Pelatihan Start-up Kewirausahaan bagi Remaja Disabilitas

Suryani Wandari
30/11/2018 17:05
Pelatihan Start-up Kewirausahaan bagi Remaja Disabilitas
()

MENGGUNAKAN bahasa isyarat, beberapa remaja penyandang disabilitas dari berbagai daerah mengikuti acara final pelatihan start-up kewirausahaanyang diadakan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Nasional, Kamis (29/11) di Jakarta. Para remaja dengan rentang usia 19 -35 tahun itu menyampaikan persentasi gagasan bisnis setiap kelompoknya.

Tidak hanya penyandang disabilitas fisik, kelompok peserta remaja tersebut juga mencakup penyandang disabilitas pendengaran dan disabilitas perkembangan otak. "Selama ini para penyandang disabilitas memang kesulitan untuk mencari pekerjaan. Karena baik pemerintah maupun swasta masih membuat persyaratan sep[erti sehat jasmani dan rohani. Padahal sebetulnya secara tidak langsung menggugurkan kesempatan penyandang disabilitqas untuk menunjukan potensinya," kata Judith Simbara, Vice Chairmanson YPAC Nasional. Dengan pelatihan kewirausahaan ini para remaja disabilitas diharapkan bisa mandiri menciptakan usaha yang bisa menghidupi diri dan keluarga.

Menurut World Health Organization (WHO), Penyandang disabilitas saat ini ada sekitar 15% dari jumlah penduduk dunia. Di Indonesia, jumlah penyandang disabilitas ditengarai ada sekitar 21 juta jiwa sedangkan yang termasuk usia produktif berdasarkan informasi Menteri Tenaga Kerja pada tahun 2017 ada sekitar 11 juta orang dan 4% diantaranya masih belum mendapatkan pekerjaan.

Judith menambahkan,  pelatihan itu juga sebegai pengenalan potensi penyandang disabilitas pada komunitas atau bahkan perusahaan. Kelompok dunia usaha diharapkan bisa menyadari bahwa penyandang disabilitas sebenarnya memiliki tingkat kcerdasan yang sama dengan orang normal.

Maka dalam pelatihan yang didukung Tokopedia itu para peserta berinteraksi dengan narasumber yang menduduki jabatan pucuk pimpinan di perusahaan. "Saya kagum dengan kemampuan mereka, rupanya mereka bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh staff di sebuah kantor," kata Viktor Yanuar S, CEO dan CO Founder Excellence.asia.

Viktor yang juga mengajar pada pelatihan yang diadakan selama 2 bulan ini menjelaskan jika materi yang diberikan berfokus pada yang bergerak pada bidang Informasi Teknologi (IT), termasuk pula pengenalan proses pengadaan barang pada sebuah e-commers. Selain Viktor, ada pula 29 pakar start-up lainnya yang menjadi pemateri.

Beberapa bisnis yang diusulkan pra peserta pelatihan yang terbagi dalam 6 tim itu antara lain, usaha kuliner ayam goreng dan dodol mangrove; usaha tekstil hingga usaha jasa penyelenggara event pesta. "Sebelumnya memang sudah mendengar ada dodol mangrove, ternyata rasanya unik manis dan asam. Saya ingin juga mengembamngkannya. Mudah-mudahan ide ini terwujud," kata Riyadi Cahyo Utomo salah satu peserta. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya