Ketidakberaturan yang Indah

SURYANI WANDARI
04/11/2018 02:40
Ketidakberaturan yang Indah
(DOK JFW)

GAUN midi berwarna cokelat metalik itu memancarkan pesona yang tidak biasa. Gaun itu tampak serbatidak beraturan dan bertabrakan. Sebabnya ialah detail yang terlihat seperti sayatan-sayatan di bagian dada beralur vertikal, sedangkan di bagian rok beralur horizontal asimetris.

Setelahnya, masih di bagian rok ada bagian yang lebih loose dan bergaya semilipit. Sementara itu, pada pinggang rok dibuat bagian ekstra menyerupai panel ke atas. Meski begitu, tampilan total gaun tersebut tetap menarik, elegan, sekaligus modern. Gaun itu menjadi bagian koleksi dari jenama Etterette by Vivian Lee yang diperagakan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2019, Kamis (25/10). Artikel fesyen lainnya dalam koleksi itu juga menonjolkan konsep ketidakberaturan yang sama. Namun, ada kalanya dibuat lebih kalem,  misalnya lewat atasan asimetris dan bervolume di dada, tetapi bergaya korset di pinggang.

Secara keseluruhan, Vivian banyak bermain dengan pola asimetris, potongan bias dan layer. Dalam konfrensi pers sebelum peragaan, Vivian menjelaskan jika koleksi bertajuk Lady Bird itu menggambarkan perubahan gadis menjadi perempuan. Dalam proses itu kerap ada ketidaksempurnaan tetapi semuanya tetap indah karena begitulah manusia.

Vivian menggambarkan ketidaksempurnaan tadi lewat ketidakberaturan teknik. “Kebanyakan koleksi ini menggabungkan garis yang berbenturan, ketidakberaturan teknik, teknik dan motif,” katanya. Kehadiran motif sebenarnya minimalis. Berupa motif guratan garis yang menghias beberapa blus dan sedikit hadir pada bagian pinggang rok.

Palet warna yang dipilih Vivian juga  tetap sederhana. Selain cokelat, ada pula putih, biru gelap, dan hijau lumut gelap. Tidak hanya Vivian, label Purana juga menawarkan kesan yang serupa. Bedanya, koleksi Purana lebih bernuansa adati dengan material berteknik tiedye dan juga bawahan bergaya sarung.

Nonita Respati, Creative Director Purana, menjelaskan jika mereka menggunakan kain cantik bernama Humbang Shibori, atau kain dari kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Kain ini diciptakan dengan teknik tie-dye (ikat dan celup) yang sama seperti teknik Shibori di Jepang. Dengan teknik itu pula, Purana membuat motif-motif kuda yang ditunggangi Sisingamangaraja XII, motif ikan, biji kopi, andaliman yang dikenal juga sebagai tumbuhan untuk bumbu masak.

“Tetap yang jadi gongnya ya Humbang Shiborinya. Kolaborasi ini seperti mimpi yang terwujud, sudah lama saya ingin berkolaborasi dengan artisan di luar Jawa,” kata Nonita. Kain-kain yang dibuat dari campuran linen dan menggunakan pewarna tumbuhan, seperti daun, kayu, hingga kulit jengkol ini tampil bergaya resor yang rileks karena memakai siluet yang fl eksibel.

Contohnya celana sarung, jaket luaran, kimoni, wraped dress, hingga jumpsuit. Nonita mengatakan beberapa busana dalam koleksinya ini pun bisa digunakan dalam dua acara. “Long outer misalnya, bisa tampil kasual, namun saat  dikancingkan akan menjadi dress simpel namun tetap cantik,” kata Nonita. Beberapa busananya juga makin unik dengan aksen lipit, origami, dan rumbai (tassel).

Purana yang memang konsisten dengan material serat alam, kali ini juga berupaya menerapkan konsep minim limbah. Hal itu dengan memaksimalkan penggunaan kain, salah satu caranya dengan memanfaatkan kain sisa sebagai ikat pinggang berumbai

Ceria
Pada peragaan lainnya, panggung JFW beralih menjadi ceria dengan koleksi penuh warna-warni dan bergaya playful. Ini terlihat di antaranya dari koleksi Tities Sapoetra dan Rama Dauhan. Tities yang empat tahun lalu lebih dikenal sebagai pemain sinetron mengeluarkan busana-busana berpotongan formal, tetapi dengan penuh sentuhan ceria dan girly.

Beberapa busananya ialah oversized blazer dress dengan print wajah kartun, blazer dress asimetris dengan rok tutu ataupun blazer dengan lengan berbahan tile polkadot dan juga dalaman kemeja tile polkadot. Kesan cerah makin lengkap dengan dominasi palet pink, ungu, dan biru. Motif polkadot hadir lebih meriah lagi di koleksi Rama Dauhan.

Ia menghadirkan koleksi pakaian pria berupa kemeja, blus, dan celana longgar yang penuh bermotif polkadot.

Tampaknya Rama ingin mendobrak penggunaan warna yang tabu untuk laki-laki. “Masyarakat kita mengamini konsep gender sampai ke pemilihan warna. Alhasil, banyak pria yang kemudian merasa takut untuk memakai pakaian yang sedikit terang atau yang bagi sebagian orang dianggap warna feminin,” tuturnya. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya