Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRIA dengan jersey merah dan celana hitam itu sujud syukur setelah berhasil menggapai pita yang dibentang di bawah gerbang bertuliskan finis. Saat bangun dari sujud tampak senyum puas mengembang di wajahnya.
Hadi Firmansyah, demikian namanya, memang pantas bangga. Pria asal Singosari, Malang ini berhasil naik podium Bromo Marathon 2018 setelah menuntaskan lari 42 kilometer dalam waktu 3 jam 59 menit 31 detik.
Terlebih, perjuangannya tidak ringan. Pria berusia 32 tahun itu beberapa kali mengalami kram kaki, termasuk setelah finis.
Ajang lari yang digelar sejak 2013 ini memang menawarkan jalur menantang. Memiliki rute berbeda setiap tahun, kali ini rute naik turun diketinggian 1.300 mdpl hingga 2.400 mdpl.
Tantangan rite itu pula yang membuat Hadi yang telah lima kali ikut serta, kembali ke ajang yang sama. Pria yang sudah langganan juara di berbagai ajang lari ini pun mengaku demi menjadi juara Bromo Marathon tahun ini, ia sampai berpindah nomor keikutsertaan.
"Awalnya, saya ingin mengikuti lomba di nomor 21 kilometer tetapi ada dua peserta asal Kenya turun nomor itu. Saya lalu mendaftar di nomor lari 42 kilometer," tuturnya kepada Media Indonesia seusai lomba yang berlangsung Minggu, (23/9).
Pilihannya tidak salah. Dengan kedisiplinan mengatur tempo (pace), lari ia berhasil menjadi juara 1. Di sisi lain, Hadi mengaku jika ambil bagian Bromo Marathon sesungguhnya bukan saja soal penuntasan ambisi menjadi yang tercepat, melainkan juga berlari sambil menikmati keindahan alam.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, keindahan Bromo memang sudah kesohor sejak dulu. Lewat berlari, sensasi menikmati keindahan itu jadi terasa berbeda. Bagi para pelari, pemandangan indah pun ibarat senandung yang terus menyemangati mengayuh kaki tanpa bosan.
"Trek sangat menatang, 5 km terakhir jalannya menanjak, pemandangan sangat bagus jadi selama berlari tidak bosan. Berbeda ketika mengikuti lomba lari di kota," ujar Hadi.
Bagi sebagian peserta, kenikmatan berlari di antara keindahan alam Bromo justru jadi daya tarik yang utama. Sementara itu, soal adu cepat menjadi hal kesekian.
Ini pula yang diakui Syukur. Meski sudah berusia 60 tahun ia tetap bersemangat mengikuti maraton dan Bromo Marathon berada di daftar event lari teratasnya.
"Saya hanya menyalurkan hobi untuk ikut ajang maraton, event Bromo Marathon ini yang masuk list ajang yang sangat saya nanti," tuturnya.
Sepanjang jalan ia menikmati keindahan bromo. Apalagi di usia senja, ia hanya fokus dalam menjaga kesehatan dengan mengikuti maraton.
"Ini hobi biar sehat terus, sudah pernah mengikuti event marathon sebanyak 15 kali," kata Syukur yang terdaftar di kelas 10 kilometer.
Bukan hanya warga Indonesia, Bromo Marathon mampu menarik pelari dari 30 negara lainnya. Salah satunya Franky, pria asal Prancis yang mengaku ambil bagian karena pesona alam Bromo
"Amazing, bagus banget pemandangannya. Treknya juga sangat menantang," sebutnya.
Salah satu rute yang menawarkan pemandangan Gunung Bromo ialah jalur Desa Pakis Bincil atau kaldera Gunung Bromo. "Di atas keren, pemandangan dari atas gunung cakep," lanjutnya, dengan bahasa Inggris bercampur Indonesia.
Tak dimungkiri, hampir semua peserta membawa gawai dan memanfaatkan keindahan panorama Gunung Bromo untuk berswafoto saat melintasi rute yang spektakuler itu.
Rute berbeda
Panitia Pelaksana Bromo Marathon, Sutiyono, mengatakan jika tahun lalu lomba digelar di jalur Tosari bagian barat, saat ini dipilih Tosari bagian timur.
"Yang menarik adalah rutenya kita buat menantang, melewati tanjakan-tanjakan, bukit-bukit, karena itu permintaan dari para peserta tahun-tahun sebelumnya agar dibuat lebih menantang,” sebutnya.
Bromo Maraton juga memberikan keanekaragaman medan jalan yang menantang dikombinasikan dengan keunikan desa di sekitar Bromo yang mayoritas dihuni suku Tengger.
Peserta mengitari beberapa desa di sepanjang pegunungan Tengger dengan sajian panorama yang indah, tentunya, pemandangan hamparan pasir dan lanskap Gunung Bromo. "Setelah start di Teras Bromo, mereka akan memasuki trek lahan pertanian mulai dari sedikit mendaki ke atas sampai ke Desa Kandangan," tambahnya.
Pada nomor half marathon, pelari menempuh rute jalan beraspal dan separuh jalur tanah, tempat bukit berketinggian antara 1.900-2.400 meter, sedangkan di nomor 10K, pelari menikmati lanskap pemandangan beberapa bukit di sepanjang jalan dengan ketinggian bervariasi dari 1.700-1.975 meter.
Penyelenggaraan Bromo Marathon 2018 juga kembali dengan kolaborasi bersama Plataran Group. Kali ini acara tahunan Pemerintah Kabupaten Pasuruan itu memilih Plataran Bromo, yaitu resor terbaru milik Plataran Group yang baru saja dibuka pertengahan April lalu sebagai lokasi resmi Bromo Marathon.
Plataran Bromo pun menyiapkan konsep acara hiburan yang segar bertajuk Bromo Xtravaganza. Acara itu disemarakkan dengan kontes komunitas jip, kompetisi band, festival seni dan budaya, festival kuliner, dan diakhiri dengan penampilan band Andra and The Backbone.
CEO Plataran Bromo Indonesia, Yozua Makes, menyebutkan pihaknya berkolaborasi dengan pemerintah setempat guna meningkatkan kunjungan pariwisata Bromo dan mempromosikan potensi wisata lainnya.
"Jadi Bromo itu bukan hanya lihat Gunung Bromo, tetapi menikmati kegembiraan. Bromo is more Bromo, tidak cuma penanjakan, ada trek-treknya, bukit-bukitnya yang bisa dinikmati. Ada festival band, ada juga wisata budaya suku Tengger, dan wisata alam lain," tandasnya. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved