Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BILA jaket identik dengan pakaian, tapi bukan untuk makanan satu ini, jenang jaket alias jenang asli ketan. Jenang yang diproduksi pasangan Salimin dan Sri Monah dari Kelurahan Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur ini merupakan generasi kedua. Mereka meneruskan usaha orangtuanya yang dirintis pada 1980.
Warna cokelat dengan rasa legit dan manis ini sangat menggoda lidah. Tersedia dua rasa jenang, polos dan wijen. “Menikmati kopi atau teh di sore hari sangat cocok jika dibarengkan dengan kudapan jenang jaket. Rasanya yang
manis dan ada gurih-gurihnya membuat lidah benar-benar dimanjakan.
Kalau saya, suka yang ada wijennya, karena gurihnya semakin terasa,” ungkap Dian, 42, pelanggan jenang jaket kepada Media Indonesia pekan lalu. Jenang jaket dari kelurahan Mersi ini berhasil mempertahankan kualitas rasanya selama 38 tahun karena seleksi bahan utama yang ketat. Ada tida bahan utama pembuatan jenang jaket, tepung beras ketan, santan, dan gula merah.
Ketiga bahan itu dipadukan dalam wajan besar bernama ‘jadi’ berukuran 1,5 meter di atas tungku dengan kayu bakar. Semua bahan diaduk selama empat jam tanpa henti agar tidak lengket. Setelah matang, jenang tersebut kemudian diletakkan ke tampah. Begitu dingin, kemudian diiris-iris dengan ukuran kecil.
“Untuk rasa, kami menggunakan bahan-bahan pilihan dan berkualitas. Misalnya tepung beras ketan, kemudian gula jawa yang asli serta santan kental yang baru diperas sehingga akan memperoleh jenang yang legit dan gurih. Jenang jaket produksi kami maksimal bertahan 10 hari karena tidak menggunakan bahan pengawet,” kata Sri. Untuk menikmati jenang jaket polos cukup merogoh kocek Rp14 ribu per bungkus berisi 10 jenang, sedangkan wijen Rp15 ribu. “Masingmasing memiliki keunikan rasa sesuai dengan selera konsumen,” ungkapnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved