Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TRAGEDI abad ke-11 di Kerajaan Skotlandia karangan William Shakespeare muncul di suatu kabupaten baru, yang bahkan beberapa penontonnya malam itu, Minggu (11/11), sama sekali belum pernah menonton teater.
Macbeth yang berkisah lakon pergolakan Macbeth menduduki mahkota raja, seolah menjadi sangat lekat dengan mereka, menggunakan bahasa-bahasa lokal yang tumbuh di Tulang Bawang Barat, Lampung.
Lakon Macbeth yang ditulis Shakespeare pada abad ke-16 ini terdengar berat, bila harus dimainkan para remaja yang baru mengenal teater secara intens sejak tiga tahun silam, ketika program Festival Tubaba digagas.
Bersandar pada karya Macbeth terjemahan Trisno Sumardjo, Semi Ikra Anggara sebagai sutradara melakukan pendekatan dengan penyesuaian kebahasaan Macbeth yang puitis itu, berkelindan dengan bahasa-bahasa ibu para aktornya.
Pentas ini juga dibuka dengan kehadiran si pengantar cerita dengan tata busana yang tak asing, memakai sarung, kadang memakai caping juga peci, dan membawa kitab besar, yang ia bacakan bak syair langgam melayu.
Teknik muncul dari si pembawa cerita yang bisa hadir dari arah mana saja, menjadi efek hiburan tersendiri bagi penonton yang hadir di kampung budaya Uluan Nughik, Tulang Bawang Barat. Melalui konsep panggung terbuka prosenium juga mengharuskan para aktornya cair di setiap blocking adegan.
Tidak ada yang berbeda dengan jalan cerita Macbeth pada umumnya. Ia yang berambisi berkuasa, bertemu tiga penyihir yang meramalkan nasibnya, lalu Macbeth yang terserang kecemasan akibat tindakannya, hingga dirinya yang digulingkan Macduff. Meski tampaknya agak berat bagi para remaja ini membahasakan dialog-dialog penuh metafora meski kurang luwes, tetapi ada beberapa unsur yang tetap menarik untuk diikuti. Kita tentu mungkin tidak akan pernah melihat Macduff berdialog dengan bahasa Sunda, atau para penyihir yang bergantian merapalkan mantra dengan bahasa Jawa juga Lampung.
Tidak akan terjadi hal itu, kecuali di suatu tanah para transmigran yang sudah saling memahami antarbahasa. Dengan demikian, bahasa sebagai faktor kedekatan, juga menjadi jembatan para aktor kepada penontonnya, mengenalkan Macbeth lebih terdengar lokal. Penonton menjadi tampak paham jalan cerita yang ada.
Hadiah
Bahkan, musik latar kerajaan dengan nuansa United Kingdom pun hanya terdengar dua kali sepanjang pentas. Selebihnya, musik terdengar lebih membumi dengan berbagai instrumen bambu. Tata busana juga disesuaikan tanpa harus mengimitasi busana kerajaan yang meriah, yang mungkin justru akan terlihat tempelan. Properti para aktor dengan perisai anyaman bambu, tongkat, juga topeng-topeng tanah semakin menandaskan bahwa lakon Machbet ini berlanggam Tulang Bawang Barat.
"Garapan teater Macbeth ini sesungguhnya adalah hadiah bagi mereka yang telah menjalani proses secara sungguh-sungguh. Kita telah menghabiskan banyak energi, pikiran, waktu, dan dana. Semoga garapan ini bisa menjadi modal berharga bagi mereka yang akan segera pergi," kata sutradara Semi Ikra Anggara.
Macbeth langgam Tubaba, di balik ironi penggulingan raja, ada bahasa-bahasa warganya yang terdialogkan para aktor, menjembatani para pelaku seni dengan penontonnya mengenal karya dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved