Nenemo, Gerak Tubuh Keikhlasan Petani

(M-4)
18/11/2018 02:00
Nenemo, Gerak Tubuh Keikhlasan Petani
(MI/Ebet)

NEMEN, nedes, nerimo yang berakar dari prinsip Piil Pesenggiri masyarakat Tulang Bawang Barat, Lampung, terinterpretasi dalam gerak tubuh para penari Nenemo. Mereka dikenal sebagai pekerja keras, tahan banting, dan ikhlas dalam menjalani kehidupannya sebagai petani.

Sederet orang bercaping membungkukkan badan, mengangkat kaki mereka seirama dengan gerak menyilang tongkat kayu sepanjang 2,5 meter. Beberapa kali dalam gerakan itu memperlihatkan repetisi menghunjamkan tongkat kayu ke tanah. Persis seperti ketika para petani hendak menanam benih atau dengan gerak tangan yang seolah tengah memetik tanaman. Sementara itu, bunyi musik bambu yang dinamakan Q Thic menjadi pengiring tempo pergerakan mereka, yang tidak menggunakan alas kaki.

Tarian Nenemo memang tercipta dari proses riset yang merepresentasikan laku keseharian masyarakat di Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, sebagai petani. Kabupaten yang baru lahir pada 2008 dari sempalan pemekaran wilayah Tulang Bawang ini memiliki multietnik, seperti kita mengenal Lampung pada identitasnya sebagai tanah transmigrasi.

Suku Jawa, Sunda, Bali, bermukim di sini, menghidupi laku kesenian dan kebudayaan mereka sendiri. Meski tumbuh dengan langgam budaya mereka masing-masing, toh ada ciri yang menjadi benang merah bagi lapisan masyarakat di Tubaba sebagai kabupaten baru. Mereka sama-sama bertani, berladang, dan berkebun.

Koreografer Hartati yang ditunjuk studiohanafi sebagai mitra pemerintah daerah Tubaba pun melakukan risetnya sekira tiga tahun silam. Ia pun menangkap narasi bahwa Tubaba perlu memiliki identitas lain yang mampu mengartikulasikan komunalisme Tubaba.

"Berangkat dari keseharian mereka, kemudian terlahir konsep tubuh petani, bagaimana mengekspresikan tubuh petani. Melalui judul Nenemo, kemudian menjadi dorongan lagi dalam spirit gerakannya, nemen, nedes, dan nerimo, yaitu bekerja keras, tidak menyerah, dan selalu ikhlas, itulah yang menjadi dorongan untuk bentuk geraknya," ungkapnya saat ditemui di kawasan Islamic Center Tulang Bawang Barat, Senin (12/11).

Kaki elemen utama
Dalam gerak tari Nenemo, Hartati mengungkapkan tidak ada pakem gerakan. Namun, ia mengungkapkan dalam tari ini elemen utama yang terpenting ialah gerak kaki. Pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pun mengungkap gerak kakinya menyerap dari beberapa gerak yang ada di dalam tarian Bedana Lampung, suatu tarian dari jenis zapin yang menurutnya hampir bisa ditemukan di banyak wilayah di Indonesia dengan berbagai nama.

"Kaki menjadi elemen utama, dan gerak badan. Karena di sini punya tari Bedana yang punya banyak gerak kaki, saya kembangkan dari gerak-gerak kaki itu, tapi konteksnya ialah ke tubuh petani. Mereka (penari) selalu berangkat dari filosofi itu, dari cara menggerakkannya, maupun mengekspresikannya. Tarian ini juga tidak harus ditarikan oleh perempuan, oleh siapa pun bisa."

Titik berat Nenemo memang berada pada cara penarinya menyampaikan semangat bekerja keras dan sikap ikhlas kaum petani melalui gerak tubuh, sehingga mimik ekspresi wajah penari tidak penting lagi menjadi perhatian.

Kelahiran tarian ini terinspirasi dari laku hidup petani, yang dikombinasikan dengan gerak kaki tari Melayu, properti yang juga sangat vital sebagai identitas ialah tongkat kayu. Melihat lanskap Tubaba, impresi awal kita ialah deretan artistik pohon karet. Pohon yang lekat dengan kehidupan juga menghidupi masyarakat Tulang Bawang Barat.

Meski pada proses penciptaan kostum Nenemo tidak menggunakan caping, justru melalui capinglah properti yang paling efektif memunculkan penghayatan penarinya. "Semua interpretasinya ialah bekerja. Kalau ada gerakan yang terlihat seperti kayu-kayu yang menyilang, itu muncul dari interpretasi orang atau petani yang sedang bekerja, selain juga karakteristik di ladang karet yang memang secara impresi awal kita pasti melihatnya artistik. Sebetulnya, kostum asli tidak caping, kontemporer banget, muka sama sekali tidak terlihat, yang terlihat hanya gerak dan ekspresi tubuh. Mimik muka jadi tidak penting. Sekarang yang dipakai caping, mungkin ini properti yang paling efektif, dengan caping mereka bisa merasakan sebagai petani, sebagai salah satu cara penghayatan," tambah Hartati.

Nemen (bekerja keras), nedes (tahan banting), dan nerimo (ikhlas) menjadi falsafah hidup yang dijalankan para petani sebagai laku sufistik mereka, bekerja di tengah alam. Kegagalan dan keberhasilan mereka menuai yang mereka tanam, tentu menjadi proses penanaman kematangan manusia dalam laku hidup.

"Nerimo adalah jalan setapak menuju keilahian, tangga misteri yang menjulur dari bumi ke surga. Dari keputusasaan, kecewa, marah menuju ikhlas, menerima segala coba. Nerimo adalah perenungan yang mendalam, yang berlangsung di dalam pikiran dan diterima di dalam dada terbuka," kata Adinda Luthvianti, manajer program kesenian Studiohanafi dan Festival Tubaba dalam publikasi risetnya tentang Tubaba. Kini, dua tahun tari Nenemo berkembang, seolah tari ini telah menjadi identitas yang menjadi milik masyarakat Tubaba. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya