Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EUIS kesal karena Abah tidak mengizinkannya menemui teman-teman kelompok menarinya. Akhirnya, gadis abege berusia 13 tahun itu nekat pergi tanpa sepengetahuan Abah dan Emak. Sepulangnya ke rumah, hari telah larut. Euis cuma mendapati diamnya Abah dan Emak saat ia meminta maaf.
Itulah sepenggal kisah film layar lebar Keluarga Cemara yang diputar khusus pada pembukaan Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018, Kamis (29/11). Film tersebut diadaptasi dari novel karya Arswendo Atmowiloto yang terbit awal 1980-an.
Sebelum menjadi film di era milenial ini, cerita Keluarga Cemara telah lebih dulu dialihwahanakan menjadi serial televisi pada kurun 1996-2005. Sebagaimana buku dan serial televisinya, film Keluarga Cemara yang disutradarai Yandy Laurens tersebut mengetengahkan nilai-nilai dalam keluarga. Nilai-nilai itu tecermin lewat berbagai konflik yang terjadi, dan kemudian bagaimana suatu keluarga mengatasinya.
Mulanya, keluarga Abah (Ringgo Agus Rahman) ialah keluarga yang mapan. Abah dan istrinya, Emak (Nirina Zubir), punya dua putri. Si sulung Euis (Zara JKT48), dan adiknya, Ara, alias Cemara (Widuri Puteri). Mereka tinggal di perumahan Ibu Kota, punya kendaraan roda empat.
Namun, suatu ketika, Abah kena tipu. Rumahnya disita, dan mobilnya terpaksa dijual untuk membayar gaji karyawan. Mau tak mau, mereka mesti pindah ke rumah sederhana warisan orangtua di daerah yang terpencil.
Dari sinilah konflik harian bermunculan. Seperti kekesalan Euis yang harus meninggalkan teman-teman kelompok menarinya, Emak yang terpaksa berutang ke rentenir, atau Abah yang kini mencari kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pada satu bagian, Abah, tanpa menanyakan keinginan Euis dan Ara, memutuskan untuk menjual rumah di desa dan kembali ke Jakarta. Padahal, istri dan anak-anaknya tidak menginginkan itu.
Abah, yang digambarkan berkarakter ekspresif, marah dan mengatakan seluruh keluarga ialah tanggung jawabnya. Ia lupa dalam keluarga ada kebersamaan, juga rasa saling percaya, dan terbuka. Abah baru tersadar ketika Euis kemudian bertanya, “Lalu, Abah tanggung jawab siapa?”
Ia terhenyak, tak bisa menjawab. Emak kemudian menghampiri, memeluknya, diikuti Euis dan Ara. Mereka lalu berpelukan dalam diam.
Kerinduan
Produser Keluarga Cemara, Anggia Kharisma, mengatakan pembuatan film tersebut dilatarbelakangi kerinduan terhadap film lokal bergenre keluarga yang lekat dengan nilai-nilai keluarga, seperti ketangguhan, kesabaran, keuletan, kebersamaan, dan komunikasi.
Menurutnya, praktis sejak serial televisi Keluarga Cemara berakhir, nyaris tidak ada lagi tontonan dengan genre dan muatan serupa. “Akhirnya kita bikin film keluarga yang nilai-nilai keluarganya masih melekat,” akunya.
Ia menambahkan, meski film Keluarga Cemara didasarkan pada novel Arswendo, elemen-elemennya disesuaikan dengan kondisi zaman sekarang. Umpama, soal pemakaian gawai, kesukaan Euis pada kegiatan dance, atau Abah yang akhirnya bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Di samping mengingatkan lagi akan nilai-nilai tradisional keluarga, film ini juga berupaya menunjukkan masih adanya kultur kekeluargaan pada masyarakat.
Ketika pertama kali berjualan opak di sekolah barunya, Euis sempat canggung dan malu. Namun, teman-teman sekolahnya ternyata justru menyemangati Euis dan membantunya berjualan. Kehangatan sikap tersebut mungkin tidak lagi mudah ditemui dalam kehidupan perkotaan yang cenderung individualistis.
Dalam film ini, kehadiran Ringgo dan Nirina yang identik dengan komedi mampu menciptakan atmosfer ringan. Kolaborasi keduanya acap membuat tawa penonton pecah, tapi bisa juga membuat haru biru .
Sosok Abah yang diperankan Ringgo menunjukkan karakter yang dinamis. Marah, menangis, dan kadang beraksi lucu.
Sementara itu, Emak yang dihidupkan Nirina bukan sekadar perempuan yang memasak dan melayani keluarga. Emak juga punya otoritas memberikan masukan kepada Abah dan menenangkan anak-anaknya ketika mereka kesal.
Menurut Yandy, sang sutradara, Emak memang sosok otoritatif. Bukan Emak masa lalu atau masa sekarang, tapi Emak yang mampu menjadi penyeimbang dalam sebuah hubungan keluarga dan komunikatif. “Ini yang Mas Arswendo ingin sampaikan dari Keluarga Cemara, kata Yandy.
Film yang penggarapannya hampir dua tahun itu terbukti dapat menjadi pelipur atas sepinya film bergenre keluarga. Keluarga Cemara yang akan beredar di bioskop pada Januari 2019 mampu menyuguhkan kebersamaan, ketangguhan, dan kesabaran dalam menghadapai berbagai persoalan. Sebuah kultur keluarga yang mulai luntur di zaman now. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved