Ayo Makan Ikan

SURYANI WANDARI PUTRI
25/11/2018 00:20
Ayo Makan Ikan
(MI/Duta)

DUDUK di panggung ditemani ibunya, Zufar Hanasta, siswa kelas 4 MI Perwanida Blitar itu blakblakan mengaku sangat menyukai masakan sang ibu. Bahkan, saat dirinya mengikuti Olimpiade Matematika di Hong Kong beberapa waktu belakangan ini, masakan ibunyalah yang ia rindukan. “Aku memang suka makan ikan, gurami kesukaanku.

Apalagi ibu selalu membuatnya menjadi beragam masakan,” ungkap siswa yang akrab disapa Fajar dalam peluncuran program Sobat Cerdas Sarden ABC di Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (9/11).
Ibunya selalu mengeksplorasi beragam masakan ikan baik digoreng tepung, bakar, maupun pakai saus balado lo sobat.

Hingga Fajar pun tidak merasa bosan nih. Sobat Medi tentu sudah tahu kan selain enak, ikan menjadi sumber protein dan mengandung nilai gizi yang lebih dari susu lo. Wah tak heran Fajar berhasil membawa medali emas pada Olimpiade bertaraf internasional itu ya. Selain Fajar, ada pula Muhammad Fikri Aufa, siswa SDIT Cahaya Insanin Temanggung, Jawa Tengah, dan Lutfi Bima Putra siswa SMP Kharisma Putra, Banten, yang juga berhasil mengharumkan Indonesia.

Mereka kembali ke Tanah Air dengan membawa medali emas pada Olimpiade internasional di bidang matematika dan sains lo. Ya sobat, anak Indonesia pintar-pintar ya. Sebenarnya bagaimana tingkat kecerdasan anak Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain? Menurut penilaian Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih jauh dari peringkat 10 besar dunia lo sobat.

 “Menurut PISA, kepintaran anak Indonesia usia 15 tahun berada di posisi ke-62 dari 72 negara yang diukur melalui kombinasi kemampuan membaca, sains, dan matematika,” kata Kak Ardiellaputri Annisa, Marketing Manager Kraft Heinz ABC Indonesia. Sayangnya selama bertahun-tahun, peringkat itu tidak mengalami perubahan.

Kandungan dalam ikan yang banyak itu bagus lo menambah gizi kita. Apalagi ikan mudah ditemukan karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Ditambah lagi pemerintah melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti menggalangkan gerakan makan ikan. Jadi ayo sobat, mari kita makan ikan.

Peringkat PISA

Anak Indonesia memang banyak meng ukir prestasi di kancah internasional ya sobat. Sayangnya belum cukup untuk mengimbangi kepintaran anak-anak dari negara lain. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia sempat berada di peringkat ke-38 pada 2000.

Namun, bukannya meningkat, melainkan turun ke peringkat ke-62 dari 72 negara. “Yang perlu diperhatikan, dari tahun 2000 peringkat anak Indonesia dari ke-38, kini menjadi ke-62,” kata Ardiellaputri A nnisa. Saat ini peringkat pertama diduduki negara tetangga kita, Singapura. Kak Annisa pun menerangkan pengukuran dari penilaian itu dilihat dari anakanak usia 15 tahun dengan melakukan tes setiap tiga tahun sekali.

Selain bisa membaca, menulis, dan menghitung penilaian pun didasari dengan pemahaman anakanak terhadap pelajaran dan diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. “Seperti membaca, bukan hanya sekadar membaca. Namun, bagaimana anak mengerti dan memahami ide pokok dan pesan yang ingin disampaikan. Begitu pun matematika yang dikaitkan dengan kasus atau masalah dalam kehidupan sehari-hari, atau sains yang menguji pemahaman anak, mengaitkan apa yang dipelajari di sekolah dengan alam,” kata kak Annisa.

Ikan baik untuk kecerdasan
Kandungan nutrisi pada ikan untuk kecerdasan memang tidak diragukan lagi ya sobat. Namun, sebenarnya ikan kaleng sehat atau tidak ya? Banyak yang berpendapat ikan yang sudah melalui proses alat dan pengawetan melalui kaleng mengurangi kadar nutrisinya.

Padahal, menurut ahli nutrisi, Pak Ali Khomsan, pendapat itu salah lo sobat. “Perbandingan pada ikan mentah dan ikan yang telah diproses, nilai nutrisinya hanya turun 1%,” kata Pak Ali. Ia menjelaskan proses pemasakan dengan bumbu pun tak ada salahnya. Kita bisa mendapatkan rasa enak dan kandungan nilai gizi yang bagus kan sobat.

Pemilihan jenis ikan pun tidak dilarang lo, ikan air tawar dan ikan laut keduanya memiliki nutrisi yang baik untuk tubuh. “Namun, jika diniatkan untuk perkembangan otak, konsumsi Ikan air laut lebih disarankan karena kandungan omega 3 pada ikan air laut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan air tawar,” lanjut Pak Ali. Kandungan nutrisi protein, omega 3 dan 6 ini dapat kalian temui pada ikan laut.

Salah satunya sarden atau makarel yang hidup di laut dalam yang tentunya kandungannya terjaga dengan baik. “Pilihan lain pun ada pada ikan salmon dan ikan tuna,” pungkas Pak Ali.

Berprestasi ala juara Olimpiade
Sobat, tahukah kamu ada 3 faktor yang menentukan kecerdasan. “Faktor tersebut adalah genetik, asupan makanan, dan lingkungan,” kata Pak Ali. Namun, faktor genetik atau keturunan itu hanya menyumbang sedikit dalam kecerdasan anak lo. Selain makanan yang dijaga, Zufar Hanasta, Muhammad Fikri Aufa, dan Lutfi Bima Putra mengaku harus selalu belajar. Sepulang sekolah, mereka tidak lupa mengulang materi yang ada, meskipun hanya beberapa menit lo.

“Pulang sekolah, langsung baca buku lagi, minimal 5 menit agar pelajaran di sekolah tadi menempel,” kata Fajar.

Setelah belajar, mereka bermain lo. Akan tetapi, bukan permainan yang ada di gadget ya, mereka lebih memilih mobilmobilan atau permaian lainnya, tapi tetap ada porsinya ya. Tak hanya itu, untuk tidak membosankan dan tidak menjadi beban, pelajaran matematika ini dibuat senyaman mungkin bahkan menjadi kesukaan sejak kecil lo. Jadi, mereka senang belajar. Wah keren ya sobat? Kamu bisa mencontohnya nih agar bisa cerdas dan berprestasi. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya