Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KERANJANG-KERANJANG sayur dari anyaman bambu menggelinding, berpindah dari tangan, lalu mengurung kepala, hingga dijunjung tangan. Wong Peken, menjadi pentas pembuka dalam Festival Bebas Batas, sekaligus mengawali kita menyusur karya-karya para difabel. Dalam pentas tari Wong Peken pun, hadir seorang penari tanpa satu kaki, dan ia begitu berenergi di atas panggung dengan tongkat bantunya.
Warna-warna pop menyambut mata, di antara rapatnya motif yang terbangun. Seperti parade karnaval yang berhambur di jalanan kota. Binatang-binatang saling bersua dan tertaut. Kerapatan ruang dan warna terang seakan menjadi ciri yang lahir dari seniman Jepang Sato Akemi. Sementara, di ruang lain, semburat kembang api muncul dari tekanan tebal, dengan satu warna solid. Kimura Akane menciptakan imaji kembang api dari sapuan tinta pena. Semburat merah, biru, dan hitam, tampak seperti tangkapan bentuk letupan kembang api yang terpancar di udara. Di ruang lain, Hana Madness berkolaborasi bersama seniman Inggris Vacuum Cleaner memberi ruang pada kita, lewat tatanan rantai yang tergantung di samping tayangan video dokumenternya. Ia mendatangi salah seorang yang pernah menjadi korban pasung akibat penyakit mentalnya.
Dalam pameran Pokok di Ambang Batas, bagian dari Festival Bebas Batas ini tersaji karya-karya dari para seniman artbrut, atau seni liyan. Seni yang dihasilkan dari para individu yang memiliki permasalahan kesehatan mental, juga mengajak para penyandang disabilitas berkarya. Sebelum memajangnya di tiga ruang pamer Galeri Nasional, pameran yang juga digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini juga melakukan tur ke beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia.
Mereka mengajak para pasien untuk berkesenian, tanpa tekanan paksaan, atau bahkan teknik pengajaran sebelumnya. Maka yang menarik pula dari pameran ini ialah hasil karya dari para pasien yang ada di rumah sakit jiwa. Wajah-wajah manusia tampak mendominasi di beberapa karya yang lahir di RSJ. Meski demikian, ada pula tema subtil yang tampak memiliki pemaknaan batin. Seperti tampak dalam karya yang lahir dari RSJ Solo, karya dengan materi akrilik di atas kanvas bermedium 70 x 90 sentimeter itu memvisualkan komposisi warna biru luas dengan corak lekuk garis putih, lalu di atasnya menyambung suatu lanskap cokelat kejinggaan, disusul kuning, putih, lalu biru lagi. Di pojok kiri atas, ada bundar jingga mengintip. Sementara ornamen yang membentuk serupa gunung itu, namun juga tampak seperti pohon natal hijau-merah, juga bintang di pucuknya, ini seperti suatu koneksi batin manusia dengan keilahiannya.
"Membaca karya ODGJ dengan menanggalkan stigma dan prasangka terlebih dahulu senyatanya dapat memberikan kejutan. Tanpa keduanya, karya yang tampak janggal menunjukkan kejujuran untuk tidak mencanggih-canggihkan bentuk. Tanpa stigma dan prasangka, karya-karya tersebut menghadirkan aneka bentuk respons ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) yang sesungguhnya terhadap situasi di sekitar proses penciptaan. Tanpa keduanya, kita dapat lebih berlaku adil dalam mengapresiasi ekspresi para ODGJ seperti halnya mengapresiasi ekspresi sesama manusia," kata asisten kurator Hendromasto Prasetyo.
Seni Nirbatas
Festival Bebas Batas menjadi peluang lewat seni untuk mengajak masyarakat melihat lebih dekat para ODGJ, juga para difabel. Selama ini, mungkin tatanan sosial kita mendesak untuk selalu mengasingkan para individu ODGJ, yang dianggap tidak waras, bebas tanggung jawab, dan seabrek stigma-stigma miring lain.
Lewat pameran Pokok di Ambang Batas, tentu seni meneguhkan posisinya sebagai suatu yang nirbatas. Ia cair merupa ekspresi dan menyelidik latar belakang mereka menjadi suatu yang tidak perlu ruang mayor pembicaraan.
"Jika menilik karya-karya mereka, latar belakang menjadi tidak penting, yang utama ialah apa yang mereka ekspresikan, melalui kekuatan bentuk, teknik, dan simbolnya. Berbicara simbol ini menarik, pada karya-karya dalam pameran ini fungsi simbol bukan sekadar sebagai hasil dari pencapaian atau gagasan artistik, melainkan lebih dari itu ia berfungsi sebagai pintu masuk untuk memahami orang-orang yang memiliki 'kemampuan berbeda(difabilitas),' dan 'perbedaan interaksi dengan lingkungan dan masyarakatnya (disabilitas).' Sebuah kekeliruan besar jika masyarakat masih melihat mereka sebagai orang dengan kekurangan," ungkap kurator Sudjud Dartanto.
Lalu, kini kita mungkin patut memaknai kembali 'gila' sebagai sesuatu gejala yang kita takuti selama ini, kita yang mengasingkannya dalam jerat dingin 'pasung' dan saatnya menyubstitusinya dengan pelukan erat kasih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved