Menyesap Ramahnya Kopi Uthek

(*/M-1)
30/9/2018 04:50
Menyesap Ramahnya Kopi Uthek
(MI/FATHURROZAK)

SEBELUM bertandang ke Jazz Ijen, rombongan tur wisata Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata singgah di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Bertepatan dengan Festival Banyuwangi, rupanya di Desa lereng Ijen ini juga punya perayaan sendiri. Mereka seolah berpesta merayakan keguyuban khas kampung.

Di sini kami membaur dengan warga dan mencicipi Kopi Uthek. Untuk menikmati Kopi Uthek, teman sejatinya ialah gula jawa. Gula jawa telah menjadi potongan kecil-kecil, seperti dadu, untuk kita gigit, sebelum akhirnya disempurnakan dengan menyesap kopi. Seketika seperti menyesap keramahan warga Banjar, dalam satu sesapan Kopi Uthek. Barong Prejeng yang tengah tampil di hadapan kami pun semakin semarak mengikuti tetabuhan.

Untuk menemani Kopi Uthek, kami disajikan Gerubi. Pangan lokal yang terbuat dari singkong dicacak lalu dikukus, dan diberi gula jawa. Gurih dan tak terlalu bikin seret saat menyantapnya. Kuliner khas lain ialah Sego Lemeng. Berbentuk seperti lontong, nasi digulung dengan daun pisang dan memiliki isian suwiran daging ayam, diolah dengan dibakar di dalam bilah bambu. Saat menyantapnya, saya agak menemukan citarasa lemper saat menggigitnya.

Kini, Desa Banjar tengah memproyeksikan gelaran perayaan tiap pekannya. Saat kami mampir ke sana, kebetulan sedang ada Ngopi Uthek Weekend Banjar. Selanjutnya, akan digilir berganti tema. Dalam kesempatan lain, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyebut perlunya mempertahankan budaya. "Banyuwangi boleh terus berkembang, jadi smart kampung, dan menyambung dengan dunia, meski demikian kebudayaan tidak boleh tersingkir, harus terus tumbuh di masyarakat Banyuwangi."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya