Antara Ramalan dan Gerakan Sosial

Suryani Wandari
18/11/2018 07:00
Antara Ramalan dan Gerakan Sosial
(MI/PIUS ERLANGGA)

GAUN-GAUN malam berpotongan maksimalis dengan detail ruffle serta tassel (rumbai) yang rumit menjadi kekuatan koleksi terbaru Hian Tjen. Koleksi ini ditampilkan pada Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Trend Show 2019, Selasa (13/11) malam, di Senayan City, Jakarta.

Salah satu busana yang menarik gaun jubah (cape dress mini yang dibuat dari tassel bertingkat dalam palet warna pink-fuchsia-ungu. Dengan detail tassel bertingkat itu era 1950-an pun kental terasa. Meski begitu, ada juga unsur modern pola zig-zag dalam warna yang riang.

Dalam penggunaan detail ruffle, Hian juga banyak menggunakan konsep gaun bertingkat. Tampilan totalnya menjadi lebih extravagant karena dipadu juga teknik drapery dan lipit yang dibuat ekstra.

Salah satunya ialah gaun orange bertingkat yang seolah dibentuk dari kipas-kipas ekstra besar. Tidak ketinggalan, Hian memasukkan ciri khasnya dengan sematan batuan Swarovski.

Lewat koleksi bertajuk Lucid ini pula, Hian yang merupakan desainer lulusan Esmod 2003 itu, membuat ramalan tren tahun depan. Menurut desainer asal Pemangkat, Kalimantan Barat itu, pada tahun depan akan muncul lagi sentuhan era 1950-an.

Pada era tersebut, memang banyak siluet serbamaksimalis dan oversize. Meski begitu, pada tahun depan, penerapannya akan lebih fun lewat warna yang cerah dan bahan yang ringan.

Sebagaimana diketahui event yang bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang diselenggarakan selama dua hari ini memang membaca tren mode Indonesia di tahun depan dengan menghadirkan rancangan beberapa nama desainer ternama.

Desainer lainnya yang ambil bagian ialah Stella Rissa yang pada hari sekaligus meluncurkan lini busana pengantin yang diberi nama Stellarissa Bride.

Bagi Stella, merancang busana pengantin menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Desainer yang sudah berkarir sejak 2008 itu mengaku, selalu melihat busana pengatin sebagai busana sakral.

Pada koleksi pertama ini, karakter rancangan Stella terlihat jelas dalam gaya busana pengantin yang romantis tapi juga modern, tangguh, dan elegan. Ia tidak hanya menghadirkan bersiluet rok lebar, tetapi juga siluet-siluet ramping. Bahkan, ia menerapkan potongan-potongan setelan blazer.
 
Stella membayangkan klien pengantinnya merasakan keintiman dan menjadi dirinya sendiri untuk menikmati momen yang sangat istimewa dalam hidupnya. Menjadi ratu sehari, tapi tetap dengan karakter asli para pengantin itu.

"Saya mempersembahkan pernikahan pertama saya pada semua pengantin wanita. Menjadi dirinya yang sebenarnya, menikmati saat-saat yang sangat berharga di antara orang-orang yang dicintainya, dalam suasana pribadi yang intim," kata Stella dalam rilisnya.

Eksplorasi warna Putih
Di hari yang sama, IPMI Trend Show pun diramaikan oleh peragaan busana bertajuk Made in Indonesia yang diprakarsai Bekraf dan One Fine Sky, sebuah proyek sosial yang menawarkan koleksi kemeja putih basic yang hasil penjualannya dikonversi menjadi satu set seragam untuk anak-anak sekolah dasar, yakni kemeja, bawahan, topi, dan dasi.

Trio penggagas One Fine Sky, yani Yuni Jie, Claudia Halim, dan Amanda Witdarmono, pada kali ini menggandeng 36 perancang busana termasuk di antaranya Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Era Soekamto, Hian Tjen, hingga Mel Ahyar untuk mengeksplorasi kemeja putih basic menjadi bentuk baru yang fresh, muda, dan modern.

Seperti rancangan Danny Satriadi misalnya, busana yang dipakai Syahrini dalam peragaan busana ini mempilkan kameja berkerah tegak dengan kerutan dibagian elengan. Tampilan ini pun dipermanis dengan tambahan kain berwarna abu-abu yang diikat pada bagian perut. Ada pula rancangan Ghea Panggabean yang menyematkan bordiran wayang pada kameja ovesize-nya.

Tak kalah menariknya, ada rancangan Ivan Gunawan dengan mengekspresikan dengan busana yang merombak bagian lengan hingga penggunaan kain untuk ddiikatkan pada bagian perut. Juga rancangan Julia Dian Ferdinand, mahasiswa Binus Northumbria School of Design yang hadir dengan kameja asimetris dengan lengan terbelah di area siku.

Bukan hanya dipamerkan, dalam kesempatan itu pun busana hasil para perancang mode ini pun diikuti oleh lelang. Nanti, hasil penjualan baju ini pun akan dikonversi menjadi satu set seragam untuk anak-anak sekolah dasar kurang mampu di berbagai pelosok Indonesia dalam bentuk kemeja, bawahan, topi, dan dasi. "Seragam baru adalah simbol dorongan kepada siswa, terus bergerak mendekati impian mereka," kata Yuni Jie, penggagas One Fine Sky. (M-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya