Mengamuk dan Bersenang-senang

Abdillah Marzuqi
25/11/2018 01:20
Mengamuk dan Bersenang-senang
MI/RAMDANI( MI/RAMDANI)

DI ruangan berbentuk 3 meter x 5 meter itu sebuah meja silinder mirip drum di tempatkan di tengah ruangan. Selain itu, ada pula botol-botol kaca.

Seperti tidak ada yang berbahaya tetapi mereka yang akan masuk ruangan itu harus mengenakan pelindung tubuh, mulai wearpack, helm, safety shoes, dan masker wajah.

Potensi bahaya memang bukan dari ruangan itu sendiri, melainkan dari kegiatan yang dilakukan pengunjung. Dibekali dengan alat pemukul, pengunjung boleh sesuka hati memecahkan botol-botol yang disediakan. Maka tidak berapa lama, beling pun beterbangan ke segala arah.

Pemandangannya brutal meski begitu tidak pula menyeramkan. Malah ada pula yang tampak sangat bersenang-senang di ruang itu.

Begitulah suasana di Ruang Amuk di Temper Clinic, Mampang, Jakarta. Sesuai namanya, Temper Clinic memang memberikan tempat untuk menyalurkan amarah. Meski baru di Jakarta, fasilitas serupa sudah ada di Jepang sejak 2008 dan menyebar ke Australia serta Italia.

Di Jakarta, tempat yang berdiri Agustus 2018 tersebut dimotori empat sahabat. Salah satunya ialah Masagus Yusuf Albar yang akrab disapa Eron.

Alasan pendirian itu juga disertai pertimbangan melihat kondisi masyarakat yang hidup di Jakarta. Mereka suka dengan segala hal yang berbau baru dan unik. Mereka juga kerap dilanda berbagai persoalan hidup yang membuat stres. Mereka butuh media sebagai peluapan berbagai rasa stres, patah hati, putus cinta, kesal, atau hanya untuk bersenang-senang tanpa merasa bersalah dengan memecahkan berbagai barang yang memang diperbolehkan. Dari pertimbangan itu, Eron lalu mendirikan Temper Clinic pada akhir Agustus 2018.

"Background-nya kenapa ada Temper Clinic. Kita lihat sih situasi di Jakarta. Orang jakarta itu, satu, seneng sama suatu hal yang baru. Kedua, orang Jakarta banyak pressure di hidupnya, banyak stres. Contohnya banyak, ada satu karena macet lah, di kantor deadline, dimarahin bos, ditolak cewek, diputusin cewek," lanjut Eron.

Selain itu, Temper Clinic juga mempunyai tujuan lain, yakni ingin memberikan fasilitas bagi para pencari katarsis dengan kekerasan. Orang jenis ini cenderung untuk menghancurkan sesuatu sebagai pelepasan emosi dan amarah. Jika pelepasan amarah dilakukan di tempat umum, akan muncul banyak masalah. Oleh karenanya, guna dari Temper Clinic juga sekaligus untuk menyelamatkan fasilitas publik.

"Tapi salah satu pesan yang ingin kita kasih itu sebenarnya adalah kalau kita lihat zaman dulu banyak public vandalism, jadi orang-orang hancurkan fasilitas umum, kayak telepon umum dicoret-coret, gagangnya dicuri. Itu kita ingin kasih tempat orang-orang main ke tempat kita. Hancurkan barang, ngapainlah, terserah apa yang mereka mau dalam ruangan itu dengan aman dan enggak merusak kepentingan orang lain," ujar Eron.

Senang-senang
Nyatanya pengunjung Temper Clinic memang bukan selalu orang yang penuh kemarahan. Contohnya ialah duo sahabat Helena Siagian dan Chrisman Panggabean.

Mereka datang untuk bersenang-senang. "Saya tahu Temper Clinic dari TV, waktu itu ada owner-nya kasih tahu soal tempat ini. Awalnya biasa saja, terus lihat cuplikan ancur-ancurin barang, kayaknya seru, terus mau coba," terang Helena.

Meski kali itu datang untuk bersenang-senang, perempuan berusia 23 tahun ini mengakui jika tempat itu mungkin bisa pula menjadi pelampiasan amarah. Setelah mencoba fasilitas Ruang Amuk, ia dan Chrisman pun berpikir semestinya bisa datang bersama ketika beberapa minggu lalu mereka mengalami masalah. Bukan untuk menyakiti tetapi untuk meluapkan kekesalan bersama.

"Iya bener. Memang rasanya jadi agak plong sih. Jadi lega gitu perasaannya," tambah Helena.

Sementara itu, Chrisman merasa kembali ke masa kecil. "Karena kalau sudah gede jarang berantem ya. Kalau dulu waktu kecil ada pelampiasan pukul siapa gitu kalau emosi. Kalau sekarang enggak ada. Kebetulan ada tempat ini jadi kayak berasa kecil lagi. Bisa lempar apa saja dan pukul apa saja," terang pria 30 tahun ini.

Mereka pun kompak merasa bakal kembali ke tempat itu. "Pasti ya (datang kembali), sudah jadi kayak salah satu tempat pelarian. Karena tiap bulan hampir ada masalah ya," ujarnya.

"Ya masalah di kerjaan, sama teman-teman dan lain, jadi selalu ada alasan untuk ke sini," tambah Chrisman. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya