Tampang Berduwak

Ono Sarwono
25/11/2018 01:00
Tampang Berduwak
(Dok MI)

BELUM lama ini jagat politik di negeri ini kembali ‘geger’. Lagi-lagi itu terjadi akibat soal ucapan salah satu calon presiden ketika berkampanye. Ia mengatakan, orang tampang Boyolali (Jawa Tengah) tidak bisa masuk (menginap) di hotel-hotel mewah karena tidak mampu. Mungkin tidak bermaksud merendahkan atau sekadar bercanda, tetapi mengidentikkan tampang dengan ketidakmampuan (kemiskinan) tidak tepat.

Dalam kenyataannya, orang bertampang melarat tetapi kaya berjumlah tidak sedikit. Sebaliknya, juga banyak yang bertampang priyayi, klimis, perlente, ternyata miskin karena masih getol korupsi. Jadi, tampang tidak selalu mewakili tentang kemelaratan ataupun ketajiran.
Kalau dalam dunia pakeliran, pada umumnya tampang merupakan gambaran mental, watak atau kepribadian. Namun, itu pun ternyata tidak berlaku mutlak. Misalnya, tampang buta atau raksasa tidak semuanya melambangkan keangkaramurkaan atau keburukan. Contohnya, Kumbakarna.

Anak Wisrawa-Sukesi
Kumbakarna ialah gambaran buta yang ‘sempurna’. Tubuhnya sebesar gunung anakan, raut mukanya merah, matanya nanar melotot, giginya bak gergaji dengan taring runcing yang mingis-mingis (tajam) seperti belati, dan rambutnya gimbal panjang menjuntai. Jadi, tampak sangat menggiriskan. Belum lagi vokalnya yang menggelegar.

Dalang kondang Ki Narto Sabdo (alm) ketika menyanggit kerap menyebut, Kumbakarna jika bersin suaranya bagaikan geledek. Bila batuk, suaranya terdengar segerdhu-gerdhu, maksudnya sangat keras. Kalau membersihkan selilit di antara gigi, dengan menggunakan linggis.    

Dengan melihat tampang dan ciri-ciri serta kebiasaan yang melekat, sangat bisa dimengerti jika Kumbakarna dapat disimpulkan sebagai golongan berduwak (raksasa, bekasaan, atau genderuwo). Dengan kata lain, merupakan titah leletheking jagat, terburuk sejagat. Akan tetapi, ternyata itu terbalik dengan kenyataannya.

Kumbakarna lahir sebagai anak kedua pasangan Wisrawa-Sukesi. Wisrawa ialah mantan raja di Lokapala, sedangkan Sukesi ialah putri Prabu Sumali, penguasa Alengka. Pernikahan keduanya sempat menggegerkan dunia karena Wisrawa yang sudah menanggalkan kenikmatan dunia dengan bersumpah menjadi resi, kanyut (terpikat) dengan keayuan Sukesi, yang sebenarnya putri impian dan pujaan putranya, Danapati.   

Kakak Kumbakarna bernama Rahwana atau Dasamuka, yang kemudian menjadi raja di Alengka menggantikan kakeknya, Sumali. Adapun adiknya ada dua, yakni Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Dari keluarga empat bersaudara itu, hanya ragilnya, Gunawan, yang bertampang kesatria.

Kumbakarna lahir di istana Alengka ketika negara itu masih dipimpin kakeknya. Namun, di usia dewasanya, Kumbakarna tinggal di Kesatrian Pangleburgangsa. Ia memiliki seorang istri berwangsa bidadari bernama Bathari Aswani dan berputra dua, Kumbakumba dan Aswanikumba.

Kumbakarna sangat sayang kepada semua saudaranya. Mereka saling berbagi kasih. Sebagai generasi penerus, keempatnya berjuang bersama demi kejayaan Alengka. Ia bersama Gunawan pernah membantu sang kakak menyerang Kahyangan Jonggring Saloka karena sebuah cita-cita.

Namun, watak asli (kesatria) Kumbakarna muncul ketika Dasamuka menculik Dewi Sinta dari tangan Rama Regawa di Hutan Dandaka. Apa pun alasannya, Kumbakarna menolak perbuatan sang kakak yang ia nilai hina.
 
Bertapa di Gohkarna
Aksi Dasamuka yang ingin memperistri Sinta dengan cara seperti itu menjadi awal keretakan hubungannya dengan sang kakak. Sejak Sinta disandera Dasamuka di Taman Argasonya yang asri untuk diemis cintanya, Kumbakarna malas sowan ke istana Alengka. Itulah sikap keras yang ia tunjukkan karena ketidaksetujuannya.

Kumbakarna malu terhadap perilaku sang kakak yang melenceng dari garis keutamaan. Apalagi, Sinta ialah istri sah Rama, kesatria dari Negara Ayodya. Alasan Dasamuka yang setiap hari ia gembar-gemborkan bahwa niatnya memiliki Sinta--titisan Dewi Sri Widawati--ialah demi kemakmuran dan kejayaan Alengka, ia tolak mentah-mentah.

Kumbakarna setiap saat menyarankan sang kakak untuk mengembalikan Sinta kepada Rama. Itu demi harkat dan martabat Dasamuka sendiri sebagai raja dan juga untuk kehormatan bangsa Alengka.

Bila sarannya diabaikan, ia memastikan Alengka pasti akan menghadapi bebendu (hukuman) dari dewa. Alasannya, Rama ialah titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan yang berwenang menegakkan ketenteraman jagat. Kodratnya, Wisnu berpasangan dengan Dewi Sri Widowati. Jadi, Sinta memang sudah digariskan menjadi pasangan Rama, bukan Dasamuka.

Namun, Dasamuka yang sudah terbuai nafsu, tidak menggubris setiap upaya yang ingin mengagalkan keinginannya. Bahkan, ia mengeluarkan sabda raja, siapa pun yang tidak menyetujui keputusannya, dipersilakan meninggalkan Alengka. Inilah yang membuat Kumbakarna makin mengeras.

Kumbakarna lalu minta pamit untuk tidak sudi lagi menyentuh lantai istana. Ia tidak akan ikut cawe-cawe (bertanggung jawab) jika terjadi apa-apa yang melanda Alengka. Langkah serupa diikuti Gunawan. Malah Gunawan lebih drastis, menyeberang mengabdi kepada Rama.     
Beda dengan Gunawan, Kumbakarna tidak meninggalkan tanah airnya. Ia memilih menjalani laku prihatin dengan cara bertapa tidur di Gunung Gohmuka. Gambaran saking lamanya bertapa, kedua putranya yang ketika ia tinggal masih kecil, hingga sudah beranjak dewasa. Pada saat itulah Alengka diserbu oleh pasukan Rama.

Dasamuka kewalahan menghadapi gempuran Rama yang dibantu ribuan bala tentara kera dari Goa Kiskenda yang dipimpin Sugriwa. Senapati-senapati yang ia unggulkan mati di medan perang. Pada situasi krisis ini ia ingat Kumbakarna yang ia yakini mampu menandingi Rama.

Jadi kusuma bangsa
Betapa gusarnya Kumbakarna ketika ia dibangunkan Indrajit--putra Dasamuka--dari tapa tidurnya dengan paksa dan diberi tahu bahwa kedua putranya telah gugur di medan perang. Ia marah kepada sang kakak yang telah mengirim kedua anaknya yang masih ingusan menghadapi Rama.

Di depan sang kakak, Kumbakarna menegaskan pendiriannya tetap tidak berubah. Bahkan, ia mengatakan apa yang terjadi di Alengka merupakan tanggung jawab Dasamuka. Namun, demi cinta tanah airnya, ia menyatakan siap terjun ke palagan menghadapi Rama.
Tidak terbilang prajurit wanara pendukung Rama yang mati karena amukan Kumbakarna. Akan tetapi, inilah garis hidupnya, Kumbakarna akhirnya gugur di palagan sebagai kusuma bangsa. Rama pun menghormati Kumbakarna karena dedikasinya sebagai kesatria yang membela tanah airnya.

Poin kisah ini ialah bahwa Kumbakarna yang bertampang berduwak ternyata berkepribadian mulia dan luhur. Ia berwatak kesatria meskipun seluruh badannya menggambarkan keburukan. Hikmahnya, jangan simpulkan orang dari tampangnya, tetapi lihatlah dari jejak perilaku dan pengabdiannya. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya