Palet Nirwana Banyuwangi

Fathurrozak
30/9/2018 04:45
Palet Nirwana Banyuwangi
(MI/FATHURROZAK)

BERKUNJUNG ke kabupaten yang identik dengan 'blue fire' di Gunung Ijen ini serasa mengunjungi nirwana tak ada ujung. Kabupaten Banyuwangi, selain punya tari Gandrung dan Festival Banyuwangi yang juga menjadikannya kabupaten dengan beragam festival ini punya destinasi alternatif yang patut kita kunjungi, untuk menikmati palet-palet multiwarna surga.

Pesona Pantai Santen  

Dimulai dengan mengejar matahari pagi, kaki melangkah ke Pantai Santen, Desa Karangharjo. Beruntung cuaca pagi itu cerah sehingga sorot kejinggaan mulai memancar dari horizon yang berbatas lanskap pegunungan.

Seusai langit subuh yang menggoreskan lembayung indigo, seiring pergerakan matahari, warna kuning kemerahan jingga memulas langit di atas laut. Nelayan mulai menarik jala yang beberapa saat sebelumnya mereka tebar.

Sungguh indah lanskap laut dengan gunung yang tampak menyatu, dan melihat dari kejauhan bundar matahari menaiki pucuk gunung. Kapal-kapal kecil juga mulai bergerak. Sebelum memasuki kawasan Pantai Santen, kita berjalan melewati jembatan di atas sungai dengan vegetasi bakau. Melihat burung kuntul berlarian di udara, saling berebut dengan warga yang tengah mencari kijing (sejenis kerang kecil) di sungai.

Bertemu hiu tutul di Bangsring

Berbicara biru laut di kabupaten paling ujung Jawa ini, kita bisa memilih semudah bermain cap cip cup. Di Bangsring, kita bisa menjumpai birunya air yang lagi-lagi dikelilingi pemandangan gunung. Di sini terdapat penangkaran ikan hiu tutul, kita bisa berenang bersama mereka. Untuk aktivitas bawah laut, Bangsring menjadi salah satu alternatif destinasi. Saya melihat para pengunjung tengah asyik ber-snorkeling, bermain dengan para ikan. Untuk snorkeling, kita harus menyeberang menggunakan perahu menuju rumah apung. Untuk menyeberang dengan perahu ke rumah apung cukup dengan Rp5.000, dan ber-snorkeling cukup Rp35 ribu.

Pantai yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tadinya bukanlah pilihan wisatawan. Bahkan, menurut salah satu penuturan warga yang tergabung dalam pengelolaan wisata lokal ini, butuh waktu hampir 10 tahun untuk menumbuhkan pohon-pohon agar bisa mengusir kepiting yang bisa mengusik ketenangan.

Baluran rasa Afrika

Bergeser mendekati Situbondo, kita bisa menikmati nuansa Afrika ala Jawa. Taman Nasional Baluran, yang merupakan kawasan rumah bagi para banteng, kerbau, rusa, monyet, bahkan merak ini juga menjadi andalan utama. Datang di saat September, kita akan menjumpai sabana yang gersang dan pohon meranggas sebab masih dalam musim kemarau.

"Bila ingin melihat sekumpulan binatang maka datang saat pagi hari sekira jam 06.00 pagi karena di jam itulah mereka datang untuk mencari makan," kata Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Marhen, Sabtu (22/9) saat mendampingi Media Indonesia dan rombongan Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata berkunjung ke Baluran.

Menurutnya, bila pengunjung senang menikmati suasana hijau rumput berkunjung pada Januari sampai April seusai musim penghujan. Namun, bila ingin berjemur, bisa datang saat Juni hingga November. "Bahkan pas musim hujan, layak datang ke sini," tambah Marhen.  

Di Baluran, ada dua titik utama, yakni Savana Bekol. Padang rumput dengan banyak pohon Bekol, untuk melihat beberapa satwa. Bila sedang singgah di sini, hati-hatilah pada beberapa monyet yang berkeliaran bebas. Jangan sekali-kali memberi makan mereka. Saat kami ke sini, hanya terlihat beberapa kawanan kerbau yang tengah berkubang di kolam lumpur, juga Ayam Hutan yang tengah melintas. Kami tidak menjumpai rusa maupun merak. Menelusur jalur lebih jauh, kami tiba pada titik yang disebut Savana Bama. Meski disebut sabana, titik ini sebenarnya merupakan pantai pasir putih dengan vegetasi pohon bakau. Di Pantai Bama, suasana lebih sejuk dan teduh sebab banyak pepohonan rindang menjadi payung. Pantai ini memiliki atmosfer meditatif. Bila kita mau menepi dari keriuhan pengunjung. Di sini disediakan perahu bagi yang ingin menyewa untuk berlayar.

Hutan De Djawatan nan Instagramable

Puas mengunjungi gradasi palet warna biru laut hingga cokelat sabana, Banyuwangi masih menyediakan palet warna lain yang patut dikunjungi. Kali ini, unsur hijau mendominasi. Kebutuhan eksistensi era sosial media kini menjadi salah satu pertimbangan wisatawan memilih lokasi pelesir.

Tetangga Pulau Dewata ini seolah juga membaca kebutuhan ini. Hadirnya Hutan De Djawatan di Benculuk, milik Perhutani untuk dijadikan tujuan wisata seolah langsung jadi primadona. Pohon Trembesi yang sudah berusia rata-rata 100 tahunan ini sangat pantas menyemat lokasi 'Instagramable.'

Kita bisa menyusuri jalan setapak, di antara rimbun hijau trembesi, mencari spot untuk menghasilkan komposisi foto yang mudah dicintai di platform sosial media. Mungkin, Anda yang menyukai bermain dengan cahaya, bila cuaca sedang cerah, datang sore hari menjadi tepat sebab cahaya masuk dari celah-celah rimbunnya pohon. Untuk semakin merasakan nuansa lawas, mungkin Anda juga patut menyewa andong berkeliling hutan seluas sekira 3,8 hektare.

Sayang, ada beberapa catatan di beberapa lokasi wisata yang kami kunjungi. Seperti di Pantai Santen, banyak sampah berserak. Ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi pengelola wisata, dinas pariwisata, dan tentunya pengunjung untuk memiliki kesadaran kebersihan. Di Baluran, tampaknya para penjaga juga perlu bersiaga sebab masih ada beberapa pengunjung yang mendekat ke kawasan sabana, meski telah ada larangan untuk tidak melintas dari batas yang telah ditentukan. Selain itu, banyaknya monyet yang berkeliaran harusnya memberi alarm waspada para pengunjung untuk berhati-hati dalam berkendara agar tidak mencederai Monyet, atau satwa lain yang melintas.

Sisanya, saya kagum pada bumi Banyuwangi yang memiliki sejuta palet warna untuk disebut sebagai nirwana tak ada ujung. (M-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya