Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah gelinya kita menyimak kelucuan rupa kartun rupanya ada kesedihan. Kesedihan itu berasal dari kebenaran yang tampak beririsan antara tragedi faktual politik dan ironi sosial masyarakat.
Mari mulai dari seorang Tommy Thomdean, ia menjejerkan kartun-kartunnya tampak lucu, selucu saat kita 'mengudap' isi berita yang tengah berseliweran.
Seperti jenderal kardus, misalnya. Lewat dua karya yang diberi judul Jagoan Nomor 1 dan Jagoan Nomor 2, ia seolah langsung memanggil kembali memori kita beberapa waktu lalu, saat ramai-ramai salah satu tokoh calon presiden disebut sebagai jenderal kardus. Thomdean, mewujudkan jenderal itu dengan celana loreng, berkepala kardus, dan tinju yang mengepal ke atas. Sementara itu, yang berjudul Jagoan Nomor 1, seorang mengenakan helm, kewalahan mengangkat tinjunya. Kita selalu menemukan ruang riang dari gambar kartun, yang diperas dari ketegangan suasana.
Pria peraih penghargaan Adinegoro 2017 untuk kategori kartun editorial itu tampak eksploratif sekali mengacak-acak gagasan pemilu. Ia membawa konsep tujuh jurus mabuk pilkada, lewat tujuh panel komikalnya. Thom menggambarkan 'tutorial' untuk calon yang akan maju dalam pemilu agar mengikuti langkah yang dianjurkannya, berfoto dengan para tokoh untuk dijadikan alat kampanye, mendekati pemodal dan tukar guling kepentingan, kontrol media, dan serangan fajar. Dengan kehadiran karya jasa pengganda suara, Thom lagi-lagi ingin memperlihatkan corak komedinya, sekaligus kritik terhadap praktik demokrasi kita saat ini.
"Kartun merangsang orang berpikir, mencari tahu masalah, menghibur, dan meredakan ketegangan," kata Thom.
Mungkin benar yang ia katakan, kartun menjadi suatu cara kita berhibur diri, rileks dari ketegangan suasana politik, dan sebenarnya, untuk merangsang cara berpikir kita, mencari tahu masalah. Meminjam istilah Putu Wijaya, tertawa dan komedi hanyalah sebagai jembatan.
Senada Thomdean, Didie SW juga tampak menyegarkan tawa kita. Dia melihat fenomena korupsi berjemaah para anggota dewan. Didie dengan cerdiknya memberi aksen dalam goresannya, kalimat pertanyaan "yang ukuran XL mana?" saat para anggota dewan itu tengah diberi rompi oranye. Suatu cermin tak tahu malu, atau boleh dibilang, ironi yang perlu kita tertawakan?
Bergeser ke coretan milik Beng Rahadian, kita boleh saja disuguhi kenikmatan menjelajah layar virtual. Seorang berpeci putih, baju koko, lengkap dengan sarungnya, tengah menengadah tangan. Bersila di atas sajadah layar ponsel dengan gambaran berbagai aplikasi media sosial. Betapa menyentil keadaan masyarakat kita yang selalu menunjukkan kereligiusan di hadapan publik. Mungkin saja lewat karya berdimensi 38 x 46 sentimeter berjudul Spiritualismilenial ini, Beng menangkap kelucuan hidup.
Elegi tawa
Enam kartunis, Tommy Thomdean, Rahardi Handining, Muhammad 'Mice' Mirsad, Didie SW, Beng Rahadian, dan Ika W. Burhan berbagi ruang dalam pameran Kartun Berbisik di Bentara Budaya Jakarta. Topik yang disuguhkan dan gaya di antara masing-masing boleh saja berbeda.
"Tidak semua kartunis itu sama. Bahkan, ketika berganti media, mereka sendiri berubah. Mereka yang berpameran di sini, meski sama-sama kartunis memberi tekanannya masing-masing atas bidang yang mereka geluti itu," kata Seno Gumira Ajidarma.
Di sudut lain, Ika menggambar fenomena keseharian yang berisikan dengan ironi. Sebut saja saat ia menghasilkan 'fake' suatu keluarga yang tengah berbagi makan. Ika memberi kontras ketika kedua anak tak diberi topeng dan tertawa dengan ekspresi riilnya, justru sang bapak dan ibu harus mengenakan topeng senyumnya, untuk menutupi ekspresi sesungguhnya yang tengah dirasakan.
Ketika Ika menggambar kebrutalan yang terjadi di gerbong wanita kereta listrik. Ia seolah mengidentifikasi karakter para manusia urban dan sub-urbannya lewat tiga panel gerbong. Ponsel selalu jadi alasan manusia untuk tidak bercakap, sibuk dengan layar mereka sehingga kadang lupa dengan kondisi sekitar. Bahkan, kebrutalan terjadi ketika rebutan kursi duduk. Ika memang sepertinya menjauhi isu politik. Ia lebih suka dengan detail kecil dari pengamatan matanya. Menangkap momen yang baginya 'lucu' untuk dikartunkan, meski tak bisa mengelak, ada suatu kesedihan dari senyum dan tawa yang kita hasilkan.
"Kartun saya jauh dari nuansa politis, lebih sosial, tentang lingkungan, apa pun yang tertangkap mata, dikemas tidak kentara," katanya.
Bisikan itu bisa saja kemudian bertransformasi menjadi kebisingan. Menggemakan tawa yang diam-diam menyimpan kesedihan. Bukankah tawa hanya sebagai jembatan, untuk kita menjadi lebih peka terhadap kondisi masyarakat kita saat ini? Kita boleh melucui korupsi berjemaah atau hoaks yang berakibat bencana. Namun, bukankah itu juga suatu ironi yang melukai kita? (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved