koleksi yang telah mereka keluarkan pada gelaran Jakarta Fashion Week beberapa bulan lalu. Ada pula Ali Charisma, Shanty Couture, IDENTIX by Irma Susanti, Lia Soraya, Lisa Fitria hingga Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pariwisata Aceh menampilkan Roborn29 by Sukriyah Rusdy.

Ali Charisma, desainer yang juga National Chairman IFC menampilkan batik pesisiran yang edgy pula. Hal ini tampak pada busana batik berwarna hijau berbentuk long dress longgar dengan aksen rumbai.

Batik juga ditampilkan Lia Soraya. Ia menyuguhkan koleksi untuk muslimat dengan menggabungkan batik dengan katun dobi, organza serta sutra. Tampilannya menarik karena gamis panjang dengan batik berwarna merah di bagian bawah roknya ini dipadukan dengan outer yang tampak berkilauan dengan tambahan belt hitam. "Saya menggabungkan bordir tanaman tropis dengan batik tumbuhan, seperti aloe vera, yang kemudian dipadukan dengam batik bermotif kawung," kata Lia.

Muffest 2019
Acara La Mode Sur La Seine a Paris itu sekaligus menjadi peluncuran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019. Tahun depan, IFC akan menggelar bersama Dyandra Promosindo sebagai organizer pada 2-5 Mei di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta.

 “Muffest diarahkan sebagai muara dari perkembangan terkini industri fashion muslim Indonesia, yang meliputi segi kualitas, kuantitas, inovasi bisnis, teknologi, maupun tren. Perhelatan ini sebagai upaya memperluas akses dan meningkatkan kompetensi produk fashion muslim Indonesia agar dapat menguasai pasar lokal sekaligus mampu bersaing di pasar global. Pada akhirnya dapat mewujudkan Indonesia sebagai pusat belanja, produksi, dan barometer tren fashion muslim global,” papar Ali Charisma.

Muffest 2019 akan kembali menghadirkan pameran dagang yang memperkuat konsep ritel (business to customer/B2C) dan mengarahkan pada B2B (business to business). Jumlah penampil diperkirakan mencapai 400 usaha yang terbagi dalam kategori textile, syar’i, mens wear, urban, sport wear, leather, dan ethnic.

Acara peluncuran Muffest 2019 menampilkan koleksi dari 20 desainer peserta, di antaranya ialah Raegita Zoro yang menampilkan busana muslim bergaya futuristis. Kemudian ada pula Defika Hanum yang menampilkan gaya streetwear. (M-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya