Spektrum Seniman Muda Tubaba

Fathurrozak
18/11/2018 01:00
Spektrum Seniman Muda Tubaba
(DOK STUDIO HANAFI)

HAMPIR tiga tahun lalu, geliat kesenian di Tulang Bawang Barat (Tubaba) sebagai kabupaten baru hasil pemekaran Tulang Bawang, tidak kentara.

Kontras dengan kondisi kini yang meriah dengan semangat seni yang lahir dari anak-anak muda. Mereka mencipta realisme di atas kanvas, berakting lakon Macbeth, juga melahirkan antologi puisi-cerpen.

Studiohanafi yang ditunjuk pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat sebagai programmer tampak paham menyusun peta jalan kesenian di daerah yang lekat dengan kebun karetnya ini. Seni rupa, sastra, teater, tari, dan musik menjadi beberapa lini yang digarap.

Salah satunya tari Nenemo, tari tradisi 'baru' yang ditujukan sebagai identitas Tubaba. Setelah dua tahun dikembangkan, ada sekitar 12 komunitas yang merawat dan tumbuh kembang tari ciptaan koreografer Hartati ini. Tarian ini terinspirasi dari keseharian masyarakat Tubaba sebagai petani.

Festival Tubaba III, 110 Tahun Transmigrasi, Dari Aku Menjadi Kita, menjadi wadah presentasi proses berkesenian anak-anak mudanya. Mereka tekun mengikuti beberapa kelas, menghasilkan karya yang dipresentasikan ke publik. Putri Janati misalnya, lulusan pendidikan biologi Universitas Lampung ini telah mengikuti kelas seni rupa. Semula ia hanya mengenal kertas sebagai mediumnya menggambar. Itu pun, diakuinya sebagai gambar tidak terkonsep. Sejak Mei hingga November, ia rutin mengikuti kelas hingga terlatih membuat sketsa sebelum menuangkannya ke kanvas.

"Dalam sebulan ada enam kali pertemuan, lalu jeda untuk proses kita melukis sendiri. Kita juga diberi PR membuat 100 sketsa, dari proses itu akan terlihat perbedaannya, coretannya mulai luwes. Kita diajarkan dari yang paling dasar, garis untuk nemuin garis sendiri, kemudian gradasi, baru volume, objek, sampai melukis di kanvas, benar-benar bertahap," katanya ditemui saat pameran di Gedung Sesat Agung, Kompleks Islamic Center Tulang Bawang Barat, Sabtu (10/11).

Perupa Hanafi yang sekaligus sebagai direktur Studio Hanafi dalam pidato pembukaan pameran hasil karya anak-anak Tubaba mengungkapkan, dalam kelas seni rupanya, para peserta tidak dituntut untuk mengikuti kemauan pengajar, tetapi menemukan keberanian mereka dalam menentukan pilihan.

"Cara pendekatannya menjadi metode yang tidak kami pikirkan, apakah harus memilih garis lempeng atau bengkok. Dengan demikian nantinya tidak akan banyak bertanya saat akan memilih. Bukan hasil karya, melainkan proses di mana dia berani menentukan sesuatu, keberagaman akan tetap utuh sampai nanti. Kesenian apa pun, hanya kendaraan, bukan tujuan. Seni bukan tujuan, mungkin nanti jadi dokter, pilot semua didasari dari dia berani menentukan dirinya sendiri," kata Hanafi.

Ijazah kelas sastra
Di tahun ketiga festival Tubaba sudah ada penyempurnaan. Seperti kelas sastra, yang tahun ini diampu sastrawan Zen Hae dan penyair Esha Tegar Putra. Zen mengajar peserta kelas cerpen, sedangkan Esha mengajar puisi.

Sebelum akhirnya lahir antologi cerpen-puisi bertajuk Bayang Menara di Tepi Kolam karya 16 penulis muda Tubaba ini, ada banyak proses yang dilalui. Antologi tersebut seolah menjadi ijazah bagi para peserta di kelas sastra.

Zen pun tak jauh-jauh dari hal mendasar dalam menulis. Ia secara terang-terangan mengajarkan menulis kalimat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

"Kalau saya percaya, sebelum bisa menulis karya sastra, kita harus bisa menulis bahasa Indonesia yang benar, minggu pertama saya kasih dasar menulis kalimat, lalu saya berikan pengetahuan dasar unsur intrinsik sastra, mulai tema, penokohan, dan dialog karakter. Setelah saya berikan kemampuan dasar, di putaran ketiga tentu saja asumsinya setiap anak menulis tulisan yang selesai, jadi menyunting cerita yang sudah mereka buat, menyunting bareng-bareng, jadi peserta juga tahu proses penyuntingan," ungkapnya.

Permasalahan yang dihadapinya di kelas puisi, di antaranya pola dan referensi. Ia pun mengakalinya dengan cara memberikan sampel bacaan puisi kepada setiap peserta, mengingat waktu yang tidak teramat panjang untuk lokakarya sastra.

"Ketika mereka disuruh bikin puisi, bisa. Namun, ya versi mereka, pola yang dibikin strukturnya seperti pantun, pola puisi lama, yang saya hadapi di awal. Ketika ditanya apa pernah baca puisi? Rata-rata tidak baca puisi atau karya sastra. Salah satu solusi yang saya coba kembangkan, saya berikan sampel puisi ke anak-anak. Untuk kasih tahu perkembangan puisi di Indonesia sudah jauh dari apa yang mereka pahami, tidak lagi seperti pantun. Salah satu solusi yang saya tawarkan menulis hal yang dekat dari mereka, di luar curhat," ungkap Esha.

Dari beberapa kali pengalamannya mengajar di daerah, penulis buku puisi Sarinah (2016) ini menjumpai masalah yang sama, yakni referensi. Meski begitu Zen berhadapan dengan anak-anak muda berbakat, sejumlah karya mereka dimuat di antologi.

"Kami berhadapan dengan bakat yang mulai kelihatan, meski saya tidak tahu mereka belajarnya dari mana, ketika mereka sampai di kelas, hadir dengan karya yang sudah punya potensi bagus, tidak bertele-tele, ringkas, dan konsisten dengan sudut pandang. Saya lebih tertarik mereka yang berbakat, kalau dibesarkan dalam lingkungan yang benar ya akan bagus buat perkembangannya, kalau salah pergaulan, akan sia-sia. Jadi bakat mereka ada dan tinggal memilih pergaulan yang seperti apa untuk jadi penulis. Kalau lingkungan tidak ditemukan, mereka harus memilih membaca lebih banyak supaya karya mereka lebih berkembang," pesan Zen.

Kini, generasi muda Tubaba ini yang akan menyemai benih-benih proses yang mereka jalani. Entah nantinya mereka akan menjadi penulis, penari, aktor, atau perupa, semua dimulai dari keberanian mereka menentukan dirinya. Seni bukanlah hasil, melainkan proses, sebagai kendaraan mereka menuju masa depan. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya