Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIPERKIRAKAN, pada 2045, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 208 juta jiwa. Separuh dari mereka ialah generasi milenial yang lahir pada 1980-2000. Ini bonus demografi yang akan membawa Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050.
Namun, Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto, dalam seminar Hari Statistik Nasional (HSN) di Jakarta, Rabu (26/9), mengingatkan agar sejak dini generasi muda ini benar-benar dipersiapkan dengan baik agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana. Dengan kata lain, kualitas generasi milenial sangat menentukan masa depan bangsa.
Dalam konteks bagaimana generasi muda itu harus dipersiapkan, ada cerita dalam dunia pakeliran yang mengisahkan tiga ‘model’ generasi milenial. Mereka memetik buah dari kiprah masing-masing.
Lesmana Mandrakumara
Yang pertama, Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Astina rezim Kurawa. Lesmana ialah anak pertama Duryudana dengan permaisuri Banowati. Sebagai anak raja, Lesmana menikmati hidup yang berlimpah kemewahan.
Sejak kecil, ia banyak menghabiskan waktunya di lingkungan istana. Hari-harinya diisi untuk bersenang-senang, berfoya-foya. Keluarga memang memanjakannnya. Orangtuanya selalu memenuhi semua permintaannya sehingga Lesmana menjadi anak kolokan.
Dalam hal pendidikan, Lesmana dikenal sebagai anak yang tidak suka belajar. Semula, sang ayah mengira kemalasan putranya itu disebabkan persoalan guru. Karena itu, berulang kali guru diganti. Namun, meski telah gonta-ganti guru, Lesmana tetap saja tidak tertarik bersekolah.
Dalam bidang spiritual, Lesmana juga lemah. Ia selalu menolak bila dilatih menjalani laku prihatin oleh Resi Durna. Salah satu alasannya yang mendasar ialah tidak kuat menahan lapar dan haus.
Pada akhirnya, Lesmana menjadi generasi rapuh, tidak memiliki jati diri. Ia penakut sehingga ke mana-mana minta ditemani. Dewasanya, Lesmana selalu kalah dalam setiap kompetisi yang diikuti.
Misalnya, dalam hal asmara, ia tiga kali gagal. Ketika kepincut Titirasi, ia kalah bersaing dengan Irawan. Saat jatuh cinta kepada Siti Sendari, ia kalah cepat dari Abimanyu. Lesmana juga kalah bersaing dengan Gathotkaca dalam memperebutan cinta Pergiwa.
Akhir kisahnya, Lesmana tewas di tegal Kurusetra dalam Perang Bharatayuda di tangan Abimanyu. Sebelumnya, ia juga kalah berkompetisi dengan Abimanyu dalam perburuan Wahyu Cakraningrat.
Samba Wisnubrata
Yang kedua ialah Samba alias Wisnubrata. Ia putra Raja Dwarawati, Prabu Sri Bhatara Kresna, dengan permaisuri Jembawati. Samba memiliki empat saudara dari ibu yang berbeda.
Samba digambarkan sebagai sosok yang sopan dan santun, tingkah laku dan tutur katanya pun halus. Hanya agak gembagus (sok ganteng), terutama di depan perempuan. Mungkin karena merasa berparas tampan.
Kresna selalu meminta Samba ikut serta dalam urusan kenegaraan. Dalam beberapa kesempatan, Samba malah diberi kewenangan memegang kendali pemerintahan manakala sang ayah sedang melakukan kunjungan ke negara lain atau menjalankan tugasnya sebagai titisan Bhatara Wisnu.
Kebijakan Kresna yang demikian itu dalam rangka mempersiapkan Samba sebagai ‘wong agung’. Kesatria yang tinggal di Parang Garuda itu memang digadang-gadang menjadi raja di Dwarawati nantinya.Samba sendiri sadar akan masa depannya. Karena itu, ia pun banyak belajar dari ayahnya, baik dalam ilmu ketatanegaraan maupun kebatinan. Laku prihatin pun kerap dijalani untuk mengasah jiwa religiositasnya.
Suatu ketika, Kresna memerintahkannya bertapa di Hutan Krendawahana untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Konon, siapa yang mendapatkannya bakal menjadi raja gung binathara, semulia dewa. Samba berhasil menjadi rumah wahyu tersebut. Namun, karena tiba-tiba muncul sikap sombongnya, wahyu keluar dari wadaknya. Sikap tidak simpatik itu digambarkan dengan perilakunya yang tidak tahan menghadapi godaan perempuan dalam perjalanan pulang.
Akhir riwayatnya, Samba tewas dipersekusi Sitija alias Boma Narakasura. Ini gara-gara ia berselingkuh dengan kakak iparnya, Dewi Hagnyanawati, yang adalah istri Sitija.
Abimanyu
Yang ketiga ialah Abimanyu, putra Arjuna dengan Dewi Sembadra. Kesatria yang juga bernama Angkawijaya, alias Jaka Pengalasan, itu mempunyai 13 saudara lain ibu. Ia tinggal di Kesatrian Plangkawati. Menurut kisahnya, Abimanyu merupakan titah kekasih dewa. Ketika masih dalam kandungan, ia telah mendapat Wahyu Hidayat, yang menjadikannya mengerti atau tahu dalam segala hal.
Seperti bapaknya, meski jarang bertemu, Abimanyu mewarisi kemahiran berperang, terutama menggunakan jemparing dan senjata keris. Ia juga sosok mandiri, pembelajar, dan berlatih keras dalam ilmu kanuragan. Abimanyu juga suka laku prihatin. Keluar-masuk hutan dan naik-turun gunung untuk mahas ing asemun (bertapa) dengan berharap anugerah dari dewa. Pun ia tekun menimba ngelmu dari kakek buyutnya, Begawan Abiyasa, di Pertapaan Saptaarga.
Abimanyu digambarkan rendah hati, tingkah lakunya halus, bertanggung jawab, dan pemberani. Di sisi lain, ia memiliki watak keras seperti uwaknya, Raja Mandura Prabu Balarama, alias Baladewa. Salah satu puncak perjuangannya ialah ketika ia berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat atau Wahyu Kanarendran. Ia unggul atas dua kompetitornya, yakni Lesmana Mandrakumara dan Samba Wisnubrata.
Kodratnya, Abimanyu belum sampai menjadi raja. Ia gugur sebagai kusuma bangsa di medan laga Bharatayuda. Abimanyu menurunkan seorang putra dari istrinya, Dewi Utari, yang diberi nama Parikesit. Putranya itulah yang kelak menjadi raja besar di Negara Yawastina.
Unggul persaingan
Cerita tiga sosok ini jelas menggambarkan perbedaan di antara mereka. Lesmana merupakan kisah generasi muda yang malas dan menikmati kekuasaan dan kekayaan orangtuanya. Usia mudanya ia gunakan untuk bersenang-senang sehingga lupa masa depannya.
Samba ialah tipe pemuda yang cakap dan cepat belajar serta telah mempersiapkan diri masa depannya. Namun, ia memiliki ego yang kadang-kadang tidak terkontrol sehingga mudah tergelincir karenanya.
Abimanyu ialah sosok yang suka menjalani hidup dengan spirit prihatin. Itu lambang bahwa hidup itu perjuangan. Mendapatkan kemuliaan hidup harus lewat perjuangan. Perlu mempersiapkan diri secara lahir dan batin agar bisa unggul dalam persaingan. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved