Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH karya kontroversialnya yang sempat hilang karena ia jual, kini kembali ke Indonesia. Bersama rekannya sebagai seniman yang dianggap ngawur karena menggabungkan seni pertunjukan dengan seni rupa, karya-karya Arahmaiani dipamerkan di Museum MACAN, Jakarta Barat. Karya-karya milik tiga seniman Asia, Arahmaiani (Indonesia), Lee Mingwei (Taiwan/Amerika), dan On Kawara (Jepang), yang berbasis seni pertunjukan, menjadi gagasan pameran di museum ini.
Karya Lingga-Yoni milik Arahmaiani sudah kontroversial sejak mula penciptaannya, yang kemudian membuatnya harus berpindah-pindah tempat tinggal di luar Indonesia. Karya yang menyuguhkan simbolisme lingga dan yoni, dilatari dengan huruf Arab pegon. Bila pada umumnya letak lingga berada di atas yoni, dalam karyanya itu ia ubah pada posisi sebaliknya. Konteksnya saat itu, pada 1994, perempuan yang kini bermukim di Yogyakarta itu dianggap menistakan agama oleh sekelompok yang mengaku dari agama tertentu. Konteks judul Masa Lalu Belum Berlalu dari sekumpulan karyanya yang dipamerkan hingga 10 Maret tahun depan itu kemudian menjadi relevan dengan kondisi masyarakat kita saat ini. Masyarakat yang di matanya masih belum lepas dari benang-benang stigma demikian, ketika sekelompok meneror dan mendesakkan kebenaran tunggalnya.
Selain itu, juga hadir proyek karyanya yang ia mulai sejak 2006, Flag Project. Di antara warna-warni bendera yang berkibar itu, tercetak berbagai aksara, termasuk kehadiran Arab pegon yang terbaca; akal. Aksara itu tampak lekat dengannya, ia mengaku, memang dalam beberapa presentasi karyanya juga terpengaruh dari kehidupan personalnya. Ayahnya, merupakan seorang kiai. Jadi, wajar saja bila kemunculan Arab pegon hadir dalam elemen karyanya, di Flag Project, Lingga-Yoni, atau I Love You.
"Karya-karya ini bukan bicara estetika seni rupa, melainkan juga berhubungan dengan isu budaya, sosial, politik, dan lingkungan hidup.
Referensi saya terhadap falsafah kuno dari Indonesia, yang berkembang di Nusantara, khususnya Jawa, bahkan lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Intinya, pemahaman tentang keseimbangan antara energi feminin dan maskulin, dalam falsafah kuno yang berkembang. Kalau dalam cara pandang modern biasanya hal-hal berlawanan akan dilihat dengan sesuatu yang bersifat oposisi biner," ungkapnya, Kamis (16/11).
Meski ayahnya seorang kiai, ia pun rupanya dibesarkan dari kultur beragam latar belakang agama keluarganya, yang membuat dirinya mengangkat gagasan ini di setiap karya. Cinta kasih, menjadi kunci membaca pemaknaan karya perempuan yang juga mengajar di University of Passau Jerman ini. Pada awal perjalanannya berkarya, Yani, sapaannya, mungkin dianggap 'ngawur' karena menubrukkan lintas bidang. Namun, ia bersandar pada esensi kreativitas.
Kini, terbukti, seni pertunjukan yang bertaut dengan instalasi atau seni rupa menjadi lazim. Bisa jadi, ia dianggap sebagai pelopor seni performans di Asia Tenggara, yang juga bermula dari kemunculan nation for sale-nya pada 1996 di Asia Pacific Triennial kedua, Brisbane, Australia.
Keintiman
Yani juga mengembangkan dari karya-karya lamanya, seperti pada Do not Prevent the Fertility of the Mind yang ia mulai sejak 1997. Karya yang menyinggung gagasan kemandirian perempuan, baik dalam berkesenian atau tentang pengendalian tubuh mereka. Ia mengembangkan karya lamanya ini dengan menambahkan satu potret fotonya yang memegang alat kontrasepsi pada dinding yang terbuat dari pembalut. Suatu kesederhanaan objek yang ia maknai menjadi gagasan yang sentral.
Kini, ia pun tengah mengembangkan kembali proyek benderanya itu di berbagai belahan Nusantara. Ia meyakini bahwa keberagaman bukan hanya slogan.
"Kalau lihat dari manifesto seni saya, intinya mengatakan antara seni dan kehidupan tidak ada batasnya. Saya mendapatkan pemahaman dari pengertian untuk bisa menerima semua itu, saya anggap semua baik dan benar, yang paling mendasar karena saya mencintai semuanya, semua keluarga saya, kenapa saya harus membedakan? Setelah saya mempelajari berbagai macam keyakinan, menemukan kenyataan bahwa prinsip dasar keyakinan itu sama, welas asih, cinta kasih, saya ungkapkan karya yang didasari prinsip itu."
Selain Arahmaiani, Lee Mingwei juga menghadirkan karya konseptual yang mengeksplorasi tentang keintiman dari pengalaman perjumpaan dengan orang-orang asing. Salah satunya ialah ketika ia menghadirkan The Dining Project, yang bermula pada 1997, saat ia berada di lingkungan Universitas Yale. Ia merasa terisolasi dengan lingkungannya. Meja makan menjadi penerjemah, keterasingan menjadi obrolan keintiman antara sang tamu dan tuan rumah yang menjamu. Lee memang bersandar pada karya yang mengundang partisipasi pengunjungnya, ketimbang memilih karya sebagai pajangan, ia jadikan sebagai ruang interaksi. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved