Rampak Genteng Membuat Tanah Jatiwangi Lebih Bermartabat

Nurul Hidayah
02/12/2018 04:30
Rampak Genteng Membuat Tanah Jatiwangi Lebih Bermartabat
(ANTARA FOTO/Dedhez Angga)

RIBUAN orang terlihat memenuhi lapangan Jatiwangi Square akhir pekan
lalu. Mendung yang menggelayut tak membuat mereka bergeming. Tua, muda,
anak-anak, dan remaja sudah siap di posisinya masing-masing siap dengan 2 stik di tangan dan sebuah genting di depannya.

Saat hujan rintik mulai, pembacaan ikrar rakyat Jatiwangi dilakukan perwakilan pemerintah daerah. Tak lama kemudian, musik pun terdengar. Dengan semangat, semua peserta memukul genting menggunakan stik secara berirama. Sesekali stik juga saling dipukulkan mengikuti arahan masing-masing mentor yang ada di depan mereka.

Kemeriahan Rampak Genteng Jatiwangi ditambah dengan adanya peniup suling tanah, penabuh tambur, penari, hingga paduan suara yang bersatu dalam harmoni. Semua bergembira, semua bersemangat. Bahkan, saat lagu ketiga selesai dibawakan, teriakan 'we want more' pun membahana dari semua peserta. Akhirnya, satu lagu terakhir pun dinyanyikan dengan penuh semangat.

"Festival Rampak Genteng Jatiwangi ini memang melibatkan seluruh unsur warga Jatiwangi. Dan ini festival musik keramik satu-satunya di dunia," ungkap Ginggi Syarif Hasyim, Direktur Jatiwangi Art Factory, penggagas Festival Rampak Genteng.

Adapun peserta sebanyak 75 kelompok yang masing masing terdiri dari pelajar SD, SMP hingga SMA, mahasiswa, guru, dosen, buruh pabrik genting, polisi, TNI, birokrat, ibu PKK, karang taruna, serta berbagai komunitas dan kelompok paduan suara.

Sejak September lalu, mereka berlatih rampak bersama-sama, baik di
desa-desa maupun di sekolah-sekolah. Secara sukarela pula, pemuda dan
pemudi di Jatiwangi bergerak sebagai pelatih rampak setiap hari secara
rutin. "Hasilnya bisa dilihat hari ini, semua bersemangat, kompak dan
bergembira," ungkap Ginggi.

Tahun ini, untuk ketiga kalinya Festival Rampak Genteng Jatiwangi
diselenggarakan. "Penyelenggaraan kami gelar 3 tahun sekali," ungkap Ginggi, yaitu setiap tanggal 11 di bulan 11. Untuk tahun ini, sebanyak 9.000 genting dan 2.500 gentong yang disediakan habis digunakan peserta.

Angka 11.500 peserta ini lebih banyak jika dibandingkan dengan 2 kali penyelenggaraan sebelumnya. Pada penyelenggaraan pertama
melibatkan 1.002 peserta dan penyelenggaraan kedua pada 2015
melibatkan 7.000 peserta.

Membuat tradisi
Melalui festival Rampak Genteng, masyarakat Jatiwangi menurut Ginggi
ingin membuat tradisi. "Karena membuat tradisi itu merupakan hak dari
setiap manusia," ungkap Ginggi.

Selain itu, festival ini juga merupakan salah satu perwujudan ikrar Jatiwangi untuk terus melakukan inovasi tetapitetap menghargai karya-karya leluhur mereka. Selain itu, festival ini sebagai bentuk semangat gotong royong yang diperlihatkan masyarakat Jatiwangi.

"Karena festival dengan melibatkan ribuan orang ini tidak akan pernah berhasil tanpa adanya semangat kebersamaan dan gotong royong," ungkap Ginggi.

Jatiwangi yang terletak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, selama ini
memang dikenal dengan produksi gentingnya. Namun, dari hari ke hari,
jumlah pabrik genting mulai berkurang. Kondisi ini mulai terlihat
selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

Karena itu, festival ini juga menjadi salah satu cara untuk meneguhkan genting sebagai identitias warga Jatiwangi yang dibunyikan dengan lantang bersama dengan ribuan warga Jatiwangi dan sekitarnya.

Melalui festival musik keramik ini, warga sekaligus membangun kesepakatan untuk sebagai kota terakota, membangun budaya baru, dan
berinisiatif merancang kota oleh tangan dan pikiran warganya sendiri
untuk keberlangsungan tanah genting di Jatiwangi.

"Namun, yang lebih jauh sebenarnya bagaimana agar kami, masyarakat Jatiwangi, bisa mengelola tanah menjadi lebih bermartabat, menghormati lingkungan hidup dan menjaga agar kualitasnya lebih bagus lagi," ungkap Ginggi. (M-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya