Unjuk Rasa di Hibah Cipta Perdamaian

Muhammad Abdillah Marzuki
01/12/2018 03:00
Unjuk Rasa di Hibah Cipta Perdamaian
(Dok MI)

BAGAIMANA jika para seniman unjuk rasa? Tentu bisa dengan berbagai macam cara, bisa dengan membuat aktivitas seni di ruang-ruang publik, pembuatan karya, ataupun penyampaian gagasan secara langsung. Bisa juga dengan buku, seperti yang dilakukan penulis pada buku berjudul Unjuk Rasa: Aktivisme-Seni-Performativitas.

Buku yang diterbitkan Yayasan Kelola itu ialah unjuk rasa bentuk lain yang melibatkan beragam gagasan dan praktik seni. Para penulisnya ialah pekerja seni dan kalangan profesional yang mewakili strategi seni untuk transformasi sosial.

Penerbitan buku yang memuat 16 tulisan itu dilatari Program Hibah Cipta Perdamaian yang didukung Kedutaan Besar Denmark di Indonesia. Program itu telah dijalankan Yayasan Kelola sejak 2015. Program tersebut memfokuskan diri dalam pemberian dukungan untuk para seniman yang mengedepankan agenda transformasi sosial dalam praktik keseniannya. Utamanya para seniman yang tinggal dan berada di wilayah Indonesia tengah dan timur.

Buku ini menerjemahkan istilah ‘unjuk rasa’ sebagai suatu wacana estetik-politik dalam proses demokratisasi di Indonesia. Buku Unjuk Rasa menampilkan berbagai tulisan dan gagasan menarik; dari praktik berjalan kaki menelusuri dinding-dinding Kota Ambon yang menyimpan memori konflik, sampai bagaimana perencanaan ruang dan wajah kampung Kota Makassar yang menempatkan warga sebagai arsitek utamanya.

Setiap penulis dalam buku ini memiliki alur pikiran berbeda, gaya penulisan yang berbeda, dan titik awal pemikiran masing-masing sebab mereka menulis studi kasus yang berbeda.

“Dengan menerbitkan proposisi gagasan dan catatan proses dari 16 kontributor yang tersebar di berbagai lokasi dan punya konteks ma­sing-masing, harapannya bukan cuma untuk mengumpulkan pengalamannya, tetapi juga mengumpulkan jejaring pengetahuan dari pengalaman pengalaman itu. Oleh karena itulah, dia harus sebuah antologi, bukan cuma tulisan satu orang,” terang editor buku Brigitta Isabella seusai peluncuran buku.

Laku kewargaan
Buku ini diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan, antara lain, sejauh mana proses demokratisasi dapat dipraktikkan melalui berbagai laku kewargaan yang performatif, atau konfigurasi pengalaman dan pengetahuan seperti apakah yang secara ideal memadukan nilai-nilai estetis dan perilaku politis.

Menurut peneliti sekaligus aktivis HAM dan perempuan Andy Yentriyani, pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan penulis di dalam buku mengantarkan pembaca pada ruang dan proses pemaknaan ulang atas interaksi yang dibangun dengan medium seni dan perubahan sosial di sekelilingnya.

“Karenanya, buku ini menjadi sangat penting, terutama bagi warga yang peduli dan bekerja untuk perubahan sosial dalam segenap peran, tidak terbatas pada pekerja seni, aktivis, pendamping komunitas, dan pendidik,” terang Andy Yentriyani yang juga tergabung dalam Perkumpulan Bestari.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Melani Budianta mengungkapkan buku tersebut mewakili bangkitnya seni warga yang partisipatoris di berbagai pelosok Indonesia. Seni bangkit untuk membangun ruang-ruang dialog yang setara dan memberdayakan. “Buku ini sangat penting untuk membaca arah baru dari gerak seni, konteks baru,” tegas Melani.

Dia menambahkan unjuk rasa ialah ajakan untuk membangun pengetahuan bersama secara partisipatif melalui pengalaman kesehari­an menubuh dalam ruang waktu, mengolah kesabaran dan rasa sakit untuk merakit kembali kebersamaan melalui keriaan.

Salah satu penulis Morika Tetelepta menceritakan praktik berjalan kaki menelusuri dinding-dinding Kota Ambon yang menyimpan memori konflik. Mural difungsikan untuk merajut kembali kenangan sebelum konflik terjadi. Ingatan tentang konflik Maluku 1999 masih sangat membekas di antara para warga. Mereka menjadi korban dan saksi dari peristiwa memilukan itu. Masih banyak yang terlibat konflik batin, mereka masih menyimpan kecurigaan, ketakutan, dan stigma pada kelompok lain.

Lorong-lorong kota yang dahulu panas dan menjadi saksi bisu dari kon­flik berda­rah diubah menjadi tempat yang bisa dimasuki siapa pun, meskipun berbeda agama, klan, ataupun petuanan adat.

“Supaya mereka bisa keluar masuk di tempat-tempat yang selama ini mereka hindari. Bahkan, kalau hari ini kita bertengkar dengan orang berbeda agama, ketakutan untuk rusuh itu tinggi sekali. Tapi kalau dulu berantem, berantem aja tanpa perlu mikir ini Islam atau Kristen,” terang Morika.

Ruang publik itu juga digarap bersama dengan warga. Mereka dilibatkan secara aktif dalam pembuatan mural. Masyarakat bisa melihat orang baru datang dan ber­aktivitas seni di sana, di kampung mereka. Ternyata perubahan malah terjadi. Bahkan, mereka menyiapkan tenda untuk para seniman berkarya dan terlibat aktif. Dari situ lalu muncul relasi pertemanan dan jejaring pertemanan itu menjadi semakin kuat.

“Kalau aku berteman sama dia, kalau saya mau rusuh sama dia paling diingatkan, oh itu temanku. Seperti itu kita bikin,” tambahnya.

Sekolah film
Penulis lain, Manuel Alberto Maia dari Komunitas Film Kupang, menceritakan film menjadi salah satu media alternatif untuk melihat keragaman Indonesia. Menurutnya, pendidikan tidak merata di Indonesia. Sekolah film ataupun multimedia menjadi sangat mahal dan sangat berjarak sampai saat ini. Di sisi

lain, persoalan kemanusiaan luput dari perhatian media. “Ada realitas bahwa persoalan mendasar yang kita hadapi, persoalan kemanusiaan, itu kemudian jauh dari hiruk pikuk dari pemberitaan media. Media asyik dengan Ibu Kota dan lain sebagainya,” terang Abe.

Hal itu lalu mendorong Abe dan anak muda Kupang lain untuk membuat kelompok pemutaran film dan diskusi film. Tidak berhenti sampai di situ, mereka pun memproduksi film sendiri. “Kita berkeinginan film-film kita minimal bisa menjadi media alternatif untuk membicarakan realitas sosial yang ada di sekitar kami,” lanjutnya.

Selama ini Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal melalui kaca mata luar. Banyak sineas dari Ibu Kota yang membingkai NTT lalu menyu­guhkannya ke layar bioskop. “Kita ingin Indonesia yang beragam, benar-benar beragam dengan banyak cerita. Beragam bukan berarti bahwa hanya dari Jakarta melihat ke luar dengan banyak, tapi setiap orang punya kesempatan, di mana saja dia bisa bercerita tentang banyak hal. Keberagaman bisa bermula dari situ,” pungkas Abe. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya