Leburnya Seni dalam Wave of Tomorrow

Despian Nurhidayat despian@mediaindonesia.com
28/10/2018 06:00
Leburnya Seni dalam Wave of Tomorrow
(MI / DESPIAN NURHIDAYAT)

Festival ini memusatkan perhatian pada para seniman lokal maupun internasional yang berani untuk menantang disiplin seni, teknologi, dan musik dengan cerita.

APA yang terjadi bila sebuah instalasi seni yang biasanya berupa sebuah patung atau bahkan lukisan berubah total dalam bentuk modern dan memiliki genre baru. Wave of Tomorrow merupakan jawaban atas dasar pertanyaan tersebut. Sebuah karya seni berbasis teknologi hadir memenuhi ruangan The Tribrata Grand Ballroom, Jakarta selatan. Mengusung tema Batas, instalasi yang terpampang dalam acara ini memang bisa membuat takjub para pengunjungnya.

"Wave of Tomorrow merupakan sebuah platform baru yang menghadirkan seni berbasis teknologi sebagai sajian utamanya. Lalu, setiap harinya akan ada penampilan dari musisi ternama, yang akan membuat festival seni teknologi ini lebih menarik dan sayang untuk dilewatkan," ungkap konsultan seni untuk Wave of Tomorrow, Maharani dari Bale Project.

Festival ini memusatkan perhatian pada para seniman lokal maupun internasional yang berani untuk menantang disiplin seni, teknologi, dan musik dengan cerita, instalasi, dan suara. Menggunakan disiplin ini sebagai dasar untuk karya mereka, para seniman diberikan sebuah kebebasan untuk menantang batas, mendorong semua sekat, melawan logika manusia, dan membuat gelombang baru dalam kesenian.

Festival yang berlangsung sepuluh hari hingga 28 Oktober 2018 akan memanjakan pengunjung. Mereka akan dimanjakan oleh instalasi berbasis teknologi karya kreator kenamaan Indonesia, seperti Sembilan Matahari, Kinara Darma, Maika Collective, Ageless Galaxy, Rebellionik, Stereoflow, serta seniman besar asal Prancis Nonotak. Total instalasi yang ada dalam acara ini berjumlah sembilan.

Pertama kali masuk dalam gedung Tribrata, pengunjung akan memasuki sebuah terowongan yang diciptakan oleh Sembilan Matahari. Terowongan ini diberi judul The Tunel, terowongan yang dimaksudkan di sini ialah sebuah dinding yang memiliki visual berupa gambar yang dipancarkan melalui proyektor yang membuat pengunjung seakan berada ruang tak terbatas, padahal ia sedang berdiri dalam ruang terbatas.

Lainnya, Sembilan Matahari memiliki dua instalasi lagi yang lebih menarik dan juga menghadirkan decak kagum dari para pengunjung. Constellation Neverland yang terdiri atas sekelompok awan buatan dan tali yang terbang sehingga meniru suasana hujan, salju, dan petir. Ada pula Immersive yang memburamkan batas realita dengan menggabungkan dunia virtual yang dibuat oleh Sembilan Matahari. Instalasi ini berupa sebuah visual tiga bidang interaktif yang akan merespons ketika pengunjung bergerak di dalamnya.

"Wadah bagi kreator new media art berbasis teknologi seperti Wave of Tomorrow memang masih sedikit di Indonesia. Dengan adanya platform sebesar Wave of Tomorrow, kami sebagai kreator merasa sangat diapresiasi dan senang bisa menjadi bagian dari festival seni teknologi ini. Kami membuat instalasi ini dari hati kami dengan sebuah misi yang besar untuk para pengunjung," ungkap Founder Sembilan Matahari, Adi Panuntun.

Ageless Galaxy

Selanjutnya, ada instalasi Ageless Galaxy yang menghadirkan instalasi berupa sebuah ruang yang berisikan asteroid dan pesawat ruang angkasa yang diberi judul Planet Infinity. Instalasi ini sangat unik karena terdapat batu asteroid yang memiliki lampu dan sebuah kotak kaca yang apabila kita sentuh kotak tersebut, lampu di sekitar batu akan menyala, dan memberikan bunyi yang berbeda di setiap batunya.

Berada di sebelah intalasi Ageless Galaxy, Maika Collective Studio pun hadir dengan Maika Tribe yang berupa tiga ruang berbeda yang berada dalam sebuah ruangan dari plastik. Ruangan pertama berupa sebuah kotak yang terdiri atas lampu yang menyala bergantian, lalu ruangan kedua berupa sebuah microphone yang menggantung dengan layar di depan yang bisa merefleksikan suara yang kita keluarkan yang memengaruhi cahaya dan gambar dari layar didepan. Ruangan ketiga berupa layar yang memperlihatkan diri para pengunjung dan menjadi simbol refleksi diri.

Nonotak sendiri menghadirkan sebuah instalasi cahaya dengan sebuah dentuman musik. Cahaya yang dihasilkan dari proyektor akan terpantul kepada pengunjung dalam instalasi ini, dan cahaya itu mengikuti dentuman musik yang sedang berlangsung. Cahaya dan musik menjadi selaras menjadi sebuah bentuk yang luar biasa dan sangat menarik.

Kinara Darma berkolaborasi dengan Modulight menghadirkan instalasi Voice from the Other Side. Instalasi ini berupa sebuah gabungan dari lima elemen, yaitu kata, visual, cahaya, proyeksi, dan interaktivitas dalam teknologi. Pengunjung akan membaca sebuah kata-kata yang berada di dinding dan memiliki perspektif berbeda ketika sedang dibacakan. Kata-kata ini pada awalnya berjalan dari arah atas menuju bawah dengan prespektif negatif dalam pembacaannya, juga disertai dengan musik yang membuat suasana menjadi negatif. Ketika berlangsung sebaliknya, prespektif yang tadi malah berubah menjadi positif dan penuh dengan rasa optimistis.

Wave of Tomorrow merupakan sebuah bentuk berbeda dari sebuah instalasi yang menunjukkan diri sebagai new media art berbasis teknologi. Sebuah instalasi yang penuh dengan modernitas dan membebaskan setiap kreatornya untuk melepas sebuah batas, batas yang mengikat sebuah kesenian sehingga menjadi sesuatu hal baru di Indonesia. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya