Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"ADAKAH Tuhan di dunia maya?" begitu tanya seorang pria muda di acara promosi buku Thomas L Friedman, The Lexus and the Olive Tree di Portland, Amerika Serikat pada 1999. Friedman yang kala itu sudah ratusan kali menggelar acara diskusi sejak menerbitkan buku pertamanya pada 1989, tersentak dengan pertanyaan itu.
Menurutnya itu pertanyaan terbaik yang pernah ia dapatkan. Sebab penulis sekaligus wartawan yang kala itu sudah menerima berbagai penghargaan, termasuk Pulitzer, tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan tersebut.
Begitu kuatnya pertanyaan tersebut pun sampai dimunculkan dalam buku teranyarnya, Thank You for Being Late-Membangun Optimisme untuk Melangkah Maju di Era Akselerasi.
Buku ini memang terbit pertama pada 2016 di AS, namun versi bahasa Indonesianya baru terbit tahun ini.
Pertanyaan tentang Tuhan tadi bukan sekadar pelengkap tulisan, kunci ke pokok pemikiran buku Thank You for Being Late. Pertanyaan itu menggambarkan pesimisme dan ketakutan banyak orang akan era percepatan teknologi komputasi. Konten negatif dan permusuhan membanjiri internet, sedangkan teknologi kecerdasan buatan mengancam eksistensi manusia.
Namun sebelum masuk ke pokok pemikiran Friedman yang mulai dijabarkan di Bab 11, pada bab-bab awal ia menuturkan berbagai peluang maupun tantangan yang tercipta dari era akslerasi teknologi. Pria berusia 65 tahun yang juga kolumnis tetap the New York Times ini juga membawa pembaca memahami bagaimana era itu tercipta.
Sekilas dengan banyaknya penuturan mengenai temuan-temuan teknologi komputasi terkini termasuk berbagai perangkat lunak dan kecerdasan buatan, pembaca akan menemukan kemiripan dengan buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari.
Namun, sementara Harari membahas dari segi perubahan gaya hidup dan pola pikir manusia, yang kemudian dilengkapi dengan pembahasan sisi sejarah, agama hingga biologis mahluk hidup; pembahasan Freidman lebih dari sempit. Friedman hanya menjabarkan momen-momen penting yang membentuk era akselerasi teknologi tersebut.
Pembahasan yang lebih sempit ini bukanlah kelemahan Thank You for Being Late. Mereka yang telah membaca Homo Deus pun akan mendapat pemahaman lebih mendalam mengenai dunia teknologi, termasuk pertanyaan besar tentang tahun 2007 yang seperti tahun kelahiran semua inovasi penting teknologi komputasi. Tahun tersebut ibarat tahun keemasan di revolusi industri.
Era percepatan itu nyatanya salah satu bukti hukum Moore, teori yang diajukan salah seorang pendiri Intel, Gordon Moore. Tahun 1965, ia membuat teori bahwa kecepatan dan kemampuan microchip--yaitu daya proses komputasi--bakal berlipat ganda kira-kira setiap tahun. Kemudian dia pertajam menjadi setiap dua tahun. Hingga kini, hukum Moore itu telah terbukti selama 50 tahun.
Kecepatan perkembangan teknologi itu terjadi karena dari tahun-tahun, teknologi maupun infrastruktur yang ada telah saling mendukung untuk perkembangan yang lebih cepat. Dulu di era 1900, butuh 20-30 tahun untuk menciptakan langkah besar teknologi, kini hal itu bisa terjadi hanya dalam 5 tahun atau tiap 2 tahun tadi.
Meminjam metafora terkenal, yakni kurcaci yang berdiri di bahu raksasa (kita harus berdiri di atas penemuan lain untuk menciptakan penemuan baru), kini teknologi komputasi sudah berdiri di atas bahunya sendiri. Itu terjadi karena semua teknologi yang dibutuhkan telah sama-sama berkembang, mulai dari teknologi serat optik, konduktor, microchip, perangkat lunak, aplikasi, hingga kecerdasan buatan.
Hingga bab kelima, Friedman menjabarkan berbagai temuan penting ini termasuk tokoh-tokohnya. Tidak hanya itu ia pun menggambarkan karakter kerja sama dan sumber daya terbuka (opensource) yang menjadi keunggulan komunitas teknologi. Contohnya bagaimana Google membuka dasar-dasar sistemnya ke publik. Meski bukan kode inti, informasi itu telah menginspirasi banyak inovasi lain. Konsep itu pun menguntungkan Google karena secara tidak langsung ia membuat orang lain mengerti visinya sehingga inovasi yang dibuat mendukung visi itu.
Teknologi berganti
Namun, kecepatan itu pula yang melahirkan tantangan besar yakni karena kegamangan kita menghadapinya. Kegamangan ini bukan hanya terjadi di tingkat masyarakat, melainkan juga negara.
Bagaimana tidak, kita umumnya membutuhkan 10-15 tahun untuk memahami suatu teknologi dan kemudian membuat aturan yang dapat menjaga masyarakat dalam pemanfaatan teknologi itu. Kini teknologi sudah berganti dalam 5 tahun, jauh lebih cepat sebelum kita memahaminya.
Manusia tidak akan tersingkirkan jika terus mengasah keunggulannya yang unik, yakni intuisi dan empati. Lagipula, hasil terbaik kecerdasan buatan ialah ketika digabung dengan kemampuan unik tadi. Dengan begitu, masa depan yamg harusnya dicapai ialah manusia dan mesin memecahkan masalah bersama. Friedman juga membuat bagian yang lebih praktis dan spesifik dengan daftar masukan bagi para pemberi kerja (bos), pada kelompok karyawan, dan juga para pendidik.
Meski begitu dampak buruk dari kegamangan berteknologi ini memang juga sudah nyata terjadi, bahkan pada geopolitik dunia. Ini bukan aneh, karena internet contohnya, adalah dua sisi mata uang. Ia bisa dimanfaatkan pembuat politik maupun perusak politik.
Makin banyak bukti bahwa jejaring sosial mempermudah peralihan dari keteraturan ke revolusi. Namun, hal sama tidak berlaku untuk proses dari revolusi ke keteraturan.
Contohnya adalah revolusi di Mesir. Namun, setelah berhasil menumbangkan Presiden Husni Mubarak, gerakan revolusi itu tidak mampu membangun konsensus. Akibatnya, revolusi itu kemudian dicuri Ikhwanul Muslimin dan kemudian ketika Ikhwanul juga gagal, dicuri lagi oleh tentara.
Kondisi macam itulah yang disebut Friedman sebagai Ketimpangan Kemerdekaan. Jadi orang baru bisa memanfaatkan teknologi jejaring untuk membuat 'kemerdekaan dari', tetapi mereka tidak bisa membuat 'kemerdekaan untuk'.
Dari banyaknya kegamangan bahkan kegagalan dalam menggunakan teknologi inilah, pertanyaan tentang Tuhan di dunia maya menghentak Friedman dan sesungguhnya memang relevan buat kita semua. Untuk mencari jawabannya, Friedman melakukan yang serupa ketika membahas keunggulan/peluang teknologi, yakni bertanya kepada ahlinya. Dalam soal teknologi itu, ia mewawancarai para pendiri raksasa teknologi bahkan perusahaan-perusahaan energi.
Kali ini, soal ketuhanan, ia memilih bertanya kepada para rabi. Bagian pembahasan ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi umat muslim karena bunyi ayat yang dipilih para Rabi, juga sedikit mirip dengan kalimat Syahadat.
Meski begitu hulu konklusi Friedman bukan sepenuhnya pada agama melainkan lebih pada nilai-nilai moral. Ia mengajak orang kembali kepada kehangatan dan nilai-nilai kebaikan pada kekerabatan, keluarga, dan komunitas-komunitas di sekitar kita.
Sebab hanya dengan menguatkan akar moral, pemanfaatan teknologi bisa membawa keuntungan. Sementara sebaliknya, pemanfaatan tanpa perenungan justru akan membuat kita kehilangan lebih banyak. Jadi jangan asal ikut melaju cepat. Menjadi lambat pun perlu di era serbacepat ini. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved