Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TOPENG-TOPENG aneka warna dan bentuk tertempel pada kain putih terpasang di salah satu dinding di ruangan auditorium Labschool, Rawamangun, Jakarta. Di ruangan tersebut, satu per satu dari 10 siswa SMP yang ikut Labs Wicara mempresentasikan karya ilmiah mereka.
Tema-tema yang dipresentasikan mereka ternyata menarik perhatian para juri. Tak pelak sesekali terdengar decak kagum dan tepuk tangan setelah para penyaji selesai menyampaikan karya tulis mereka. Mereka yang tampil Kamis (8/11), merupakan siswa SMP kelas 9. Mereka memaparkan karya mereka dihadapan para orangtua dan siswa kelas 7 dan 8.
Sejumlah karya tulis itu menarik dan terkadang tidak terpikirkan. Seperti karya yang ditulis Adra Almeira Zakianto. Adra menuliskan peran bystander sebagai penyelamat. Bagi sebagian orang kata bystander jarang didengar dikalangan masyarakat Indonesia. bystander merupakan istilah bagi seorang saksi mata dalam permasalahan perundungan, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Sosok bystander di mata Adra berperan penting yang seharusnya menolong korban perundungan dan bukan mendiamkannya. Nyatanya, bystander yang dipermaslahkan Adra ini merupakanistilah dari psikologi sosial yang dinamakan efek bystander. Adra menampilkan studi kasus efek bystander yang bisa berujung kematian kepada seseorang atau korban perundungan.
“Dalam mengatasi bullying di sekolah, peran bystander perlu diarahkan untuk bertindak membantu korban bullying. Caranya, antara lain dengan memberikan sosialisasi tentang peran bystander yang dapat menolong korban bullying. Berikutnya, melalui simulasi bermain peran sehingga bystander bisa merasakan bagaimana tidak nyamannya jika menjadi korban bullying. Dengan demikian, peristiwa bullying dapat dicegah, bahkan dapat dihentikan,” ungkap Adra dalam penutupan presentasinya.
Berkhayal
Kasus berbeda dipaparkan Aritya Azkah Nirwasita. Siswi yang akrab disapa Azkah ini mengangkat tema Maladaptive daydreaming atau disingkat menjadi MD. MD ini merupakan kondisi seseorang terlalu banyak mengkhayal. MD bisa berakibat buruk, bahkan memengaruhi orang tersebut dan lingkungannya.
Pasalnya, MD ini bisa menyebabkan seseorang meninggalkan kebutuhan pokok mereka, seperti makan, mandi, dan tidur. Bila terlalu lama mengidap itu, mereka tidak akan memiliki kendali untuk membedakan dunia khayalan dan nyata
sehingga terjebak dalam dunia khayalnya, bahkan memiliki penyakit mental atau kejiwaan.
“Untuk mencegah kita terjebak dalam kondisi MD, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain menulis jurnal untuk mencoba mengendalikan khayalan kita atau berbicara kepada orang yang dipercaya. Jika sudah sangat mengganggu segera cari bantuan profesional. Dengan mengetahui gejalagejala MD diharapkan kita dapat menyadari bila kita atau teman kita menderita MD sehingga dapat diatasi dengan cepat,” ungkap Azkah.
Sudut pandang Kegiatan Labs Wicara merupakan wadah bagi para siswa SMP menyampaikan pendapat mereka akan suatu masalah. Terkadang masalah yang dianggap sepele bagi sejumlah orang, ternyata berakibat fatal bila d i b i a r - kan. Karya tulis mereka ini bukan semata pandangan mereka. Namun, bisa dipertanggungjawabkan.
“Ini bermula dari ada suatu kewajiban bagi siswa SMP Labschool Jakarta memilikipengalaman menulis karya tulis. Di samping menulis, mereka juga harus mempertanggungjawabkan tulisan mereka di depan penguji. Jadi lulusan SMP harus memiliki profi l memiliki pengalaman menulis karya tulis.
Kami ingin membekali anak-anak, jika nanti mereka kuliah pun sudah bisa menulis,” ungkap Asdi Wiharto, Kepala SMP Labschool Jakarta. Ahmad Mulyadi, guru sekaligus Ketua
Program Labs Wicara ini mengaku kegiatan ini terinspirasi dari program TED Talk di luar negeri.
Program ini berisi pemaparan suatu topik dalam pelbagai isu dan sudut pandang. Tentu, isu-isu yang dibicarakan sangat beragam dan merentang, mulai kehidupan seharihari yang sederhana, hingga persoalan kemanusiaan, politik, perempuan, hukum, teknologi, dan musik. Acara ini melibatkan para ahli atau anak yang dianggap jenius dan berbakat istimewa sehingga mereka memiliki kompetensi untuk berbicara.
“Program ini diharapkan mampu memberi panggung aktualisasi, lebih dari itu diharapkan menyadarkan kita, anak-anak ini pada kesehariannya mungkin terlihat terlampau sering bermain, ternyata menyimpan banyak pemikiran menarik dari apa yang mereka saksikan, serap, dan amati. Sebagaimana TED talk, kegiatan Labs Wicara menyajikan siswa-siswa pilihan dari seluruh siswa SMP Labschool yang tentu saja istimewa.” ungkap Ahmad Mulyadi. Dalam kesempatan kali ini, ada 10 siswa yang terpilih untuk berbicara. Dari proses sebelumnya sebanyak 20 orang. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved