Teknologi pada LRT

(M-3)
17/11/2018 22:30
Teknologi pada LRT
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

SOBAT, dalam kurun waktu sekitar tiga sampai empat tahun terakhir, pemerintah sedang menggalakkan jaringan transportasi di Jakarta. Langkah itu untuk mempermudah akses masyarakat dan mengurangi kemacetan.

Kehadiran mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), dan kereta rel listrik (KRL) commuter line ini pun menjadi solusi pemerintah. Adakah sobat Medi yang tahu perbedaannya? Setidaknya, ketiganya ini berbeda berdasarkan kapasitas angkutnya nih sobat.

KRL commuter line memiliki kapasitas angkut lebih besar, tekanan beban pada satu titiik di rodanya ini bisa di atas 14 ton lo sobat. Dengan memiliki 12 gerbong, KRL ini bisa menampung penumpang lebih dari 2.000 orang.

Ini berbeda dengan MRT yang hanya bisa menahan tekanan beban pada satu titik di bawah 14 hingga 12 ton. Begitupun dengan LRT yang termasuk pada kereta api ringan ini, kapasitas angkutnya lebih sedikit di antara keduanya, yakni 800-1.000 orang.

Meskipun begitu, LRT ini memiliki keistimewaan sendiri lo. LRT yang dibuat PT Adhi Karya Tbk dan PT Inka ini didesain dengan sistem perlintasan yang melayang sehingga tidak mengganggu mode transportasi lain. Selain itu, menggunakan teknologi Top Automachine 3 ini membuat pergerakan keretanya diatur pusat kendali sehingga kereta tidak memiliki masinis untuk mengendalikan kereta.

"Masinis justru berfungsi kalau ada emergence saja, kalau ada gangguan pada persinyalan," kata Pak John.

Di pusat kendali, mereka mengatur jarak antarkereta, yakni tiga menit dan enam menit saja nih, sobat. Singkat kan sobat, ini karena keretanya banyak. Tahap satu saja akan ada 31 rangkaian kereta atau sekitar 186 gerbong kereta yang dibeli dari PT Inka.

Ya, cukup untuk mengurangi kemacetan karena dengan cepat membawa penumpang berpindah tempat. Apalagi, kecepatan bisa 80 km per jam lo, yang berarti dari Bekasi-Dukuh Atas hanya 40 menit, dengan jarak 44,43 km.

Karena semua diatur sistem, risiko kecelakaannya pun lebih sedikit lo sobat, karena tak ada lagi human error. Wah, hebat kan sobat.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya