20 tahun Hilang, Saman Bale Asam Kembali Dihidupkan

Suryani Wandari Putri
26/11/2018 09:30
20 tahun Hilang, Saman Bale Asam Kembali Dihidupkan
(MI/Wandari)

Berbicara Aceh tentunya tidak lepas dari tarian satu ini, saman. Namun ada yang berbeda dengan tarian saman satu ini. Saman bale asem atau seni pertunjukan dengan syair yang menunjukan permohonan maaf dan terima kasih.

Tarian saman ini sudah hampir 20 tahun menghilang dan kembali ditariakn untuk Festival Budaya Saman yang sudah berlangsung sejak 2 Oktober silam. Di penutupan yang berlangsung di Stadion Seribu Bukit di Gayo Lues, Aceh, Sabtu (24/11) melibatkan 660 penari. Di mana 330 penari saman bale asem pria dan 330 lainnya merupakan penari Bines perempuan dari 11 kecamatan di Kabupaten Gayo Lues.

Dalam program yang diinisiasi Direktur Jenderal Kebudayaan–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini dilakukan beragam aktivitas. Seperti workshop Saman, kompetisi Bines, kompetisi Kerawang Gayo, kompetisi kopi, dan kompetisi musik etnik yang diisi para tokoh atau ahli. Penutupan itu pun sekaligus menutup rangkaian Gayo Alas Mountain International (GAMI) Festival yang diselenggarakan KemenkoPMK September lalu.

Saman Bale Asam memang belum banyak dikenal orang. Menurut Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru, tradisi ini sudah jarang ditemui sekarang. "Bale Asam ini biasanya dilakukan untuk menutup Bejamu Saman, namun kini sudah tak pernah dilakukan lebih dari 20 tahun yang lalu," kata Muhammad Amru dalam sambutannya.

Kini Bale Asam kembali dihidupkan melalui platform yang diinisiasi  Direktorat Jenderal Kebudayaan-Kemendikbud sebagai pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang. Platform ini menghadirkan rekontruksi Bale Asam semirip mungkin dengan aslinya, tujuannya agar generasi sekarang mengetahui tradisi itu ada.

Tradisi Bejamu Saman telah membudaya dalam masyarakat Gayo Lues sejak zaman dahulu yang biasanya dilaksanakan pascamasa panen selama dua hari dua malam. Tradisi ini mengundang pemuda dari desa lain untuk bermain Saman dengan tujuan menjalin persaudaraan dan bersaing gerakan Saman siapa yang paling variatif dan sulit ditiru.

Dilansir dari situs resmi milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, dalam acara Saman Bale Asem panitia mengundang grup saman dari berbagai desa untuk bertemu dan bertanding. Tak heran gerakannya berbeda-bedak sesuai tradisi daerahnya masing-masing.

"Rekontruksi yang dilakukan barengan ini bukan menonjolkan kekompakan semua peserta tetapi dimaksudkan untuk memperlihatkan betapa banyaknya variasi penampilan saman khusuanya koreografi dan seni gerak," lanjut Muhammad Amru.

Dalam konsep lomba, kegiatan ini melahirkan enam grup Saman terbaik dan berhak atas sejumlah hadiah uang tunai jutaan rupiah. Setiap grup saling diadu kecakapannya, terutama penciptaan gerakan baru yang tidak dapat ditiru oleh grup lawan. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya